25 C
Semarang
Selasa, 13 Januari 2026

Banjir Kanal Barat : Dari Infrastruktur ke Destinasi Sport

JATENGPOS.CO.ID, BANJIR Kanal Barat selama puluhan tahun dikenal sebagai sungai yang bekerja diam-diam. Ia menahan luapan air, menjaga kota tetap kering, lalu kembali mengalir tanpa banyak disadari. Namun akhir pekan kemarin, perannya berubah, airnya bukan hanya membawa aliran, tetapi juga harapan.

Deru dayung memecah pagi. Perahu-perahu meluncur cepat, drum Dragon Boat berdentum, dan sorak penonton menggema di tepian sungai. Selama dua hari, 10–11 Januari 2026, Banjir Kanal Barat menjadi arena Lomba Dayung Nasional Piala Bergilir Menteri Pekerjaan Umum, mempertemukan 511 pendayung dari berbagai daerah.

Di lintasan lurus sungai ini, para pendayung menemukan sesuatu yang jarang mereka temui di tengah kota: air yang stabil, lebar yang memadai, dan jarak ideal untuk nomor 200 hingga 500 meter. Tanpa perlu membangun venue baru, sungai kota itu telah siap menjadi arena kompetisi.

“Lintasan di Banjir Kanal Barat sangat mendukung. Ini bukan hanya cocok untuk lomba, tapi juga pembinaan jangka panjang,” ujar Brawijaya, Direktur Politeknik Pekerjaan Umum Semarang.

Baca juga:  Tragis, Gara-gara Duit 20 Ribu dan Sebungkus Rokok, Nyawa Tukang Cukur Melayang

Bagi para peserta, karakter sungai ini memberi pengalaman berbeda. Rizky, mahasiswa asal Jawa Timur, mengaku nyaman berlomba di Banjir Kanal Barat.

“Airnya tenang, jadi kami benar-benar fokus ke teknik dan kekompakan,” katanya usai turun dari perahu.

Potensi itu tidak berhenti pada olahraga semata. Kepala BPSDM Kementerian Pekerjaan Umum, Apri Artoto, melihat pemanfaatan sungai sebagai ruang publik bernilai strategis.

“Sungai tidak hanya berfungsi teknis. Jika dikelola dengan baik, ia bisa menjadi ruang pembinaan olahraga dan aktivitas masyarakat,” ujarnya.

Banjir Kanal Barat memiliki keunggulan yang jarang dimiliki sungai perkotaan lain, mudah diakses, berada di jantung kota, dan memiliki infrastruktur pendukung yang memadai. Kombinasi ini membuka peluang pengembangan wisata sport dayung, di mana kompetisi, latihan, dan rekreasi air dapat berjalan berdampingan.

Warga sekitar mulai merasakan perubahannya. Sungai yang biasanya lengang kini ramai oleh aktivitas positif. Anak-anak berhenti menonton gawai dan memilih menyaksikan perahu melaju, sementara pedagang kecil ikut menikmati keramaian.

Baca juga:  Pengumuman Anggota DPRD Karanganyar Periode 2024-2029 Menunggu MK

Kolaborasi Politeknik PU, Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana, serta induk organisasi dayung menjadi fondasi awal pemanfaatan sungai secara berkelanjutan. Kejuaraan ini direncanakan menjadi agenda rutin, menjadikan Banjir Kanal Barat sebagai pusat pembinaan dayung di Jawa Tengah.

Prestasi olahraga pun menjadi penguat gagasan ini. Dayung terbukti sebagai salah satu cabang unggulan Indonesia di ajang internasional. Sungai-sungai kota seperti Banjir Kanal Barat berpeluang menjadi ruang lahirnya atlet-atlet masa depan.

Menjelang sore, lomba usai. Air kembali tenang, perahu ditarik ke darat. Namun kesan yang tertinggal berbeda. Sungai ini tidak lagi sekadar saluran pengendali banjir.

Di atas alirannya, tersimpan kemungkinan baru—tentang sungai yang menghidupkan kota, menggerakkan ekonomi, dan mengalirkan prestasi. Banjir Kanal Barat kini memiliki masa depan yang lebih luas dari sekadar menahan air: menjadi destinasi sport yang tumbuh bersama manusia.(aln)


TERKINI

Rekomendasi

...