25 C
Semarang
Sabtu, 28 Februari 2026

Perspektif Komparatif Pendidikan Singapura: Implikasi Pembelajaran Mendalam di Indonesia

Oleh: Siska Yuniyati, S. Pd., M. Pd*

JATENGPOS. CO. ID, SEMARANG- Singapura sering dijadikan rujukan dalam pengembangan pendidikan modern di Asia. Negara ini secara konsisten menempati peringkat atas dalam berbagai asesmen internasional seperti PISA dan TIMSS.

Keberhasilan tersebut bukan semata hasil dari kecanggihan teknologi atau besarnya anggaran pendidikan, melainkan hasil dari visi kebijakan yang jelas, konsistensi implementasi, dan fokus pada kualitas pembelajaran. Studi komparasi praktik pendidikan Singapura dengan Indonesia, memberikan pelajaran penting dalam mengembangkan pembelajaran mendalam (deep learning) yang relevan dengan tantangan abad ke-21.

Salah satu ciri utama pendidikan Singapura adalah orientasinya pada deep understanding. Kurikulum dirancang tidak padat materi, tetapi menekankan penguasaan konsep inti (core concepts) dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Prinsip Teach Less, Learn More (TLLM) menjadi fondasi kebijakan pendidikan sejak awal 2000-an. Guru didorong untuk meminimalisisr transfer konten dan memperdalam proses belajar melalui diskusi, pemecahan masalah, dan refleksi.

Sebaliknya, pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan padatnya kurikulum dan orientasi pada hasil kognitif dasar. Namun, melalui implementasi kurikulum merdeka saat ini, Indonesia mulai melakukan pergeseran paradigma. Implementasi deep learning telah menekankan pengembangan kompetensi esensial melalui pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan berpusat pada siswa. Penguatan dilakukan melalui pembelajaran inklusif dan kegiatan berbasis proyek yang memungkinkan siswa membangun pengetahuan secara aktif dan menerapkannya dalam situasi nyata.  Meskipun demikian, tantangan implementasi masih terasa, terutama dalam kesiapan guru, pemahaman konsep pembelajaran mendalam, serta keterbatasan pendampingan di lapangan.

Baca juga:  Ganjar Bersama Ustad Syihabudin Abdul Muiz Doakan Semeru

Studi komparasi dengan Singapura menunjukkan bahwa perubahan kurikulum perlu diiringi dengan perubahan paradigma mengajar dan belajar secara konsisten. Dari sisi peran guru, Singapura menempatkan guru sebagai designer of learning. Pendidikan dan pelatihan guru dilakukan secara berkelanjutan melalui National Institute of Education (NIE) yang terintegrasi dengan kebijakan nasional. Guru dilatih untuk merancang pembelajaran berbasis masalah, inkuiri, dan konteks nyata. Hal ini memungkinkan pembelajaran mendalam terjadi karena siswa aktif membangun pengetahuan melalui pengalaman belajar yang bermakna. Di Indonesia, penguatan kapasitas guru melalui komunitas belajar, pelatihan berkelanjutan, dan pendampingan implementatif menjadi kunci agar pembelajaran mendalam tidak berhenti pada tataran konsep.

Aspek asesmen menjadi pembeda penting lainnya. Singapura lebih menekankan asesmen formatif sebagai bagian dari proses belajar. Asesmen digunakan untuk memberikan umpan balik dan membantu siswa memahami kekuatan serta area yang perlu ditingkatkan. Praktik ini relevan dengan pembelajaran mendalam yang menempatkan asesmen sebagai bagian integral dari proses belajar. Indonesia, melalui Asesmen Nasional, telah mulai bergerak ke arah ini, namun masih memerlukan penguatan literasi asesmen di kalangan guru agar asesmen benar-benar dimanfaatkan untuk memperdalam pembelajaran.

Baca juga:  Rawa Pening Over Nutrient, Perum Jasa Tirta Tebar 50 Ribu Benih Ikan

Konteks budaya dan nilai juga menjadi pelajaran penting di Singapura. Pendidikan karakter, nilai kebangsaan, dan keterampilan abad ke-21 diintegrasikan secara eksplisit dalam kurikulum dan praktik pembelajaran. Di Indonesia, pembelajaran mendalam memiliki potensi besar ketika dipadukan dengan nilai-nilai lokal, kearifan budaya, dan 8 dimensi profil lulusan. Adaptasi praktik pendidikan Singapura tidak berarti meniru secara mentah, melainkan melakukan kontekstualisasi sesuai dengan keragaman sosial, budaya, dan geografis Indonesia.

Dengan demikian, studi komparasi pendidikan Singapura dan Indonesia menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam memerlukan ekosistem yang saling terhubung: kurikulum yang fokus pada konsep inti, guru yang profesional dan reflektif, asesmen yang mendukung proses belajar, serta kebijakan yang konsisten. Singapura memberikan contoh bagaimana visi pembelajaran mendalam dapat diterjemahkan ke dalam praktik nyata. Tantangan Indonesia ke depan adalah memastikan bahwa transformasi pendidikan yang sedang berlangsung benar-benar menyentuh pengalaman belajar siswa. Adaptasi dari praktik Singapura, dipadukan dengan karakteristik lokal Indonesia, dapat menjadi langkah strategis untuk membangun pendidikan yang bermakna, berkeadilan, dan berorientasi masa depan. (*)

*SDN Jombor 02 Kecamatan Bendosari Kabupaten Sukoharjo



TERKINI

Rekomendasi

...