JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Terhitung sampai awal tahun 2026 ini sebanyak 47 satuan Penyelenggara Pendidikan Inklusif (SPPI) menggelar pelayanan pendidikan yang ramah siswa penyandang disabilitas. Sebanyak 19 SPPI di tingkat sekolah dasar dan menengah pertama sederajat berada di bawah koordinasi Dinas Pendidikan dan sisanya di Kementerian Agama.
Dalam kesempatan ini Bupati Semarang H Ngesti Nugraha menyampaikan akan memberikan beasiswa khusus bagi 1.384 peserta didik inklusif di tahun anggaran 2027.
Ketua Forum Pendidik Madrasah Inklusif Nasional, Supriono menjelaskan pihaknya sedang merintis pembentukan kelompok kerja pendidikan inklusif Kabupaten Semarang. Tujuannya sebagai organisasi penghubung antara kementerian, filantropi pendidikan, pegiat pendidikan inklusif, swasta dan pemangku kepentingan lainnya guna mendukung penyelenggaraan sekolah inklusif.
“Saat ini sedang proses penyelesaian dasar formalnya. Jika nanti terbentuk, ini yang pertama di tanah air,” ujarnya di sela-sela acara Gebyar Pendidikan Inklusif di Pandpaa Rumah Dinas Bupati Semarang di Ungaran, Sabtu (14/2/2026).
Acara diisi dengan penampilan para siswa sekolah inklusif terutama penyandang disabilitas dari berbagai sekolah dan madrasah di Kabupaten Semarang.
Supriono menambahkan rintisan pembentukan Pokja diawali dengan deklarasi dan penandatanganan komitmen mendukung penyelenggaraan sekolah inklusif bersama Bupati Semarang H Ngesti Nugraha.
Ikut serta perwakilan DPRD dan bunda inklusi Jateng Hj Ade Komaria Saiful Mujab, perwakilan perguruan tinggi, tokoh masyarakat dan lainnya. Dikukuhkan pula Hj Peni Yulianingsih Ngesti Nugraha sebagai Bunda Inklusi Kabupaten Semarang.
Bupati H Ngesti Nugraha saat sambutan menegaskan siap mendukung pendidikan inklusif. Bahkan dia merencanakan beasiswa khusus bagi 1.384 peserta didik inklusif pada tahun anggaran 2027.
“Anak-anak inklusif memiliki hak yang sama termasuk soal pendidikan,” tegasnya.
Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Semarang Ch Ratna Mindaryanti mengatakan pendidikan inklusif yang komprehensif sudah menjadi impian sejak lama.
“Pokja jadi langkah bagus mewujudkan pendidikan inklusif yang memadai,” pungkasnya. (muz)






