Jumangi Menatap Riang Lilin-Lilin yang Menyala di Kadirejo

TEKUN: Jumangi, pekerja sentra pembibitan pakan ternak BUMDes Jaya Mandiri, Desa Kadirejo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang sedang memilah bibit rumput Pakchong. FOTO:MUIZ/JATENGPOS

JATENGPOS.CO.ID, KABUPATEN SEMARANG– Senyum tipis Jumangi (25) terlihat mengembang saat membayangkan lelahnya akan berakhir. Pakan ternak yang semula dipanggul terasa meringankan bebannya begitu diturunkan dan diletakkan di pojok bedeng.

Seraya menyeka keringat tipis di kedua keningnya, ia memanfaatkan bekas kaleng cat berukuran besar yang berada di samping tumpukan rumput Pakchong untuk tumpuan tempat duduk.

“Alhamdulillah Pak, sudah selesai mengumpulkan pakan untuk ternak-ternak itu,” ujarnya yang sudah duduk sambil menujuk ke arah deretan sapi yang berdiri menunggu diberikan jatah pakan.

Siang itu, sekitar pukul 11.30 WIB pada Kamis (30/6/2022), wartawan JATENG POS sengaja menungguinya untuk mewawancarai seputar harapan dan keinginan Jumangi yang kini bekerja di Sentra Pembibitan Pakan Ternak dan Peternakan milik BUMDes Jaya Mandiri, Desa Kadirejo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang.

Pemuda tinggal di Dusun Ngablak Desa Kadirejo itu menceritakan bergabung menjadi pekerja di unit usaha BUMDes tidak lepas dari tekadnya ingin menjadi orang yang sukses.

Di pertengahan tahun 2020 lalu saat pandemi COVID-19 mewabah, tutur Jumangi, ia menjadi salah satu dari ribuan buruh pabrik di Ungaran yang dirumahkan. Kejadian itu justru dirasakan sebagai hikmah yang mencerahkan.

“Di desa saya Kadirejo sudah ada internet desa, ada sentra pembibitan ternak dan pakan. Semua ini adalah peluang. Kenapa harus kerja jauh ke kota?,” ungkapnya menyadari kekagumannya terhadap potensi dimiliki desanya.

Jumangi bertekad bekerja sekaligus menyerap cara intensifikasi pertanian dan peternakan yang sehari-hari dikerjakannya. Saat ini ia telah menguasai teknik pembibitan pakan ternak, rumput Pakchong, odot, dan indigofera.

Begitu pula teknik pengembangbiakan ternak sapi dan kambing berkualitas, hingga teknik pembibitan ikan lele, dan budidaya tanaman porang.

Insya Allah musim tanam tahun depan saya sudah bisa mandiri. Tanam di sawah sendiri sekaligus berternak sapi dan kambing, meski untuk tambahan lahan harus menyewa,” ungkapnya sembari tersenyum senang.

Asa Jumangi ternyata tidak berhenti sampai di situ. Bapak dua orang ini membidik potensi internet masuk desa yang sudah ada di Kadirejo sejak akhir tahun 2019 lalu. Bersama istrinya, Sri Lestari (22), Jumangi tengah mengembangkan usaha Jahe bubuk dengan memanfaatkan pemasaran online.

UNIT USAHA BUMDES: Peternakan sapi di sentra pembibitan pakan ternak yang dikelola BUMDes Jaya Mandiri, Desa Kadirejo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang. FOTO:MUIZ/JATENGPOS

Kepala Desa Kadirejo Riyadi mengatakan, Jumangi merupakan salah satu dari ratusan pemuda Kadirejo yang kini mulai banyak beralih bekerja sebagai petani muda dan perajin UMKM. Kebangkitan ekonomi perdesaan di Kadirejo telah menarik perhatian mereka untuk kembali ke desanya.

“Saya termotivasi penyataan Bung Hatta tentang desa bahwa, “Indonesia tidak akan besar karena obor di Jakarta, tapi Indonesia akan bercahaya karena lilin-lilin di desa”. Karena itu bagaimana menciptakan lilin-lilin itu di Kadirejo,” ujarnya kepada JATENG POS, Kamis (30/6/2022) sore.

Upaya menyalakan kebangkitan ekonomi tersebut, menurut Riyadi, dirasakan mulai menyengat setelah BUMDes Jaya Mandiri mendirikan sentra pembibitan pakan ternak memanfaatkan tanah aset desa seluas sekitar 9 hektar.

“Awalnya kita tanami bibit pakan produktif yang kita pilih yakni pakchong, odot dan indigofera dari IPB Bandung. Dari situ terus berkembang, kita bisa menjual pakan ternak. Selain itu, bibitnya kita melayani penjualan sampai ke Sumatera, Sulawesi hingga Papua,” cerita Riyadi.

