JATENGPOS.CO.ID, TEMANGGUNG – Udara dingin di ketinggian lebih dari 1.000 mdpl menyelimuti Temanggung pada Kamis (5/3/2026) dini hari. Di tengah suhu yang menusuk, ratusan warga dari berbagai latar belakang berkumpul dalam sebuah tradisi sederhana namun sarat makna: sahur bersama kaum duafa dan lintas kepercayaan.
Hadir dalam kegiatan tersebut tokoh nasional Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Selama lebih dari dua dekade, ia konsisten menjadikan sahur sebagai ruang perjumpaan antara empati, spiritualitas, dan kemanusiaan.
Istri mendiang Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, itu menuturkan bahwa tradisi sahur bersama bukanlah kegiatan seremonial sesaat. Ia telah melaksanakannya selama 26 tahun, termasuk ketika mendampingi Gus Dur memimpin Indonesia.
“Saya sudah melakukan sahur bersama sejak 26 tahun lalu bersama Gus Dur, ketika saya masih mendampingi beliau menjadi Presiden RI,” ujar Sinta dengan suara tenang.
Bagi Sinta Nuriyah, sahur bukan sekadar makan sebelum berpuasa. Ia sengaja memilih sahur bersama masyarakat kecil—tukang becak, bakul sayur, dan kaum duafa—sebagai bentuk keberpihakan kepada mereka yang kerap berada di pinggir perhatian.
Menurutnya, sahur bersama kelompok masyarakat lintas iman, sederhana, justru menjadi ikhtiar spiritual untuk “mengetuk pintu langit”.
“Saya melakukan sahur bersama karena beberapa sebab. Salah satunya untuk mengajak agar pintu langit dibukakan. Karena itu saya lebih memilih sahur bersama kalangan kurang mampu, duafa, tukang becak, bakul sayur, dan masyarakat pada umumnya,” tuturnya saat kegiatan di NU Center MWC NU Tembarak, Temanggung.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam tradisi Islam terdapat hadis tentang keutamaan memberi makan orang yang berpuasa. Namun, ia menilai praktik buka puasa bersama dewasa ini kerap bergeser makna.
“Saat buka bersama kadang ada niatan lain, misalnya untuk dijadikan konten atau sekadar pamer,” katanya, tanpa menghakimi, tetapi mengajak refleksi.
Melalui sahur bersama, Sinta berupaya mengembalikan ibadah pada kesederhanaannya: makan bersama, berbagi, dan memanjatkan doa dalam keheningan menjelang fajar.
Dalam kesempatan yang sama, hadir pula Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Wibowo Prasetyo. Ia menegaskan bahwa kehadirannya bukan semata menghadiri kegiatan sahur, tetapi juga untuk merawat semangat kebersamaan dan toleransi di Temanggung.
Menurutnya, kerukunan umat beragama dan harmoni sosial merupakan fondasi penting dalam kehidupan berbangsa.
“Kebersamaan seperti ini harus terus dirawat. Kerukunan adalah salah satu pilar kebangsaan untuk mewujudkan masyarakat yang berpedoman pada Pancasila dan berasas Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya saat dimintai komentarnya usai acara.
“Di tengah dinamika politik nasional dan riuhnya perdebatan di ruang publik, sahur dini hari di Temanggung itu memang terasa sebagai jeda yang menenangkan. Tanpa panggung besar dan sorotan berlebihan, kegiatan berlangsung sederhana dengan beralas tikar, nasi kotak, serta percakapan hangat yang menyatu dengan doa,” lanjutnya.
Di ruang-ruang sunyi seperti itulah, makna Ramadan seakan menemukan rumahnya: di tengah kebersamaan orang-orang kecil, dengan doa-doa tulus yang melangit.(*)








