JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Masyarakat Indonesia khususnya Kota Semarang pasti tidak akan melupakan kasus penembakan istri TNI di Kota Semarang dengan tersangka suaminya sendiri yakni Kopda Muslimin yang akhirnya memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri dirumah orang tuanya di Kendal. Kasus ini berhasil diungkap Tim Gabungan TNI-Polri yang berasal dari Satreskrim Polrestabes Semarang dan Kodim 0733/KS.
Semua personil yang terlibat waktu itu langsung diganjar penghargaan baik dari unsur TNI maupun Polri oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Dudung Abdurachman. Salah satu yang mendapat penghargaan waktu itu adalah Pasi Intel Kodim 0733/KS Mayor Inf Arief Rahman Hakim Wambrauw.
Bahkan beliau langsung mendapat atensi dari Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI During Abdurachman dengan ditawari pendidikan Sesko AD atau Sespim Polri dan juga tawaran pendidikan luar negeri.
Tidak banyak yang tahu siapa sosok sebenarnya Mayor Inf Arief, ia ternyata lulusan Akmil Tahun 2008. Baru menjabat sebagai Pasi Intel Kodim 0733/KS belum genap dua bulan, sebelumnya ia menjabat Wadanyon Raider 400/BR. Mayor Inf Arief merupakan pria keturunan Papua, kenapa keturunan karena ia tidak lahir di Papua. Ayahnya asli Papua yang merantau ke Jakarta. Disanalah Mayor Arief dilahirkan.
Darah Papua tidak hanya mengalir didarahnya, namun nama Papua pun melekat padanya yakni Wambrauw. Wambrauw sendiri merupakan salah satu marga di Papua, termasuk dalam marga kelas atas atau raja atau terpandang.
Mayor Arief seorang muslim, ia sangat religius. Bahkan ia seringkali melaksanakan puasa senin-kamis. Saat ini ia tinggal bersama istri dan tiga anaknya, istrinya ‘Ngapak’. Orang Purwokerto Jawa Tengah.
Mayor Arief mengaku saat pertama kali mencuat kasus Kopda Muslimin ia tidak pernah tidur, jarang dirumah dan tidak pernah dikantor. Hidupnya selama dua pekan ia habiskan dijalanan. Kesana kemari kerjaanya hanya mencari informasi.
Sayang sekali, meski perjuanganya berhasil akan tetapi endingnya kurang memuaskan karena Kopda Muslimin memilih bunuh diri, andai dia hidup tentu teka-teki sebenarnya tentang kasus ini tuntas 100%. Namun, ia bersyukur akhirnya ia bisa tidur lagi.
“Selama dua pekan ndak pernah tidur, ndak pernah di kantor, tapi alhamdulillah semua sudah selesai,” ungkap Mayor Inf Arief.
Berkaitan dengan penghargaan yang ia dapatkan dari Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Dudung Abdurachman menurutnya itu bukan tujuan. Katanya yang dapat juga banyak jadi bukan hanya dirinya saja. Tetapi ia bersyukur atas penghargaan itu, suatu kehormatan baginya diapresiasi pimpinan dan sosok yang ia teladani.
“Tujuannya kan bukan penghargaan namun alhamdulillah dapat apresiasi apalagi beliau adalah sosok yang kami banggakan. Pernah juga menjadi Kasdim di Kodim 0733/KS waktu itu Jenderal Dudung masih Mayor pangkatnya ,” pungkasnya.(akh)















