30.3 C
Semarang
Senin, 20 April 2026

Bangun Etika dan Keamanan Digital, Legislator Dorong Siswa Madrasah Cerdas di Dunia Maya




JATENGPOS.CO.ID,  WONOSOBO – Di tengah derasnya arus informasi dan kecanduan gawai di kalangan remaja, kalangan madrasah didorong menjadi pelopor etika dan keamanan digital. Hal ini mengemuka dalam seminar bertajuk “Membangun Etika dan Keamanan Siswa di Era Digital” yang digelar di Kabupaten Wonosobo, Rabu (10/10/2025).

Seminar yang diikuti ratusan pelajar madrasah se Wonosobo itu menghadirkan Wibowo Prasetyo, Anggota DPR RI Komisi VIII Fraksi PDI Perjuangan, serta Maslikhah, Wakil Dekan FITK UIN Salatiga. Acara ini menjadi ruang edukasi bagi siswa untuk memahami etika bermedia, tanggung jawab moral, serta ancaman keamanan di dunia maya yang semakin kompleks.

Dalam paparannya, Wibowo Prasetyo menekankan bahwa pelajar madrasah kini hidup di “dua dunia”, yakni dunia nyata dan dunia maya yang tidak bisa dipisahkan. Menurutnya, generasi muda harus dibekali kesadaran etika agar tidak tersesat dalam arus digital yang tanpa batas.

“Kalau di dunia nyata kita tahu mana jalan raya dan mana selokan, tapi di dunia digital batas itu seringkali kabur. Bukan karena niat jahat, tapi karena tidak paham etika dan tidak sadar bahayanya,” ujarnya.


Baca juga:  Curi Nangka Muda, Pencuri Dihajar Massa

Wibowo mengingatkan bahwa etika digital sejatinya adalah perpanjangan dari nilai adab dalam Islam. Seperti halnya sopan santun di madrasah, dunia maya pun memerlukan kesantunan. Ia mengajak para pelajar untuk berpikir keras sebelum mengunggah sesuatu: apakah kontennya benar, bermanfaat, dan beradab.

“Kalau tidak pantas diucapkan, ya jangan tulis di media sosial,. Maka kita mesti cerdas san bijak bermedia sosial” tegasnya.

Wibowo juga menyoroti pentingnya menjaga jejak digital. Setiap komentar, unggahan, atau foto yang tersebar bisa menjadi catatan permanen yang berdampak pada masa depan seseorang.

“Bisa jadi, kita gagal diterima kerja hanya karena jejak digitalnya buruk. Maka bijaklah sejak dini,” tutur politisi PDI Perjuangan dari Dapil VI Jawa Tengah tersebut.

Ia juga mengingatkan bahaya kecanduan digital yang membuat siswa kehilangan fokus belajar dan kedekatan sosial. “Gunakan gadget seperti pisau dapur, berguna kalau dipakai dengan benar, tapi berbahaya kalau digunakan sembarangan,” ujarnya, seraya mengajak peserta untuk sesekali melakukan “puasa digital” dengan menonaktifkan notifikasi dan menikmati dunia nyata.

Baca juga:  Program Pembangunan Daerah Diminta Transparan dan Akuntabel

Sementara itu, Wakil Dekan FITK UIN Salatiga Maslikhah menambahkan pentingnya menanamkan nilai-nilai Islam dalam aktivitas digital. Prinsip seperti tabayyun (memeriksa kebenaran berita), tawadhu’ (rendah hati), amanah (bertanggung jawab), dan ihsan (berbuat baik) menjadi bekal moral yang relevan di era media sosial.

Menurutnya, internet dapat menjadi ladang amal baru jika digunakan untuk berdakwah dan berbagi inspirasi positif.

“Banyak santri kini berdakwah lewat video singkat, menulis konten edukatif, dan membuat karya kreatif Islami. Satu postingan yang membuat orang berbuat baik bisa menjadi amal jariyah digital. Siswa madrasah juga bisa,” terang Maslikhah.

Di akhir sesi, Wibowo mengatakan dengan pesan inspiratif. “Teknologi itu netral. Yang membuatnya baik atau buruk adalah penggunanya,” tandasnya.

“Jadilah generasi madrasah yang tidak hanya melek digital, tapi juga melek hati. Gunakan jari kita untuk kebaikan, karena di setiap postingan, ada nilai kebaikan yang tercatat,” lanjutnya.

Kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari para siswa. Banyak peserta mengaku memperoleh wawasan baru tentang bagaimana menjadi pelajar yang cerdas, aman, dan beretika di dunia maya.




TERKINI




Rekomendasi

...