Meningkatkan Pemahaman Salat melalui Problem Posing

Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah mata pelajaran yang mengajarkan tentang tuntunan hidup yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama. Pembelajaran PAI sangat kompleks karena mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia. Selama ini metode pembelajaran yang diterapkan dalam pembelajaran PAI masih didominasi oleh metode ceramah karena dianggap paling sederhana dan mudah dalam menyampaikan informasi. Namun jika diterapkan pada anak seusia Sekolah Dasar, sering kali membuat bosan siswa. Karena usia Sekolah Dasar secara psikologis masih gemar bermain.

Metode ceramah dimana guru berdiri di depan kelas menjelaskan materi pelajaran, sedangkan siswa secara pasif mendengarkan penjelasan guru. Cara mengajar demikian itu tentu sudah tidak relevan karena mengabaikan substansi belajar itu sendiri. Pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai objek yang pasif cenderung membuat siswa jenuh dalam belajar.

Oleh karena itu, metode-metode modern perlu digunakan. Tidak hanya menekankan pada ranah kognitif saja, tetapi juga ranah afektif dan psikomotor. Hal ini lebih khusus dalam memahami konsep materi salat dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari pada peserta didik kelas III SD Negeri 05 Pelutan. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep materi salat dan ketentuan-ketentuannya. Guru sangat berpengaruh dalam kegiatan pembelajaran di kelas dan kegiatan siswa secara individu.

Problem posing adalah metode yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Metode ini merupakan suatu model pembeljaran dimana siswa diminta untuk menyusun soal berdasarkan situasi atau informasi yang diberikan. Pengajuan masalah oleh siswa merupakan ciri utama metode pembelajaran ini. Pemecahan masalah yang dilakukan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana sehingga mudah dipahami (Suyatno, 2009 : 6). Masalah yang dimaksud adalah soal-soal tentang materi salat. Sehingga problem posing dapat diartikan sebagai membuat soal atau membuat masalah.

Siswa dilatih untuk mencari kemungkinan solusi yang lain dengan mengembangkan konsekuensi yang diterima jika mereka mengambil salah satu solusi masalah tersebut. Dalam pembelajaran problem posing, masalah yang diajukan tidak harus baru. Hal tersebut juga menyangkut pembentukan kembali dari permasalahan yang telah ada atau pembentukan masalah dari masalah yang telah ada atau bahkan pembentuk masalah yang telah diperoleh solusinya.

Siswa tidak hanya menerima materi dari guru, melainkan juga berusaha menggali dan mengembangkan sendiri. Oleh karena itu, keterlibatan siswa untuk turut belajar dengan model pembelajaran ini merupakan salah satu indikator keefektifan belajar. Sehingga model pembelajaran ini tidak hanya dapat meningkatkan kreativitas siswa, tetapi juga hasil belajar yang baik.

Langkah-langkah pendekatan problem posing, yaitu a) persiapan, penyampaian tujuan pembelajaran dan menggali pengetahuan awal siswa tentang materi; b) pemahaman, penjelasan singkat guru tentang materi yang akan dipelajari siswa; c) situasi masalah, pemberian situasi masalah atau informasi terbuka pada siswa, situasi masalah dapat berupa studi kasus atau informasi terbuka berupa teks dan gambar; d) pengajuan masalah, siswa mengajukan pertanyaan dari situasi masalah atau informasi terbuka yang diberikan guru; e) pemecahan masalah, siswa memberikan jawaban atau penyelesaian soal dari pertanyaan yang telah diajukan oleh siswa; f) verifikasi, mengecek pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari.

Langkah pembelajaran tersebut dapat memberikan manfaat bagi siswa yaitu membantu keyakinan, kesukaan dan kreativitas, yang akan berpengaruh terhadap kemampuan memecahkan masalah, mendorong siswa lebih bertanggung jawab dengan belajarnya, dapat mengetahui kesalahan dan miskonsepsi siswa, serta membantu memperkaya konsep-konsep dasar.

 

Dra. Tri Mulyasih

Guru PABP SDN 05 Pelutan Kec. Pemalang Kab. Pemalang