Ledakan di Kabul Tewaskan 21 Orang

Warga berdoa untuk salah satu korban serangan bom bunuh diri kemarin sebelum dimakamkan di Kabul, Afghanistan, Senin (23/4). ANTARA FOTO/REUTERS/Omar Sobhani

JATENGPOS.CO.ID, AFGHANISTAN – Dua ledakan menghantam Kabul, ibu kota Afghanistan, pada Senin, menewaskan sedikitnya 21 orang, termasuk juru foto kantor berita Prancis AFP, tetapi belum ada pernyataan tanggung jawab, kata pejabat.

Juru foto itu, Shah Marai, adalah salah satu kelompok wartawan terjebak dalam ledakan kedua saat meliput ledakan pertama.

Serangan itu terjadi hanya sepekan sesudah ledakan di pusat pendaftaran pemilih menewaskan 60 orang, di tengah peringatan petugas keamanan terhadap ancaman peningkatan serangan menjelang pemilihan anggota parlemen, yang direncanakan berlangsung pada Oktober.

Ledakan pertama pada Senin di daerah Shashdarak di dekat bangunan dinas sandi NDS itu diikuti satu dentuman di luar kementerian pembangunan perkotaan dan perumahan saat orang memasuki kantor pemerintah tersebut.

Empat orang tewas dan lima lagi luka dalam Ledakan pertama, kata Najib Danish, juru bicara kementerian dalam negeri, dengan menambahkan bahwa pihak berwenang mengirim ambulans ke tempat kejadian tersebut.

Segera sesudah itu, ledakan kedua terjadi di samping kelompok wartawan, yang berkumpul untuk meliput ledakan pertama, menewaskan atau melukai sejumlah juru foto dan kamerawan, kata saksi.

Kepala juru foto Agence France-Presse di Kabul, Shah Marai, tewas dalam ledakan itu, kata kantor berita itu di Twitter.

Seorang juru foto Reuters luka ringan akibat pecahan dari ledakan tersebut.

Juru bicara kementerian kesehatan masyarakat menyebutkan jumlah yang tewas mencapai 21 orang dan yang luka 27.

Gerilyawan Taliban, yang berjuang untuk memulihkan hukum keras Islam cara mereka di Afghanistan, pada pekan lalu mengumumkan serangan berkala musim semi dan terjadi pertempuran sengit di beberapa wilayah negara sejak itu.

Ratusan orang tewas dan luka dalam serangkaian serangan tersorot di Kabul sejak awal tahun ini, meskipun Presiden Ashraf Ghani pada Februari menawarkan pembicaraan perdamaian “tanpa prasyarat”. (drh/ant)