Konsep perekomian dibuat terintegrasi mulai dari hulu sampai hilir. Apa yang dibudidayakan hasilnya termanfaatkan semuanya. Tidak hanya untuk dijual namun juga dimanfaatkan untuk pengembangan usaha.

“Kita punya sentra ternak pakannya dari hasil tanam sendiri. Kotoran ternak kita buat biogas, sisanya kita kembalikan untuk pupuk tanaman pakan. Semuanya terpakai tidak ada yang dibuang,” tandasnya.

Mewujudkan desa Kadirejo sebagai kawasan Agropolitan, lanjut Riyadi, pada pertengahan tahun 2021 pengelola BUMDes membuat 8 unit kios untuk pedagang makanan dan kerajinan. Lokasinya di pinggir jalan yang masih berada di kawasan sentra.

Didukung percepatan promosi melalui internet mampu menjangkau luas, hingga masyarakat Kota Salatiga yang berjarak sekitar 7 Km dari Kadirejo banyak yang datang berbelanja produk yang dijual warga.

Tidak ubahnya lilin yang terus menyala, kawasan sentra tersebut seperti penerang jalan bagi kemajuan pergerakan ekonomi kerakyatan di Kadirejo. Unit usaha BUMDes terus berkembang hingga kini memiliki dua bangunan kandang komunal berisi 20 ekor sapi dan 12 ekor kambing.

Sarana terbaru selesai dibangun di bulan Mei 2022 lalu, yakni sebanyak 60 petak kolam budidaya ikan lele. Sebagian kolam diisi khusus untuk pembenihan, selain kolam pembesaran untuk ikan konsumsi.

“Unit usaha di sini (kawasan sentra, red) merupakan sentra usaha juga percontohan. Para pemuda Kadirejo seperti mas Jumangi tinggal memilih belajar intensifikasi yang mana. Juga ada satu unit biogas operasional untuk percontohan. BUMDes memiliki tenaga ahli yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan dari dosen pertanian IPB Bandung, juga dari UNS Solo, Undip Semarang dan UKSW Salatiga,” terangnya.

HARAPAN BARU: Demplot penanaman kedelai varietas unggul hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tumbuh subur di sentra pembibitan pakan ternak Kadirejo. FOTO:MUIZ/JATENGPOS

Harapan baru peningkatan kemandirian pangan, lanjut Riyadi, pada bulan Mei 2022 lalu sentra pembibitan Kadirejo terpilih menjadi demplot penanaman benih kedelai varietas unggul hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

“Sebanyak 30 kilogram bibit kedelai dari varietas Sugentan dan Gamasugen sudah kita tanam di area seluas 1 hektar. Sudah berhasil tumbuh dengan bagus, sebulan lagi sudah bisa kita panen. Diharapkan kedelai varietas unggul ini dapat memenuhi swasembada pangan khususnya kedelai,” jelasnya.

Kaur Pemeritahan Desa Kadirejo, Edy Suptratman mengatakan kemandirian ekonomi warga secara keseluruhan mengalami peningkatan cukup signifikan. Tercatat, Desa Kadirejo dihuni sekitar 3.239 jiwa pada tahun 2019 lalu sebanyak 96,8 persen diantaranya hidup dalam keterbatasan.

“Data kesejahteraan warga saat ini meningkat sekitar 10 persen. Usaha tambahan warga semakin banyak diantaranya dari hasil pelatihan percontohan di sentra pembibitan pakan ternak,” ujar Edy yang juga pembina BUMDes Jaya Mandiri, Kamis (30/6/2022) sore.

Lahan kosong dan sela tanaman pokok seperti pematang sawah, disebutkan Edy, mulai banyak dimanfaatkan warga untuk menanam pakan ternak pakchong dan indigofera. Warga mulai terbangun kesedaran memanfaatkan limbah peternakan untuk biogas. Setidaknya sudah ada tiga unit biogas dikelola warga. Sedangkan lahan kurang produktif dimanfaatkan menanam umbi porang.

“Di lahan sentra pembibitan BUMDes ada sekitar 1 hektar tanaman porang. Sedangkan di lahan-lahan milik warga keseluruhan ada sekitar 25 hektar. Prospeknya sangat bagus, tapi saat ini warga tidak memanen dulu karena harganya lagi jatuh,” ungkapnya.

Ditambahkan Edy, fasilitas internet desa turut berperan meningkatkan perekomian warga. Tercatat 505 keluarga dan perorangan berlangganan internet desa. Sebagian besar diantaranya merupakan para pelaku UMKM makanan ringan dan kerajinan anyaman bambu.

“Akses internet membuka lebar keterbatasan yang dulu dialami warga. Tidak lagi kesulitan memasarkan produk UMKM semua sudah serba online. Paling menggembirakan UMKM makanan ringan seperti krupuk rambak, jajanan pasar, getuk, cotot, dan lainnya saat ini ada sekitar 70 UMKM. Saya sendiri di rumah termasuk perajin getuk, saya pasarkan online,” pungkasnya. (abdul muiz)