
JATENG POS. CO. ID, KIDUS – Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menyebabkan banjir meluas di berbagai wilayah. Sedikitnya 25 desa di enam kecamatan terdampak genangan air yang merendam permukiman warga hingga akses jalan utama. Kondisi tersebut memicu gangguan aktivitas masyarakat dan arus lalu lintas.
Data sementara mencatat wilayah terdampak banjir tersebar di Kecamatan Mejobo sebanyak 10 desa, Kecamatan Jekulo lima desa, Kecamatan Kaliwungu tiga desa, Kecamatan Undaan dua desa, Kecamatan Jati empat desa, serta Kecamatan Bae satu desa. Genangan air memasuki rumah warga dan menutup ruas jalan dengan ketinggian bervariasi, bergantung pada kondisi topografi wilayah.
Selain dampak fisik, bencana hidrometeorologi ini juga memukul kehidupan ribuan warga. Jumlah penduduk terdampak hujan ekstrem mencapai 15.237 kepala keluarga atau sekitar 48.193 jiwa. Sebagian warga terpaksa membatasi aktivitas harian karena akses keluar masuk lingkungan permukiman terhambat genangan air.
Dampak banjir juga terasa pada jalur transportasi antarkabupaten. Jalan Lingkar Kudus–Pati terendam di tiga titik strategis, yakni Jembatan Ngembalrejo, Jembatan Bukduwur Tenggeles, dan Jembatan Hadipolo. Genangan air mulai menutup badan jalan sejak Ahad (11/1) sehingga arus lalu lintas tersendat.
Kondisi tersebut menyebabkan antrean kendaraan cukup panjang, terutama pada jam-jam sibuk. Pengendara terpaksa memperlambat laju kendaraan demi menghindari kerusakan mesin dan risiko kecelakaan. Sejumlah warga mengeluhkan waktu tempuh yang meningkat signifikan akibat kemacetan di kawasan tersebut.
Tidak hanya banjir, hujan deras yang terjadi dalam waktu lama juga memicu bencana tanah longsor di sejumlah wilayah Kabupaten Kudus. Longsor dilaporkan terjadi di Kecamatan Bae pada dua lokasi, Kecamatan Gebog di 38 titik, serta Kecamatan Dawe yang mencatat kejadian paling banyak dengan total 92 lokasi, baik berskala kecil maupun besar.
Sebagian longsor terjadi di wilayah perbukitan dan jalur penghubung antardesa. Material tanah menutup badan jalan dan mengancam rumah warga yang berada di lereng. Kondisi ini meningkatkan kewaspadaan masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah rawan bencana.
Merespons situasi darurat tersebut, LRB-MDMC PDM Kudus menerjunkan Relawan Muhammadiyah ke sejumlah desa terdampak. Para relawan fokus membantu masyarakat, melakukan pemantauan lapangan, serta mendukung kebutuhan awal warga yang terdampak banjir dan longsor.
MDMC Kudus juga tengah melakukan asesmen lanjutan sebagai langkah awal pembukaan Pos Koordinasi Penanggulangan Bencana Muhammadiyah Kudus. Pos tersebut direncanakan menjadi pusat koordinasi bantuan dan respons kebencanaan atas rangkaian kejadian yang melanda wilayah Kudus.
Seorang relawan pada Rabu (14/1) menyampaikan bahwa langkah cepat diperlukan untuk memastikan keselamatan warga dan memetakan kebutuhan mendesak di lapangan. Ia menjelaskan bahwa asesmen dilakukan agar bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran dan sesuai kondisi riil masyarakat terdampak.
Pemerintah daerah dan berbagai elemen masyarakat terus bersiaga menghadapi potensi bencana susulan, mengingat intensitas hujan masih tinggi. Warga diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor, serta segera melapor jika terjadi kondisi darurat.
Dengan situasi cuaca yang belum sepenuhnya stabil, upaya kolaboratif antara relawan, masyarakat, dan pemangku kepentingan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak bencana dan mempercepat pemulihan di Kabupaten Kudus.(*/has/jan)



