Lebih Idealis dan Militan, Kaum Milenial Jadi Target Baru Terorisme

Ngabuburit dan Silaturahmi antara PWI Surakarta, Polda Jateng, dan Yayasan Gema Salam di Adhiwangsa Hotel Solo. Foto : Putri Wijayanti/Jateng Pos

JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Makin banyaknya pelaku kasus terorisme yang berasal dari kalangan anak muda akhir-akhir ini ternyata memang merupakan faktor kesengajaan. Pasalnya, generasi milenial saat ini merupakan sasaran utama perekrutan kaum radikalisme.

Direktur Amir Machmud Center (AMC), Amir Machmud mengatakan, tak heran jika banyak pelaku kasus terorisme masih berusia muda, sebab saat ini radikalisme sudah masuk ke semua kalangan. Mulai dari pelajar, mahasiswa, aparatur sipil negara (ASN) hingga aparat penegak hukum.

“Karena itu, jangan sampai dibiarkan berkembang. Harus ditangkal sejak dini, karena kalau kita biarkan yang namanya radikalisme tidak akan hilang karena merupakan ideologi,” ujarnya dalam diskusi Membendung Radikalisme di Kalangan Anak Muda, pekan lalu.

Salah satunya, pemberian pemahaman dan penguatan sejak dari keluarga. Dimana ibu berperan sangat penting dalam pendidikan keluarga dan dari studi yang ada terungkap jika doktrin radikalisme dari perempuan lebih berbahaya dibandingkan laki-laki.

Ditambahkan eks napiter, Joko Suroso, orang tua harus memperhatikan berbagai aktivitas anak mulai pergaulan, sekolah, hingga tempat ibadah. Mengingat, lanjut dia, semua anak bisa menjadi sasaran kelompok radikalisme. Sehingga harus selektif dalam memilih komunitas pergaulan pada anak.

“Apalagi saat ini yang sedang marak, kelompok radikalisme memang sengaja dan lebih suka merekrut anak muda untuk dijadikan pengantin. Karena anak-anak milenial saat ini memiliki idealisme yang cukup tinggi, apalagi jika dikaitkan dengan sentimen agama. Anak muda lebih militan jika ada hal yang sedang diperjuangkan, karena itu mereka menjadi sasaran karena juga mudah dimasuki,” paparnya.

Sementara itu, Dirintelkam Polda Jateng, Kombes Pol Djati Wiyoto Abadi mewakili Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Ahmad Luthfi mengakui, diperlukan sinergitas antara pihak dan stakeholder untuk membendung radikalisme dan terorisme di Tanah Air. termasuk pelibatan para mantan napiter yang telah mengikuti program deradekalisasi.

“Selain berperan aktif dalam ikut mensosialisasikan program-program deradikalisasi dimana harapannya banyak mantan napiter yang tidak lagi terjerumus ke kelompok lama mereka. Keterlibatan mereka diharapkan juga mampu mencegah radikalisme semakin berkembang di masyarakat,” kata Jati.

Dari data terakhir, di Jawa Tengah ada sekitar 206 eks napiter yang dibina, 26 diantaranya berasal dari Kota Bengawan. “dan Jawa Tengah ini termasuk jumlahnya paling banyak diantara daerah lain,” tuturnya. (jay)