Beranda Jateng Lima Rahasia Kota Tegal Menjadi Satu-satunya Zona Hijau Covid-19 di Jawa

Lima Rahasia Kota Tegal Menjadi Satu-satunya Zona Hijau Covid-19 di Jawa

50
TELECONFERENCE: Ketua Umum Partai Demokrat AHY saat teleconference dengan walikota Tegal Dedy Yon Supriyono. Foro: ist for jatengpos.co.id

JATENGPOS.CO.ID, TEGAL– Local lockdown Kota Tegal  yang awalnya banjir protes akhirnya tuai pujian. Kini, kota warteg itu adalah satu-satunya Kota di Jawa yang dinyatakan zona hijau covid-19 oleh pemprov Jateng dan pemerintah pusat.

Apa rahasianya? Walikota Tegal, Dedy Yon Supriyono, yang juga kader Partai Demokrat Tegal itu menyebut ada lima kiat yang mereka lakukan selama lockdown.

Dalam teleconference satu jam dengan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono Selasa (2/6), terungkap lima faktor keberhasilan Kota Tegal menangani wabah Covid-19.

“Yang pertama kecepatan, keteguhan, ketegasan, kreativitas dan kolaborasi,”kata Dedy, yang juga pengusaha PO Bus Dedy Jaya itu.

Kecepatan, Dedy mengaku tergerak cepat begitu pemerintah pusat mengumumkan kasus positif pertama pada 2 Maret 2020. Begitu ada warganya yang pulang dari Uni Emirat Arab dan terbukti positif Covid-19, ia langsung memerintahkan lockdown lokal pada 24 Maret.

“Saya mulai diawal itu dengan menggunakan istilah local lockdown, karena pemerintah pusat itu belum mengeluarkan aturan yang kita ketahui seperti PSBB,” kata walikota.

Apa yang diputuskan itu sesuai arahan Ketum Demokrat AHY enam hari sebelumnya, yang mengeluarkan 6 Rekomendasi Partai Demokrat untuk Menanggulangi Wabah Covid-19. Pada poin pertama, PD merekomendasikan melakukan lockdown.

Keteguhan, menurutnya inisiatif yang dia lakukan itu bukan tanpa hambatan. Saat local lockdown diumumkan, Pemda Kota Tegal dibanjiri kritik serta teguran. Masyarakat Kab. Tegal, Brebes, dan Pemalang yang bersebelahan jadi kesulitan. Pemerintah pusat dan provinsi juga sempat mempertanyakan.

“Kalau kita amati di medsos, banyak yang kontra memang dari luar kota Tegal. Tapi untuk orang Kota Tegal sendiri, itu dengan adanya pemblokiran, merasa terlindungi,” kata walikota.

Ketum AHY pun memuji keteguhan walikota ini.  “Memang pemimpin itu selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak mudah, tidak ideal. Pasti ada yang tidak suka, ada yang protes. Tapi Mas Dedi teguh pada prinsip bahwa Kota Tegal harus dilindungi masyarakatnya, jangan sampai kemudian ada satu dua yang terpapar, kemudian bisa menyebarkan virus itu dengan cepat,” pesan AHY.

Ketegasan, keputusan Walikota untuk local lockdown itu dilaksanakan dengan tegas tanpa kompromi. “Ruas jalur yang ada di Kota Tegal atau di jalan-jalan, perempatan-perempatan yang ada di Kota Tegal kita blokir memakai MCB beton,” paparnya.

Beratnya beton antara 600 Kg sampai 4 ton. Ia tidak pakai water barrier karena masyarakat tahu bagaimana mengosongkan air pengisinya. Ketegasan ini juga yang membuat warga yang baru pulang dari UEA dengan sukarela memeriksakan diri pada RS rujukan.

Kreativitas, Dedy melawan virus Corona dengan virus psikologi agar di daerah tetangga atau di kota-kota sekitar Tegal ini tahu betul bahwa Kota di Tegal itu sudah diblokir. Pemda menurunkan petugas untuk membubarkan kerumunan. Selain itu, semua lampu kota dipadamkan sehingga malas untuk datang ke Kota Tegal. “Dengan adanya pergerakan yang sepi ini tentunya Kota Tegal itu jadi aman ya,”imbuhnya.

