Beranda Jateng Mantan Dewan Coba Serobot Dua Kios Pasar

Mantan Dewan Coba Serobot Dua Kios Pasar

320
Dua kios di pasar Ngrejeng yang ingin diserobot pihak lain. FOTO : ARI SUSANTO/JATENGPOS.CO.ID

JATENGPOS.CO.ID, SRAGEN – Warga Dukuh Jomblang  RT 17, Desa Dawung, Jenar, Sragen
bernama Yatmoko resah. Pasalnya, dua kios miliknya di
Pasar Ngrejeng, Ngrampal, Sragen, ada pihak ketiga yang ingin
menyerobotnya. Sehingga Yatmoko, terpaksa menutup kios yang dibelinya sejak 4 tahun ini.

“Meski kios saya tutup sementara, namun restribusi pasar tetap saya bayar setiap harinya,” tutur Yatmoko, Jumat (22/12).

Dikatakan Yatmoko, munculnya persoalan itu terjadi sejak pertengahan  Desember 2017. Ada  pihak  ketiga, seorang mantan anggota dewan  mengakui  memiliki satu  dari dua kios miliknya. Anehnya, orang tersebut tidak mengatakan kios yang mana, lantaran kios itu hanya bernomor 8.

“Untuk bukti kepemilikan dua kios yang saya miliki itu,  saya yakini sangat kuat, namun ada pihak mantan dewan atau wakil rakyat yang diduga ingin menguasainya. Upaya penyerobotan itu dengan  lakukan intimidasi, maka mending saya tutup dulu,” papar Yatmoko.

Diceritakan Yatmoko soal kepemilikan dua kiosnya itu, bermula sekitar bulan Juli 2013, dia datangi Wiyono, warga Dukuh Kerep, Desa Cemeng, Sambungmacan dan Ngadiyo  warga  Desa Drojo, Sambungmacan menawarkan untuk membeli dua kios  di Pasar  Ngrejeng.

“Sebenarnya tidak berhasrat untuk membeli dua kios tersebut, namun karena terus didatangi Wiyono dan Ngadiyo. Akhirnya terjadi transaksi dengan pembelian harga Rp 35 juta untuk dua unit kios,” papar Yatmoko.

Lanjut Yatmoko, pada tanggal  22 juli  2013 dilakukan  akad  jual beli dua unit  kios tersebut dengan Maryono, warga Dukuh Kerep, Desa Cemeng, Sambungmacan, Sragen.  Transaksi itu dilakukan di rumah Wiyono dengan  bukti  pembayaran  kwitansi  bermetrai  Rp 6.000 itu, untuk pembayaran kios nomor 08 yang semula atas nama Maryono maupun kios 07 atas nama Suparlan.

Selanjutnya, untuk menguatkan transaksi itu, Yatmoko juga mengurus buku ijin  guna  usaha  pasar yang semula nama Maryono juga telah dimutasi ke nama Yeni Fania Winda Arista, di hadapan Lurah  Pasar Rayon  Kebonromo, dengan  nomor  agenda  974/III.6/ 68A/2013 dan nomor  agenda  974/III.6/ 69A /2013. Penandatangan surat ijin usaha dua kios tersebut, 17 September 2013.

Bahkan surat ijin itu resmi ditandatangani lurah pasar maupun kepala disperindag. Kemudian dua unit  kios  pasar  itu disewakan hingga bulan  juli  2017. Namun belum sampai habis masa kontrak, kios ditutup pihak penyewa karena merasa usahanya sepi.

“Sejak empat tahun membeli, sebenarnya tidak ada masalah, namun tahu-tahu ada pihak yang ingin menguasai salah satu kios tersebut,” jelas Yatmoko.

Padahal, secara jelas Yeni Fania yang tertuang sebagai pemegang ijin usaha kios itu telah merantau ke Malaysia. Selain itu, untuk pemilik kios 07 atas nama Suparmin dan anaknya Andri. Untuk Suparmin merantau ke Sulawesi.

“Maka sangat aneh ada pihak yang mengaku pemilih salah satu kios di Pasar Ngrejeng itu. Kami sendiri menduga ada kongkalikong dari beberapa pihak untuk menguasai kios saya tanpa dasar,” tandas Yatmoko.

Lurah Pasar Rayon Kebonromo yang membawahi Pasar Ngrejeng, Sukamdi menjelaskan,  membenarkan  dua  unit  kios  milik  Maryono  telah dibalik nama  ke  Yeni  Fania, dengan data kepemilikan kios atas nama Suparmin  dan  Andri Setyawan  masih  utuh.

“Bila ada persoalan lain soal kepemilikan kios tersebut, kami tidak
tahu. Karena lurah pasar mengetahui siapa pemiliknya, berdasar
data kepemilikan yang ada,” papar Sukamdi.(ars/sct/saf)