25 C
Semarang
Rabu, 4 Maret 2026

Terkendala Hujan, Jejaring Astronomi Santri Sukses Amati Gerhana Bulan Total 2026

JATENGPOS.CO.ID, SUKOHARJO – Fenomena langit langka Gerhana Bulan Total (GBT) yang jatuh pada pertengahan Ramadan, Selasa (3/3/2026), menjadi ajang pembuktian kekuatan jejaring astronomi pesantren.

Assalaam Observatory sukses bertindak sebagai host utama dalam siaran langsung pengamatan nasional bertajuk “Membedah Rahasia Ayat Kauniyah”.

Meskipun pusat kendali di Sukoharjo dan mayoritas titik observasi terkendala cuaca ekstrem, sinergi lintas lembaga ini tetap mampu menyuguhkan edukasi sains dan spiritual kepada masyarakat luas.

Pakar Astronomi Assalaam Observatory, AR Sugeng Riyadi, mengungkapkan bahwa tantangan utama pengamatan kali ini adalah hujan lebat dan mendung tebal yang merata di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Alhamdulillah acara lancar, meski Allah mentakdirkan hujan dari siang hingga saat ini belum reda di Sukoharjo. Laporan dari rekan-rekan di Ponorogo (Al-Islam), Gresik (Maskumambang), Klaten (An-Najah), dan Karanganyar (MTA) juga serupa, langit tertutup awan tebal,” jelas AR Sugeng Riyadi.

Namun, strategi sebaran enam titik observasi terbukti efektif sebagai solusi mitigasi cuaca. Saat wilayah lain “gelap”, Observatorium Pondok Tahfidz Yanbu’ul Qur’an Menawan, Kudus, berhasil menangkap visual fase totalitas melalui celah awan.

Baca juga:  Jet Militer Afghanistan Jatuh di Uzbekistan

Dokumentasi karya Ustadz Nur Sidqon pada pukul 18.49 WIB menjadi suguhan utama pemirsa, memperlihatkan bulan yang merona merah tembaga.

AR Sugeng Riyadi menjelaskan bahwa gerhana kali ini sangat unik karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Secara ilmiah, ia meluruskan persepsi awam mengenai waktu terjadinya purnama.

“Gerhana pasti terjadi saat purnama, tapi tidak semua purnama terjadi gerhana. Purnama sendiri tidak selalu jatuh pada tanggal 15, bisa tanggal 13 atau 14. Hal ini sejalan dengan anjuran Rasulullah untuk puasa Ayyamul Bidh (hari-hari putih) karena malam terasa terang benderang. Untuk malam ini, versi Muhammadiyah masuk malam ke-15, sementara pemerintah malam ke-14,” paparnya.

AR Sugeng juga menjelaskan secara sederhana bahwa fenomena ini terjadi karena posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus, sehingga Bulan masuk ke dalam bayang-bayang umbra Bumi.

Baca juga:  Gempa Turki 7,8 SR Renggut Lebih dari Seribu Jiwa

Di sisi lain, dimensi spiritual tetap menjadi ruh utama kegiatan. Sembari tim ahli memantau layar teleskop, ribuan jamaah melaksanakan Salat Gerhana (Khusuf) dengan khidmat di Masjid PPMI Assalaam.

Ibadah dipimpin oleh Ust. M. Faisal Rabbani, S.Pd. sebagai imam, dilanjutkan khutbah oleh Ust. Ammar Ali Shahbal, S.Ag. Agenda ini menegaskan bahwa astronomi di lingkungan pesantren bukan sekadar objek penelitian, melainkan sarana memperkuat iman.

“Ketika teleskop terhalang mendung, keyakinan kami melalui ilmu Hisab tetap teguh bahwa ayat Allah sedang bekerja di balik awan,” pesan yang tersirat dalam refleksi malam tersebut.

Keberhasilan koordinasi di bawah bendera Club Astronomi Santri Assalaam (CASA) ini menandai kemajuan signifikan dalam mengedukasi masyarakat mengenai fenomena langit, baik secara ilmiah maupun syar’i. (dea/rit)



TERKINI

Rekomendasi

...