Kartu Huruf Jawa, Tingkatkan Keterampilan Membaca

UMI SULASTRI, S. Pd.SD

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 67 Tahun 2013 tentang Kerangka Dan Struktur Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah, bahasa daerah sebagai muatan lokal dapat diajarkan secara terintegrasi dengan mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya atau diajarkan secara terpisah apabila daerah merasa perlu memisahkannya. Satuan pendidikan dapat menambah jam pelajaran per minggu sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan tersebut. Menurut Mulyana (2008: 35) bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah yang merupakan bagian dari kebudayaan nasional Indonesia. Bahasa Jawa tetap hidup dan dipergunakan dalam masyarakat Jawa.

Bahasa Jawa sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal yang dilaksanakan di daerah Jawa Tengah di dalamnya mencakup lima kompetensi dasar yaitu: mencakup aspek mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan sastra. Pada kompetensi membaca dalam mata pelajaran bahasa Jawa, peserta didik harus mampu menguasai dua keterampilan yaitu membaca bacaan berbahasa Jawa berhuruf latin, dan membaca bacaan berbahasa Jawa dengan huruf Jawa. Agar dapat membaca bahasa Jawa dengan huruf Jawa, peserta didik harus terampil membaca huruf Jawa.

Kurang terampilnya siswa dalam membaca huruf Jawa dikarena ada rasa jenuh dan merasa tidak puas dengan metode yang digunakan. Sebagian guru masih menggunakan metode ceramah. Metode ini hanya menerangkan teori-teori tentang huruf Jawa tanpa ada tindak lanjut dan penerapannya secara langsung. Setelah paparan teori selesai, guru memberikan tugas untuk mengubah bentuk tulisan latin menjadi tulisan berhuruf Jawa. Setelah pelajaran selesai peserta didik pun lupa dengan pelajaran yang telah berlalu. Akibatnya, peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami dan mengenal huruf-huruf Jawa yang telah diajarkan.

Sebagian peserta didik beranggapan bahwa materi membaca huruf Jawa paling sulit dipahami. Alasan mereka antara lain karena saat ini mereka sudah tidak menggunakan aksara Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Selain tiu, aksara Jawa memiliki bentuk huruf yang hampir sama sehingga sulit untuk membedakannya. Guru juga tidak menggunakan media yang menarik untuk memperkenalkan huruf Jawa dalam proses pembelajaran. Akibatnya, pembelajaran menjadi membosankan bagi peserta didik. Hal ini terjadi di SD Negeri 2 Klapagading tahun pelajaran 2018/ 2019. Data prestasi belajar menunjukkan hanya 7 dari 22 siswa (31%) yang tuntas belajar pada 4.4 Membaca dan menulis kalimat berhuruf Jawa yang menggunakan pasangan. Guru menerapkan pembelajaran dengan media kartu huruf Jawa sebagai solusi atas permasalahan tersebut

Media kartu huruf Jawa adalah kartu yang di dalamnya terdapat tulisan atau aksara Jawa. Kartu tersebut terbuat dari kertas tebal seperti kertas asturo atau kardus bekas berbentuk persegi panjang dengan ukuran 15 cm x 10 cm.

  1. Ngalim Purwanto (1991: 105) berpendapat bahwa sekolah yang cukup memiliki alat-alat pelajaran dan perlengkapan yang diperlukan untuk belajar ditambah dengan cara mengajar yang baik dari guru-gurunya, kecakapan guru dalam menggunakan alat-alat itu, akan mempermudah dan mempercepat belajar anak-anak. Guru diharapkan dapat memiliki kecakapan tersebut.

Penggunaan kartu huruf jawa dapat dimulai dengan mengenalkan huruf Jawa. Pengenalan dapat dimulai dari huruf Jawa yang mudah dihafalkan sepertira”, ”ja”,  ”ma”, ”ya”, dan”ga”. Senjutnya huruf  yang mempunyai bentuk hampir sama seperti: ”ha”, ”ka”, ”la”, dan ”ta”.

Pembelajaran selanjutnya dapat dilakukan dengan permainan dengan lima kelompok. 5 kartu huruf Jawa dibagikan pada tiap-tiap kelompok. Kelompok pertama mengocok kartu yang dipegangnya dan memeperlihatkan satu persatu kartu itu untuk dibaca oleh kelompok sebelahnya. Apabila tidak bisa membaca maka dilanjutkan kelompok berikutnya untuk membaca. Begitu seterusnya sampai semua kartu dapat terbaca. Kelompok yang paling banyak membaca huruf Jawa dengan benar, mereka menjadi juaranya.

Dari permainan ini, keterampilan membaca huruf Jawa siswa kelas VI di SD Negeri 2 Klapagading tahun pelajaran 2018/ 2019 meningkat. 16 dari 22 siswa (72%) dinyatakan tuntas belajar. Media kartu huruf Jawa dalam pembelajaran dapat digunakan sebagai sumber belajar dan dapat juga sebagai hiburan penghilang rasa tegang, jenuh dan penat.

 

UMI SULASTRI, S. Pd.SD

Guru SD Negeri 2 Klapagading

Korwilcam Dindik Wangon

Kabupaten Banyumas