JATENGPOS.CO.ID, MAGELANG – Masa reses Anggota DPR RI Komisi VIII, Wibowo Prasetyo, diwarnai dialog terbuka bersama jajaran Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) se-eks Karesidenan Kedu, di Magelang, Rabu (4/3/2026). Pertemuan tersebut tidak hanya membahas isu kebangsaan, tetapi juga menyoroti meningkatnya risiko bencana akibat anomali cuaca ekstrem yang belakangan kian sering terjadi.
Dalam diskusi yang berlangsung hangat dan konstruktif, Wibowo menegaskan bahwa anomali cuaca harus direspons dengan langkah kesiapsiagaan yang terencana.
Ia mengingatkan, karakter geografis wilayah Kedu (Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo) yang rawan bencana, di mana terdiri dari kawasan berbukit dan dataran rendah menyimpan potensi bencana berbeda, mulai dari tanah longsor hingga banjir.
“Wilayah berbukit berpotensi longsor, sementara dataran rendah rawan banjir. Situasi ini tidak bisa dianggap biasa. Harus ada kesiapan sejak dini,” ujar politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut di hadapan ratusan pengurus Ansor.
Menurutnya, organisasi kepemudaan memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan masyarakat di tingkat akar rumput. Ia mendorong GP Ansor untuk memperkuat tim Search and Rescue (SAR) di masing-masing daerah serta mengoptimalkan peran Banser Tanggap Bencana (Bagana) sebagai garda terdepan dalam respons darurat.
“Ansor dan Banser memiliki modal sosial yang kuat hingga tingkat desa. Jika diperkuat dengan pelatihan dan koordinasi yang sistematis, kontribusinya akan sangat nyata bagi masyarakat,” kata Wibowo.
Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan tidak cukup dimaknai sebagai respons saat bencana terjadi. Lebih dari itu, diperlukan pembentukan tim terlatih, pelatihan kebencanaan, serta simulasi penanganan kebencanaan secara berkala agar respons di lapangan lebih cepat, terukur, dan efektif.
Menanggapi arahan tersebut, Sekretaris PW GP Ansor Jawa Tengah, Husein Ahmadi, menyatakan kesiapan organisasinya untuk memperkuat kapasitas kebencanaan. Pihaknya akan mengintensifkan pelatihan teknis SAR dan evakuasi bagi anggota Banser serta memperluas penguatan Bagana (Banser Tanggap Bancana) hingga tingkat kabupaten/kota.
“Kami akan memperkuat Bagana di daerah dan menambah keterampilan kebencanaan anggota melalui pendidikan dan pelatihan khusus. Harapannya, saat bencana terjadi, Banser tidak hanya hadir secara moral, tetapi juga memiliki kemampuan teknis dalam proses penyelamatan,” ujarnya.
Reses tersebut menjadi penegasan bahwa tantangan kebencanaan ke depan semakin kompleks. Meski negara memiliki institusi resmi penanggulangan bencana, partisipasi masyarakat sipil tetap menjadi elemen penting dalam mempercepat respons di lapangan.
Dalam konteks itu, kesiapan Ansor dan Banser tidak hanya diukur dari soliditas organisasi, tetapi juga dari ketangguhan dan kecepatan pengabdian kepada masyarakat.







