Kelola Keuangan Masjid Secara Digitalisasi

2
TUNJUKAN - MoU optimalisasi keuangan antara DMI Kota Pekalongan dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Semarang Raya disaksikan Wakil Walikota, H Salahudin. (didik teguh)

JATENGPOS.CO.ID,  – Gerakan penguatan peran Masjid sebagai pusat ibadah dan perekonomian ummat terus digencarkan di Kota Pekalongan. Misalnya dengan optimalisasi keuangan masjid melalui digitalisasi teknologi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Langkah ini diawali  dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam optimalisasi masjid yang dikemas dalam  Workhop Manajemen Pemberdayaan Masjid bertajuk “Kebangkitan Ekonomi Islam Berawal dari Masjid” di Hotel Dafam Kota Pekalongan,Selasa (23/11).

Laporan : Lailatul Mafiyah/Didik Teguh R

“Masjid sebagai tempat strategis untuk pemberdayaan umat. Dengan layanan QRIS ini memudahkan masyarakat bertransaksi Zakat, infak, shadaqah dan aktivitas keuangan lainnya untuk masjid,” kata Wakil Walikota H Salahudin usai penandatanganan MoU oleh Ketua DMI Kota Pekalongan,Ahmad Slamet Irfan dan Area Manager PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Semarang Raya, Leo Agus Sandi yang disaksikan  Wakil Walikota, H Salahudin dan perwakilan takmir masjid di Kota Pekalongan.

Wawalkot Salahudin mengapresiasi upaya BSI membawa produk digitalnya bersama DMI  ke masjid. Langkah ini akan mempercepat pemberdayaan umat. “Alhamdulillah BSI menandatangani MoU bersama DMI. Semoga bisa memfasilitasi pemanfaatan dana-dana masyarakat yang dikelola BSI, maupun yang dikelola DMI. Pemanfaatannya bisa meluas,  menyejahterakan masjid dan  jamaahnya,” tutur Wawalkot Salahudin.

Wawalkot berharap, dana-dana masyarakat  bisa cepat tersalurkan kepada yang berhak dengan tepat sasaran dan mudah. Lebih  transparan dan akuntabel. Seluruh takmir masjid juga diminta meningkatkan kinerjanya.  “Yang paling pokok adalah kepercayaan dari jamaah ke takmir. Masyarakat punya banyak pilihan,  akan berdonasi ke masjid A,B atau C. Jika  akuntabilitas dan kepercayaan dari takmir di sebuah masjid itu tinggi, masyarakat akan lebih tertarik. Bagaimana transparansi penggunaan dana yang dikumpulkan oleh takmir kepada para jamaahnya. Basis data dari jamaah sendiri harus mulai disusun, sehingga nanti ketika ada kegiatan sosial tidak tumpang tindih dengan masjid lain. Kita harapkan DMI bisa menjadi koordinator, masing-masing masjid sudah memiliki data penerima dana sosialnya sehingga tidak ada yang terlewati ataupun mendapatkan double,” tutur Wawalkot Salahudin.

Area Manager PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Semarang Raya, Leo Agus Sandi menjelaskan, kegiatan ini kerjasama BSI dan DMI, bertujuan menjadikan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah. Melainkan juga sebagai pusat peradaban bagi umat Islam. Tidak hanya itu, masjid dapat berfungsi untuk pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi umat, seperti penyelenggara Baitul Maal, pelayanan zakat, infaq dan shodaqah.

Kerjasama ini menyediakan layanan untuk masjid-masjid di bawah naungan DMI berupa Layanan QRIS (Quick Response Indonesia Standard) untuk mempermudah penerimaan Kas dan ZISWAF dari jamaah. Sekaligus menyukseskan target 12 juta merchant QRIS yang dicanangkan oleh Bank Indonesia tahun ini. Melalui rekening pengelolaan dana masjid, layanan net banking, jasa perbankan syariah, serta Aplikasi Digital Masjid yang menghadirkan keterbukaan informasi keuangan, informasi ibadah maupun kajian masjid yang dapat diakses oleh pengurus maupun jemaah masjid secara realtime, kapanpun dan di manapun.

“Kita permudah dengan layanan modernisasi digital yakni QRIS. Dimana,orang akan berdonasi tidak harus datang ke lokasi, tapi bisa melakukannya dari rumah dan dilakukan dimanapun dan kapanpun. Dalam QRIS ini, ada barcode, setiap orang bisa memanfaatkan melalui semua layanan yang ada diseluruh bank. Tinggal dibuka layanan tersebut, kemudian di scan barcode, kemudian dari seluruh bank bisa mengaksesnya. Kita mulai dari masjid sebagai starting point awal sebelum nanti kita ciptakan ekosistem halal seperti kuliner halal, pasar halal dan pemberdayaan pesantren,” papar Leo.

Ketua DMI Kota Pekalongan, Ahmad Slamet Irfan, menargetkan seluruh masjid di Kota Pekalongan bisa menerapkan layanan QRIS ini. Untuk tahap awal, sosialisasi baru mengundang  70 perwakilan takmir masjid. Sementara, untuk jumlah masjid di Kota Pekalongan ada 150 an masjid. Adanya MoU ini adalah kerjasama dalam memberi kemudahan kepada DMI yang akan menggunakan layanan jasa dan produk perbankan berprinsip syariah baik untuk pendanaan maupun pembiayaan. “Masjid yang sudah mengirimkan data dan mendapat buku tabungan dari BSI sudah cukup banyak. Kami menyambut baik layanan ini, khususnya untuk pemberdayaan ekonomi umat. Agar masjid bisa memberi kesejahteraan kepada jemaahnya. Harapanya, kerjasama ini bisa mengoptimalkan fungsi masjid sebagai sentral ibadah dan pemanfaatan jasa perbankan syariah,” tukas Slamet. (**)