30.4 C
Semarang
Sabtu, 25 April 2026

Desa Merupakan Ujung Tombak Pembangunan Nasional




JATENGPOS.CO.ID, MAGELANG— Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Wibowo Prasetyo, menegaskan bahwa desa memegang peran penting sebagai ujung tombak pembangunan nasional. Baginya, kekuatan Indonesia justru berakar dari desa sebagai fondasi utama kehidupan masyarakat.

Dalam suasana santai namun serius bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jumat (24/4/2026), Wibowo menyampaikan bahwa desa bukan sekadar wilayah administratif. Lebih dari itu, desa adalah pusat produksi sekaligus penggerak roda ekonomi masyarakat.

“Desa adalah awal dari segalanya. Dari desa lahir sumber pangan, tenaga kerja, hingga nilai-nilai sosial yang menjadi kekuatan bangsa,” ujarnya dalam acara serap aspirasi dalam rangka reses anggota DPR RI.

Ia juga menyoroti peran besar desa sebagai penguplai berbagai kebutuhan masyarakat, baik di tingkat lokal maupun nasional. Hasil pertanian, peternakan, hingga komoditas lainnya, sebagian besar berasal dari desa.


Karena itu, menurutnya, desa perlu mendapat perhatian serius dan dukungan berkelanjutan dari pemerintah. “Kalau desa kuat, maka Indonesia juga akan kuat. Maka desa harus terus diperhatikan, didukung, dan diberdayakan,” tegas anggota DPR RI Dapil Jawa Tengah VI ini.

Selain bicara pembangunan, Wibowo yang duduk di Komisi VIII ini juga menyinggung pentingnya kesiapsiagaan bencana. Ia mendorong adanya peningkatan kapasitas relawan, khususnya di wilayah rawan seperti Kecamatan Dukun.

Menurutnya, meski di tiap desa sudah terbentuk Lembaga Penanggulangan Kebencanaan Desa (LPKD) dan relawan, pelatihan yang lebih terarah masih sangat dibutuhkan. “Kami akan dorong pelatihan kebencanaan tingkat kecamatan, agar relawan punya spesialisasi dan bisa langsung bergerak sesuai bidangnya saat bencana datang,” jelasnya.

Hal ini mendapat dukungan dari Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Bambang Hermanto. Ia menjelaskan bahwa Kecamatan Dukun berada di kawasan rawan bencana erupsi Gunung Merapi, bahkan termasuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) 3 hingga 2.

“Relawan di Dukun ini cukup banyak, karena masyarakatnya memang sering menjadi pelaku sekaligus terdampak bencana. Mereka berinisiatif membentuk relawan secara mandiri,” ungkapnya.

Bambang menambahkan, untuk meningkatkan profesionalitas, para relawan perlu mendapatkan pelatihan dari mentor berpengalaman yang memahami karakter bencana di lereng Merapi. Ia juga mendukung adanya pembagian spesialisasi, mulai dari evakuasi (rescue), penanganan darurat, hingga pengelolaan dapur umum.

“Dengan pelatihan yang tepat, kemampuan relawan akan semakin berkualitas dan siap menghadapi berbagai situasi,” pungkasnya.




TERKINI




Rekomendasi

...

Pesan Wawalkot

Stok Gas dan Bahan Pokok Jelang...

11 Desa Masih Krisis Air Bersih, BAZNAS...