Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Gunakan Kartu Huruf Pembelajaran ATG Membaca Meningkat

Gunakan Kartu Huruf Pembelajaran ATG Membaca Meningkat

322
Sudarni, S.Pd Guru SLB Negeri Karanganyar
Sudarni, S.Pd Guru SLB Negeri Karanganyar

Pola pembelajaran membaca yang terjadi dikelas kami selama ini kurang berhasil dengan baik, hal tersebut disebabkan kurang menariknya proses pembelajaran yang terjadi dikelas selama ini. Proses pembelajaran yang terjadi di kelas VC1 (tuna grahita ringan) semester II SLB Negeri Karanganyar TP 2018/2019 selama ini hanya monoton pada penggunaan papan tulis dan buku tulis saja, menyebabkan anak didik kurang memperhatikan materi yang disampaikan oleh guru. Murid-murid sering gaduh dan tidak tenang saat guru menerangkan materi pelajaran membaca.

Pembelajaran membaca secara umum pada sekolah reguler atau umum bisa berjalan dengan mudah dan lancar meskipun tidak terlalu banyak teknik dan metode pembelajaran yang digunakan karena mereka memiliki IQ normal atau diatas rata-rata. Tetapi berbeda dengan pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus, terutama bagi anak-anak tuna grahita (ATG), mereka secara umum merasa kesulitan jika dalam pembelajaran hanya menggunakan metode yang umum seperti disekolah reguler, untuk itu kami berusaha untuk meciptakan kondisi kelas yang menyenangkan dan menarik sehingga murid-murid mau belajar membaca dengan mudah sehingga pembelajaran bisa berhasil dengan baik, menyenangkan dan hasilnya meningkat. Menurut saya pembelajaran dikelas saya yang kurang memuaskan itu disebabkan oleh adanya metode yang kurang tepat dalam pembelajaran. Hal tersebut membuat saya berfikir bagaimana agar pembelajaran membaca dikelas bisa berhasil dan meningkatkan. Untuk itu saya memutuskan untuk menggunakan metode yang berbeda dari sebelumnya. Kemudian saya menerapkan penggunaan kartu huruf untuk meningkatkan kemampuan membaca bagi anak tuna grahita dikelas saya.

Metode membaca dengan menerapkan penggunaan kartu huruf membuat anak lebih tertarik untuk memperhatikan materi yang disampaikan oleh guru, anak tidak terlalu gaduh dan bisa lebih tenang dan fokus dalam memperhatikan materi membaca dari guru. Teknik yang digunakan yaitu dengan cara, guru menulis kata dipapan tulis, anak disuruh maju untuk mengambil huruf yang sesuai dengan kata yang tertulis dipapan tulis, anak menyebutkan huruf yang diambil untuk dipasangkan dengan huruf lain sehingga bisa membentu kata seperti dipapan tulis, dan selanjutnya anak menyebutkan huruf dari kanan ke kiri serta mengeja kata dengan mudah dan benar. Bagi anak tuna grahita sedang (C1) belajar membaca sangat dibutuhkan kesabaran karena mereka mempunyai kemampuan dibawah rata-rata, sehingga untuk dapat membaca diperlukan waktu yang cukup lama. Bahkan sebelum membacapun anak harus bisa menghafal huruf terlebih dulu, dan untuk menghafal huruf juga diperlukan waktu yang sangat lama, bahkan tidak sedikit pula anak tuna grahita yang tidak mampu menghafalkan huruf, sehingga untuk membaca mereka banyak tidak mampu. Jika ada murid tuna grahita yang mampu menghafal huruf dan mampu membaca maka hal tersebut diperlukan waktu yang cukup lama. Adapun tahapan yang biasanya anak tuna grahita lakukan dalam membaca yaitu dengan menghafal huruf dulu, baru tahap berikutnya membaca mengeja dua huruf, tiga huruf dan seterusnya dan selanjutnya membaca kata, sehingga anak mampu membaca sesuai kemampuan anak masing-masing.

Penggunaan kartu huruf dalam belajar membaca memiliki daya tarik tersendiri bagi anak tuna grahita, sehingga anak menjadi lebih senang dalam belajar membaca. Bagi anak tuna grahita dalam pelaksanaan belajar selain belajar secara konvensional juga diperlukan pembelajaran yang lebih menyenangkan dan tidak membosankan sehingga guru dituntut agar menerapkan pembelajaran yang inovatif, kreatif dan menyenangkan.

Sudarni, S.Pd
Guru SLB Negeri Karanganyar