Beranda Nasional Legislator Minta Pemerintah Gratiskan Tes Swab agar Penanganan COVID-19 Lebih Cepat

Legislator Minta Pemerintah Gratiskan Tes Swab agar Penanganan COVID-19 Lebih Cepat

8
Pemeriksaan tes usap tenggorokan (swab) untuk mendeteksi virus corona. (Ilustrasi).

JATENGPOS.CO.ID, PATI – Anggota DPR RI Marwan Jafar meminta pemerintah membebaskan biaya tes usap tenggorokan (swab) untuk warga tidak mampu guna mendeteksi ada tidaknya virus corona sehingga peta kasus virus itu semakin terbuka dan penanganannya juga lebih cepat.

“Setidaknya, ketika jumlah warga yang menjalani tes usap tenggorokan semakin banyak, tentunya akan terlihat gambaran penyebaran kasus di masing-masing daerah sehingga nantinya bisa ditindaklanjuti dengan penanganan yang efektif agar tidak semakin meluas,” ujar Marwan Jafar yang juga anggota Komisi VI FPKB DPR RI saat dihubungi lewat telepon dari Pati, Jawa Tengah, Selasa.

Apalagi, kata dia, saat ini yang ditakuti merupakan orang tanpa gejala (OTG) yang bisa menularkan virus corona kepada orang lain.

Untuk itu, lanjut dia, perlu ada upaya menggelar tes usap tenggorokan secara masif agar rantai penularan virus corona bisa diputus.

Menurut dia dengan anggaran yang tersedia saat ini cukup untuk menjalankan program tes swab COVID-19 secara gratis bagi warga miskin karena anggaran kesehatan untuk menangani corona yang semula Rp75 triliun diperbesar hingga Rp89 triliunan.

Tes usap tenggorokan sendiri, kata dia, dinilai lebih akurat, dibandingkan dengan tes cepat (rapid test) corona.

Sementara di daerah, kata dia, pemerintah setempat didorong untuk melakukan hal serupa menggratiskan biaya tes usap tenggorokan bagi warga tidak mampu.

“Jika pemerintah pusat hingga daerah sama-sama menggratiskan biaya tes swab corona, maka penuntasan virus corona tentunya akan lebih cepat karena rantai penularannya bisa segera teratasi,” ujarnya.

Untuk menghindari adanya penyalahgunaan program tes swab corona gratis, maka perlu dilakukan pengawasan secara ketat agar tidak ada komersialisasi secara berlebihan di rumah sakit, terutama yang dikelola swasta.

Program tersebut, kata dia, supaya tidak membuat ketakutan masyarakat untuk membiayai dirinya, karena faktor psikologis masyarakat merasa ketakutan menanggung biaya rumah sakit.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan, mulai dari memakai masker, rajin mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak fisik dengan orang lain serta mencegah kerumunan. (fid/ant)