Masjid Darussalam Sukoharjo Didirikan Abad 14, Jejak Perjuangan Pangeran Diponegoro

MASJID SEJARAH: Masjid Darussalam dari abad 14 masih berdiri kokoh di Kedunggudel Kelurahan Kenep Kecamatan Sukoharjo kabupaten Sukoharjo (ade ujianingsih/Jatengpos)

JATENGPOS. CO. ID, SUKOHARJO – Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah, juga menyimpan jejak sejarah peninggalan perjuangan Pangeran Diponegoro. Yakni sebuah Masjid yang didirikan pada abad 14, namun sampai saat ini masih terawat meskipun mengalami pemugaran.

Masjid Darussalam yang ada di dusun kedunggudel, Kelurahan Kenep, kecamatan Sukoharjo, disinyalir termasuk salah satu masjid kuno di Soloraya peninggalan Sunan Kalijogo.

Meskipun bentuk dan ornamennya sederhana, masjid yang sampai saat ini masih terawat baik itu digunakan masyarakat untuk beribadah. Menjadi saksi bisu perjuangan Pangeran Diponegoro.

“Masjid ini diduga pertama kali didirikan sekitar tahun 1440-an oleh salah satu murid Sunan Kalijaga, yang bernama Kyai Lombok. Sempat dihancurkan dan dibakar oleh Belanda dan pada tahun 1800-an namun dipugar oleh Kasunanan Surakarta, seperti tertuang dalam sebuah prasasti,” kata Sehono, takmir masjid Darussalam, Kamis (21/3/2024).

Masjid itu dipercaya menjadi saksi perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda, yang dibuktikan dengan adanya sebuah sumur yang ditutupi oleh kaca bertuliskan “Sumur Kyai Pleret”.

“Kyai Pleret itu sebenarnya nama dapur tombak. Jadi untuk melegitimasi raja. Di Jawa itu salah satunya harus ada tombak Kiai Pleret. Nah yang melambangkan itu kekuasaan. Sumur Kyai Pleret itu istilahnya kalau Jawa nunggak semi, meniru nama tombak itu,” imbuh Sehono.

Menurut dia, sumur itu digunakan untuk menyimpan harta perang dari Paku Buwana VI (PB VI) ke Pangeran Diponegoro.

“Jadi wilayah perang Pangeran Diponegoro kan luas sekali. Itu hampir separuh Jawa lebih. Itu Pangeran Diponegoro mendapat dukungan dari Kasunanan Surakarta pada masa PB VI itu,” tambahnya.

Masjid Darrusalam yang tak pernah sepi dari warga ini masih menyimpan banyak benda dan ornamen bersejarah. Di Bagian dalam masjid masih ada mimbar peninggalan keraton Kasunanan Surakarta dengan ornamen bunga Wijaya Kusuma khas ornamen Majapahit. Selain itu juga ada tasbih berukuran cukup besar dengan panjang sekitar tiga meter, serta ada 20 tiang pancang masjid terbuat dari kayu utuh berusia ratusan tahun.

“Pada jaman dahulu, Kedunggudel merupakan daerah pesisir Sungai Bengawan Solo yang menjadi jalur penyebaran Agama Islam di tanah Jawa. Dan seiring perkembangan jaman, datang seorang murid salah satu Wali Songo yang akhirnya mendirikan pesantren dan masjid dalam menyebarkan agama Islam di sini,” tandasnya.

Namun karena terletak di sebuah dusun yang jauh dari perkotaan, keberadaan masjid bersejarah ini tidak banyak diketahui masyarakat. Sayangnya, meskipun berusia ratusan tahun, bangunan masjid yang masih sederhana ini belum masuk ke dalam benda cagar budaya yang dilindungi.

Setiap bulan Ramadan, Masjid ini juga bergeliat lebih ramai dari hari biasa. Tidak hanya ramai dikunjungi warga sekitar namun beberapa warga luar kota juga menyempatkan diri beribadah, khususnya mendekati hari raya Idul Fitri. (dea/jan)