Mbah Asrori, Legenda Sedekah dari Semarang Usia 102 Tahun

JATENGPOS.CO.ID,  SEMARANG – Kakek tua yang lagi viral sebagai legenda sedekah ini, namanya Mbah Asrori, warga Jln Patiunus Lamper kota Semarang. Selain dikenal sebagai ahli sedekah, ternyata dia sebagai manusia tertua di Jawa Tengah. Kini usinya sudah 102 tahun.

Uniknya, meski usia sudah satu abad lebih, fisiknya masih kuat. Kata-kata, penglihatan, dan pendengaran masih tajam. Bicaranya nasih ceplas,-ceplos. Setiap hari masih ke masjid sholat lima waktu berjamaah.

Ditanya resep umur panjangnya, kakek asli Mranggen Demak ini mengaku mengamalkan zikir ayat Al Quran. Setiap hari membaca Laqotjaakum 7 kali, Waintawallaw…7 kali, Yaayyu Halladzina amanu…7 kali.

“Tiga ayat itu semua ada di dalam Alquran. Masing-masing dibaca 7 kali setiap habis sholat lima waktu,”katanya, saat Podcast dengan JatengPosTV , Desember 2022 lalu.
Tiga ayat tersebut menurutnya membawa manfaat yang besar dalam hidupnya. Diantaranya bisa umur panjang, tidak pikun, suaranya masih lantang, dan banyak mendapat rizki.

“Umur saya sudah 102 tahun, tapi suaranya masih 27 tahun,”jelasnya sambil terkekeh.
Amalan zikir tersebut, menurur Mbah Asrosi didapat dari Kyainya saat mondok 9 tahun di Mranggen Demak waktu muda.

Karena amalan tersebut, Mbah Asrori juga bisa makan apa saja yang dia suka. Tidak punya pantangan apapun. Dia masih hobi makan tengkleng, sate kambing, duren, dan minumnya selalu es teh. Tidak seperti orang sepuh pada umumnya. Tiap hari masih kebal kebul merokok Djarum Super.

“Pokoknya makanan khalal tak makan semua. Tidak ada yang saya hindari. Tua-tua begini masih bisa makan dua buah duren sekaligus,”imbuh kakek 3 anak, 11 cucu, 15 buyut, dan 1 canggah itu.

Karena hobi makan tersebut, pemilik nama lengkap Ahmad Asrori itu pernah diundang Saptuari, seorang motivator sekaligus pemilik warung tengkleng Ho Hah di Jogjakarta. Dijamu makang tengkleng porsi jumbo hingga habis yang videonya viral dimana-mana itu. Pulangnya dibelikan sepeda listrik yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Bahkan juga diumrohkan ke tanah suci.

“Didundang ke Jogja, suruh makan tengkleng, pulangnya masih disangoni Rp 4 juta,”imbuhnya.

Karena masih sehat dan umur panjang, Mbah Asrori setiap Jumat Pagi juga masih keliling kota untuk berbagi nasih sedekah. Tiap Jumat membagikan 100-150 bungkus nasi. Itu dilakukan sejak 30 tahun lalu hingga sekarang.

Dengan naik sepeda listrik, kakek tua itu tiap Jumat berangkat jam 7 pagi membagikan nasi kepada orang-orang di pinggir jalan. Setelah habis, nanti balik lagi keliling tahap dua jam 9 sampai jam 11. Setelahnya lanjut ke masjid untuk sholat Jumat.

Cara membagi nasipun cukup unik. Sambil naik sepesa dia membunyikan musik religi, dangdut lawas, tilawah dll dari tape yang dipasang di sepedanya. Itu yang selalu menyita perhatian orang yang melihatnya.

Untuk nasi sedekah, Mbah Asrori pesan kepada janda di kampungnya. Sedangkan dananya dari uang pribadi pemberian orang-orang saat ketemu di jalan atau di masjid.

“Salah satu hikmah zikir, setiap salaman sama orang saya dikasih uang. Lalu saya kumpulkan untuk membeli nasi sedekah, jadi uang pemberian orang saya bagikan lagi ke orang lain,”imbuh pria yang mengaku pernah punya tiga istri itu.

Dari kegiatanya itu, Mbah Asrori dikenal sebagai legenda sedekah dari Semarang. Banyak media dan youtuber yang meliputnya. Bahkan banyak pejabat dan orang penting memintanya doa untuk hajat-hajat tertentu.

“Saya kapan hari diminta ke Kudus sama bos PO Haryanto untuk mendoakan busnya supaya laris, dulu juga dihajikan sama Ikhwan, bosnya Lindu Aji. Ada beberapa orang yang jadi lurah dan DPR setelah saya doakan,”tutupnya. (jan)