Jogja Cross Culture 2022 Digelar di Malioboro

Press Conference Jogja Cross Culture 2022 di Teras Malioboro 2

JATENGPOS.CO.ID,  JOGJA – Jogja Cross Culture (JCC) akan kembali hadir pada tahun ini. Setelah dua tahun dilaksanakan secara daring akibat pandemi Covid-19, JCC 2022 kali ini menjadi sangat istimewa.

Mengangkat tema Sulih, Pulih, Luwih, JCC 2022 akan menghadirkan pentas kolaborasi 14 koreografer muda dengan para seniman dari seluruh 14 kemantren yang ada di Kota Yogyakarta. Kolaborasi ini juga melibatkan Bagus Masazupa dan Danang Rajiev Setyadi untuk mengaransemen musik.

Pentas kolaborasi  yang sudah berjalan sejak Maret 2022 ini diadakan secara luring. Masyarakat bisa menyaksikan langsung di Jalan Malioboro pada Minggu (15/5/2022) besok. Kegiatan ini juga bisa dinikmati secara daring melalui kanal YouTube Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Pemkot Jogja dan Jogja Cross Culture pada tanggal 14 Mei 2022 serta diadakan secara luring pada 15 Mei 2022.

Sejumlah seniman juga akan tampil di JCC 2022. Diantaranya Tony Yap, Agung Gunawan, Sagitama, Erson Padapiran, Sabina Tisa, Cristina Duque, I Ketut Rina, Deden Bulenk dengan Bongkeng Arts Space, dan Boedhi Pramono.

Mereka melibatkan komunitas pedagang yang ada di Jalan Malioboro dalam karyanya. Sejumlah kelompok dan kolektif seni juga ikut terlibat seperti Icipili Mitirimin dan Nurani Sya’ban, Sanggar Seni Kinanti Sekar, Drummer Guyub YK (DGYK), dan Sarkem Percussion.

Proses persiapan program ini diarahkan oleh R.M. Altiyanto Henryawan selaku program director dan Anter Asmaratedja selaku kurator. JCC 2022 juga melibatkan siswa-siswa dari SMKN 1 Kasihan Bantul, Magister Tata Kelola Seni Pascasarjana ISI Yogyakarta, dan sejumlah pelaku dari komunitas seni budaya yang ada di Yogyakarta.

Sebelumnya Workshop Physical Theater oleh Tony Yap digelar pada pada 10 Mei 2022 lalu. Yap merupakan seniman kontemporer asal Melbourne, Australia.

Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi di Teras Malioboro 2 Yogyakarta, Kamis (12/05/2022) petang mengungkapkan JCC merupakan gelaran budaya yang digelar Kota Yogyakarta pasca pelonggaran mobilitas masyarakat di masa pandemi.

“Dari sisi protokol kesehatan kita sudah bisa melaksanakan kegiatan kebudayaan. Apalagi saat ini kasus covid-19 juga sudah sangat rendah. Artinya dari pola penanganan kasus dari protokol kesehatan, kita sudah bisa menjalankan JCC secara lebih terbuka di malioboro,” paparnya.

Heroe mengungkapkan, JCC tidak hanya menjadi pentas dari para seniman. Namun merupakan proses kreatif perlintasan budaya karena menjadi tempat bertemunya para seniman besar dengan masyarakat seni yang melahirkan karya-karya baru tanpa meninggalkan karya klasik yang sudah ada.

“Dengan cara seperti itu kita mewarnai kota dengan berbagai festival dan karya yang berbeda yang menguatkan Yogyakarta sebagai kota seni dan budaya,” ungkapnya.

Menurut Heroe, tema Sulih, Pulih, Luwih dipilih bukan tanpa alasan. Sulih adalah ketika kita berpindah dan beradaptasi dalam keadaan baru yang lebih baik. Kita berusaha untuk pulih dan sembuh dari situasi yang lama.

“Sembari kita pulih, kita juga berusaha supaya kita terus berkembang menjadi lebih baik lagi, atau dalam Bahasa Jawa kita sebut Luwih,” ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti mengungkapkan sejumlah program diadakan JCC yang memanfaatkan dana keistimewaan ini. JCC ini merupakan wujud sinergi kreatif antara pemerintah dengan komunitas seni budaya, masyarakat Kota Yogyakarta, serta para pelajar dan akademisi.

“Kita perlahan-lahan bangkit lagi dari kondisi yang penuh keterbatasan dengan kondisi yang lebih leluasa, dengan adaptasi kebiasaan baru. Mulai terbukanya ruang-ruang publik di Kota Yogyakarta menginspirasi kami untuk kembali mengeksplor sisi artistiknya, khususnya di area Jalan Malioboro yang lekat dengan wajah budaya Kota Yogyakarta,” jelasnya.

JCC tahun ini mengangkat konsep budaya urban dengan segala dinamika khas Malioboro yang sangat inspiratif. Banyak seniman besar lahir dan tumbuh dari Malioboro, banyak karya hebat yang menempatkan Malioboro sebagai sumber inspirasinya.

“Oleh karenanya JCC juga mengangkat karya-karya hebat tentang Malioboro dari para musisi menjadi bentuk sajian utamanya,” ujarnya. (Prast.wd/biz/sgt)