Beranda Opini Membangun Semangat Mandiri Energi dari Desa

Membangun Semangat Mandiri Energi dari Desa

111
Anatta Wahyu Budiman, PhD dan Eksa Rusdyana, M.Sc

ANCAMAN menipisnya cadangan minyak dan gas dunia yang tidak berimbang dengan meningkatnya kebutuhan energi akibat meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi tantangan bagi setiap negara, khususnya Indonesia untuk mengembangkan bahan bakar alternatif yang bersifat baru dan terbarukan (EBT).

Dalam paket kebijakannya, pemerintah telah mengupayakan pengembangan EBT melalui Permen ESDM Nomor 50 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik, Permen ESDM Nomor 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Tenaga Surya Atap Oleh Konsumen PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), dan Kepmen ESDM No. 39 K/20/MEM/2019 tentang Pengesahan RUPTL PLN 2019-2028.

Target besar dari kebijakan ini adalah meningkatnya bauran energi terbarukan hingga 23% pada tahun 2023 dengan rincian tahun PLTA 10,4%, dan PLTP dan EBT lainnya sebesar 12,6%.
Namun demikian, paket paket kebijakan ini hingga saat ini belum menyentuh kalangan bawah khususnya di pedesaan. Baik diskusi, penelitian, maupun aplikasi dari isu energi baru ini umumnya didominasi oleh para akademisi dan ilmuan sehingga seolah-olah isu tersebut menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan oleh para petani, peternak, atau nelayan di desa desa.

Padahal, dibanyak daerah, sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan energi terbarukan tersebut sangat melimpah. Sebagai contoh, pada tahun 2016, kelompok tani Suka Maju Desa Kaliboto, Kecamatan Mojogedang, Karanganyar Jawa Tengah membuang puluhan kilogram kotoran ternak setiap harinya karena dianggap limbah.

Para petani yang rata-rata memiliki ternak sapi 1-2 ekor per rumah tangga tersebut selama ini tidak memanfaatkan kotoran ternak untuk dijual, melainkan diletakkan di lahan persawahan, atau dibiarkan saja menimbun di sekitar kandang. Padahal kotoran ternak ini berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai biogas, yang merupakan gas yang memiliki kualitas lebih baik dari LPG.

Adanya kesenjangan antara adopsi pengetahuan dan teknologi di tataran petani-peternak diyakini masih menjadi kendala pemanfaatan kotoran ternak sebagai sumber energi masyarakat.

Oleh karena itu kemitraan pentahelix antara masyarakat pedesaan-pemerintah-sektor swasta-media dan akademisi perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mengintroduksikan teknologi sederhana pengelolan limbah ternak menjadi biogas skala rumah tangga.

Melalui Program Kemitraan Masyarakat, Kementrian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi tahun 2019, Kepala dusun Kaliboto, Sutris, bersama Tim pengabdian masyarakat Universitas Sebelas Maret berusaha menumbuhkan semangat untuk mengembangkan energi terbarukan berbasis kotoran ternak di Dusun Kaliboto tersebut melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat kepada anggota kelompok tani.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat yang telah dilaksanakan meliputi penyuluhan pemanfaatan kotoran ternak, penguatan kapasitas individu dan kelompok, focus group discussion, anjangsana, serta percontohan menjadikan anggota kelompok tani memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam memanfaatkan kotoran ternak menjadi energi alternatif.

Atas inisiasi Sutris, saat ini, dengan empat biogas digester yang telah dibangun, kebutuhan sebagian masyarakat akan gas untuk memasak telah terpenuhi. Dengan pengisian rutin setiap harinya, satu biogas digester dengan kapasitas 9.6 m3 yang dibangun mampu memenuhi kebutuhan memasak untuk dua hingga tiga rumah.

Sebagai tindak lanjut dari program ini, kepala dusun bersama perangkat desa menjadikan daerah ini sebagai desa percontohan mandiri energi sebagai portofolio untuk mengajukan hibah dana desa yang sehingga biogas memberi kemanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat.

Ke depan, dengan dana desa tersebut akan dibangun biogas digester berukuran lebih besar di lahan milik desa yang selama ini belum dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan energi mandiri masyarakat Kaliboto. Digester Biogras ini kedepannya tidak hanya untuk memasak melainkan juga untuk listrik penerangan seluruh wilayah di desa.

Adapun feed kotoran yang dibutuhkan disupply dari bank feses yang merupakan tempat penumpukan kotoran ternak warga desa yang lokasinya tidak jauh dari lahan desa tersebut.

Selain manfaat sebagai penyedia energi, produk samping keluaran biogas digester ini juga memberikan manfaat bagi masyarakat desa sebagai pupuk organik berkualitas tinggi. Slury sebagai produk samping biogas saat ini juga sudah dikembangkan masyarakat Kaliboto sebagai pupuk organik.

Slury menjadi bahan baku pupuk organik yang sudah setengah jadi karena tidak perlu difermentasikan lagi. Kehadiran pupuk ini mengubah pola pertanian masyarakat menjadi pertanian organik yang memberikan keuntungan ekonomis lebih besar daripada pertanian konvensional.

Melalui pemanfaatan kotoran ternak, masyarakat dikembangkan menjadi masyarakat mandiri energi dan pertanian yang terpadu dan berkelanjutan.

Anatta Wahyu Budiman, PhD dan Eksa Rusdyana, M.Sc
(Dosen Universitas Sebelas Maret)