JATENGPOS.CO.ID, MAGELANG — Diskusi dan bedah buku bertajuk Tipologi Anak Muda Indonesia digelar di Pondok Pesantren Al Inayah, Dusun Nglarangan, Desa Sidoagung, Kabupaten Magelang, Sabtu (14/3/2026).
Acara kerja sama Ponpes Al Inayah dan Ditjen Diktis Kemenag ini menghadirkan penulis buku sekaligus CEO Alvara Research Center, Hasanuddin Ali dan Savic Ali, pengamat media sosial. Hasanuddin Ali juga akan memaparkan hasil risetnya tentang karakter generasi muda Indonesia di tengah kuatnya pengaruh teknologi digital dan algoritma media sosial.
Hadir pula anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Wibowo Prasetyo, dan Kakanwil Kemenag Jateng, Saiful Mujab, yang mewakili Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI, para santri, mahasiswa, siswa madrasah, guru, dan pengasuh pondok pesantren.
Wibowo Prasetyo menilai buku tersebut menjadi ruang refleksi penting untuk memahami arah perkembangan generasi muda Indonesia di tengah perubahan sosial yang sangat cepat.
Menurut Wibowo, generasi muda saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Perkembangan teknologi digital membuat ruang sosial mereka tidak lagi hanya berada di dunia nyata, tetapi juga di ruang digital yang dipengaruhi oleh algoritma media sosial.
“Generasi muda Indonesia kini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Ruang digital memainkan peran besar dalam membentuk cara berpikir, cara berinteraksi, hingga cara mereka memandang masa depan,” ujarnya.
Ia menilai derasnya arus informasi dan pengaruh algoritma media sosial telah menciptakan lanskap baru dalam pembentukan identitas serta aspirasi anak muda. Karena itu, buku karya Hasanuddin Ali dipandang penting karena mencoba memetakan karakter generasi muda melalui pendekatan tipologi yang cukup komprehensif.
“Buku ini tidak hanya menggambarkan pola perilaku anak muda, tetapi juga memberi perspektif untuk memahami dinamika sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang akan membentuk masa depan Indonesia,” kata Wibowo.
Menurutnya, pemahaman seperti ini penting bagi banyak pihak, mulai dari pembuat kebijakan, dunia pendidikan, kalangan akademisi, hingga organisasi masyarakat yang selama ini bersentuhan langsung dengan generasi muda.
Penulis buku, Hasanuddin Ali, menjelaskan bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh generasi mudanya. Menurut proyeksi demografi menuju tahun 2045, generasi yang saat ini dikenal sebagai milenial dan Gen Z akan menjadi kelompok yang memegang banyak peran kepemimpinan.
“Untuk memprediksi Indonesia di masa depan, kita harus memahami generasi mudanya sekarang. Karena merekalah yang nanti akan menjadi pemimpin,” ujarnya.
Melalui riset yang dilakukan oleh Alvara Research Center, Hasanuddin mencoba membaca karakter generasi muda Indonesia yang tumbuh di era digital. Hasilnya, ia mengelompokkan anak muda Indonesia ke dalam tiga tipologi utama.
Pertama adalah tipe Si Paling Eksis, yang jumlahnya sekitar 30 persen. Anak muda dalam kategori ini cenderung dominan, aktif berorganisasi, dan memiliki keinginan kuat untuk tampil di depan.
Kedua adalah tipe Si Digital, yang jumlahnya paling besar, sekitar 42 persen. Tipologi ini cenderung lebih banyak membangun hubungan sosial di dunia digital dibandingkan interaksi sosial secara langsung. Jika sebagian orang senang bersosialisasi lewat pertemuan fisik seperti ngopi bersama teman, tipe digital justru lebih nyaman dengan lingkaran pertemanan yang lebih kecil. Mereka juga cenderung fokus pada pengembangan diri, belajar hal baru, dan membangun kapasitas pribadi.
Ketiga adalah tipe Si Santuy sekitar 28 persen. Tipologi ini memiliki gaya hidup yang lebih santai dan cenderung menjalani hidup secara apa adanya dengan konsep slow living, tanpa tekanan besar untuk mengejar ambisi tertentu.
Hasanuddin menambahkan bahwa anak muda sebenarnya bisa mengetahui kecenderungan tipologi mereka melalui tes mandiri yang disediakan di situs anakmuda.alvara.id. Setelah melakukan tes tersebut, peserta akan mendapatkan gambaran karakter serta rekomendasi pengembangan diri sesuai tipologi masing-masing.
Dalam diskusi tersebut, pengamat media sosial dan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Savic Ali, juga memberikan pandangannya. Ia menilai buku ini menarik karena menawarkan pendekatan yang cukup berbeda dari tradisi literasi di lingkungan pesantren.
Menurutnya, dunia pesantren selama ini lebih banyak bertumpu pada literatur klasik atau kitab-kitab karya ulama terdahulu. Sementara pendekatan Hasanuddin Ali lebih menekankan pada pembacaan realitas sosial melalui riset statistik dan analisis data.
“Pendekatan ini menarik karena mencoba memotret kondisi masyarakat secara ilmiah dan terukur sebelum menarik kesimpulan,” ujarnya.
Savic menilai pembagian tipologi anak muda tersebut dapat membantu orang tua maupun pendidik dalam memahami karakter anak-anak mereka. Dengan memahami kecenderungan tipologi tersebut, proses pembimbingan dan pengembangan potensi anak bisa dilakukan dengan lebih terarah.
“Dalam organisasi atau perusahaan, sebenarnya ketiga tipe ini justru dibutuhkan. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Dengan memahami peran masing-masing, mereka bisa saling melengkapi,” katanya.
Melalui diskusi dan bedah buku tersebut, para peserta diharapkan tidak hanya membaca buku sebagai karya akademik semata, tetapi juga menjadikannya sebagai bahan refleksi untuk memahami arah generasi muda Indonesia. Sebab di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat, memahami karakter generasi muda menjadi salah satu kunci penting untuk menyiapkan masa depan bangsa.(*)