Ketum AHY tersenyum simpul mendengar uraian ini. Ia memujinya sebagai pola pikir, “Outside the box.”

Kolaborasi, meski dipuji banyak pihak, Walikota Dedy tetap rendah hati. Dia mengajak banyak pihak untuk bisa berhasil.  “Yang jelas keberhasilan di Kota Tegal dalam penanganan Covid-19 ini saya tidak sendiri, saya didukung segenap jajaran Forkopimda Kota Tegal.”

Dia juga mengajak partai-partai lain, ormas, maupun tokoh-tokoh masyarakat maupun agama untuk bersama-sama melindungi kota mereka. Ketum AHY juga mengapresiasi hal ini. ”Koordinasi dan kolaborasi itu juga berawal dari kepemimpinan. Ini juga menjadi instruksi saya dalam rangka menghadirkan solusi mencegah penyebaran Covid-19 di berbagai daerah di tanah air,”jelas AHY.

AHY mengaku sudah lama mengamati gerak langkah Walikota Dedy, pengusaha bis PO Dedy Jaya, yang menjadi kader Partai Demokrat itu. Wakil Walikotanya, Jumadi, adalah profesional yang lama bekerja di Eropa sebelum kembali ke kota kelahirannya dan juga menjadi kader Partai Demokrat. AHY sempat mencuit memuji keberhasilan Walikota (9/5), ketika Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyatakan secara resmi Kota Tegal sebagai zona hijau.

Teleconference Ketum AHY dilaksanakan sehari setelah sebuah media internasional mensejajarkan Walikota Dedy dengan kepala-kepala daerah lainnya di berbagai negara yang berhasil menanggulangi wabah Covid-19.

Sumbangkan Tim Medis

Di penghujung teleconference, Walikota Dedy menyampaikan pada Ketum AHY bahwa Kota Tegal siap menyumbangkan tenaga kesehatannya.

“Tenaga medis kita siap ditugaskan dari Sabang sampai Merauke, dari Myangas sampai Pulau Rote, khususnya di daerah-daerah zona merah seperti Surabaya, Semarang, Jakarta, dan khususnya di Wisma Atlet. Saya sudah akan mempersiapkan Heli M135, berjumlah 35 orang satu pemberangkatannya,”jelas walikota.

Ketum AHY lagi-lagi memuji inisiatif tawaran bantuan ini. Menurutnya ini mengingatkan tentang bagaimana wabah di Wuhan ditangani juga oleh tenaga-tenaga kesehatan dari wilayah-wilayah lain di Tiongkok. Ia berjanji akan menyampaikan tawaran ini pada Panglima TNI dan Pangdam Jaya sebagai koordinator RS darurat di Wisma Atlet.

Asal tahu, tiga bulan sejak kasus pertama Covid-19 diumumkan, Pemerintah mengumumkan skenario ‘Normal Baru’ (New Normal). Pada tahap awal, pelonggaran aktivitas dengan protokol kesehatan dan pengawasan ketat ini baru akan diberlakukan di 102 kabupaten/ kota yang berstatus zona hijau.

Di pulau Jawa, dari 119 kabupaten/ kota yang ada di enam provinsi, hanya Kota Tegal yang sudah berstatus zona hijau. Tidak ada lagi kasus positif dan orang dalam pengawasan (ODP), serta hanya tinggal satu pasien dalam pengawasan (PDP). Padahal ini kota pantai yang sibuk dengan posisinya di pantai Utara Jawa.

Keberhasilan Kota Tegal menjadi zona hijaui ini, membuat masyarakat bisa leluasa lagi bergerak dan jmenghemat anggaran. “Kota Tegal anggarannya kurang dari 20 miliar, penanganan selama 3 bulan. Anggaran kita ini tepat sasaran dan pembelanjaan yang nilainya minim,”tutup Dedy. (*/jan/bis)