JATENGPOS.CO.ID, WONOSOBO — Guru madrasah didorong untuk tidak hanya melek digital, tetapi juga menghadirkan cinta dalam setiap proses belajar. Pesan ini disampaikan dalam seminar “Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Deep Learning di Madrasah” yang diselenggarakan Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI bekerja sama dengan UIN Walisongo, di Kabupaten Wonosobo, Rabu (15/10/2025). Hadir sebagai narasumber Wibowo Prasetyo, Anggota DPR RI Komisi VIII, dan Maslikhah, Wakil Dekan FTKI UIN Salatiga.
Keduanya menekankan bahwa di tengah derasnya arus teknologi, guru madrasah harus menjadi penjaga hati anak didik. Pendidikan berbasis cinta diyakini mampu menumbuhkan empati, menguatkan karakter, dan menjaga kemanusiaan di dunia yang makin dikuasai media sosial dan algoritma.
Dalam seminar yang diikuti ratusan guru madrasah tersebut, Wibowo menegaskan
bahwa guru madrasah memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan digital dan kehidupan batin anak-anak.
Menurutnya, dunia digital telah mengubah cara manusia berinteraksi dan belajar, tetapi guru madrasah tidak boleh kehilangan ruh kemanusiaan dalam mendidik.
“Sekarang hampir semua hal sudah digital, dari belajar, berdakwah, hingga berinteraksi sosial. Tapi jangan sampai hati kita kehilangan rasa. Sinyal boleh kuat, tapi hati jangan sampai terputus,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.
Ia menekankan bahwa tugas guru madrasah bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi menjaga kehidupan hati agar tidak mati rasa. Teknologi, katanya, hanyalah alat, sedangkan hati adalah pusat pendidikan itu sendiri. “Pendidikan tanpa cinta hanyalah pengajaran tanpa ruh,” cetus Wibowo disambut tepuk tangan peserta.
Ia menyitir data, jumlah ponsel aktif yang terhubung dengan internet sudah jauh lebih banyak dari jumlah penduduk Indonesia. Dengan penetrasi internet yang begitu masif, namun hubungan manusia justru makin renggang.
“Ibaratnya, siswa lebih sering menatap layar gadget daripada wajah gurunya. Mereka lebih hafal trending topic, FYP. Inilah tantangan kita semua,” tandas legislator Fraksi PDI Perjuangan dari Dapil VI Jawa Tengah ini.
Wibowo mengingatkan pentingnya menghadirkan pembelajaran yang berjiwa. “Kalimat sederhana seperti ‘Bagaimana kabar kalian hari ini?’ bisa lebih bermakna daripada ‘Kumpulkan tugas!’” ujarnya sambil tersenyum.
Sementara itu, Maslikhah menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) merupakan pendekatan pendidikan yang menempatkan cinta, empati, dan hubungan positif sebagai inti proses belajar.
“Cinta membuat pembelajaran bukan hanya membuat cerdas, tapi juga berjiwa,” katanya.
KBC, lanjutnya, menekankan pengembangan empati, kesadaran sosial, dan kreativitas siswa melalui pembelajaran yang holistik, berbasis proyek, dan berbasis pengalaman nyata. Pendekatan ini terbukti meningkatkan kesejahteraan emosional, motivasi belajar, serta kemampuan berpikir kritis dan kolaboratif.
Ia juga menekankan pentingnya metode diskusi kelompok, role-playing, dan proyek kolaboratif untuk menanamkan nilai empati dan kerja sama antarsiswa. Guru, jelasnya, dapat memadukan cara pembelajaran yang kreatif dan tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan. “Kecerdasan digital harus disertai kecerdasan hati,” tegasnya.
Dalam evaluasi, KBC mengedepankan penilaian autentik, refleksi, dan portofolio untuk menilai proses belajar siswa secara utuh. “Refleksi membantu siswa belajar dengan kesadaran, bukan sekadar kepatuhan,” ujar Maslikhah menambahkan.
Seminar yang menjadi bagian dari agenda reses DPR RI ini menegaskan kembali bahwa madrasah bukan sekadar tempat menanam ilmu, tetapi juga benteng kemanusiaan di tengah dunia yang kian canggih namun sering kehilangan kehangatan.
“Era digital menuntut kecepatan, tapi cinta mengajarkan kesabaran. Madrasah harus menjadi tempat ‘reboot hati’ agar cahaya cinta dalam pendidikan tak pernah padam,” pungkas Wibowo.






