Metode STAD Tingkatkan Hasil Belajar IPAS

Budi Susanta Putra,S.Pd.SD

Pendidikan bermutu tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi merupakan hasil dari proses yang berjalan dengan baik, efektif, dan efisien dalam meningkatkan mutu pendidikan..Pendidikan dikatakan bermutu apabila proses pembelajaran berlangsung secara efektif dan menyenangkan sehingga peserta didik mendapatkan suatu pengalaman dari pembelajaran tersebut. Pengalaman itu tentunya merupakan sebuah produk yang dapat menambah wawasan  bagi peserta didik. Pengalaman yang diperoleh siswa akan semakin berkesan apabila proses  pembelajaran yang diperolehnya merupakan hasil dari pemahaman dan penemuannya sendiri. Proses pembelajaran hendaknya melibatkan siswa untuk merumuskan sendiri suatu konsep. Keterlibatan guru hanya sebagai fasilitator dan moderator dalam proses pembelajaran tersebut.

Pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial kelas IV tentang materi kekayaan budaya Indonesia yang          terjadi di SD Negeri 1 Genengadal menunjukkan kurangnya daya serap siswa sehingga prestasi siswa jauh di bawah rata-rata capain pembelajaran yang ditentukan.Pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial kelas IV SD Negeri 1 Genengadal, guru menggunakan metode yang kurang sesuai sehingga menjadi penyebab utama merosotnya hasil belajar. Selama proses pembelajaran siswa cenderung diam tanpa memberikan respon dan siswa sama sekali tidak memberi tanggapan apapun terhadap penjelasan guru.

Pemilihan metode sangatlah berpengaruh kepada hasil belajar peserta didik, karena dengan pemilihan metode yang tepat dapat membuat peserta didik atau siswa menjadi lebih memahami materi yang disampaikan. Tidak hanya itu, pembelajaran jika menggunakan metode yang sesuai juga akan mengaktifkan siswa sehingga terjadi interaksi dua arah antara guru dan siswa.

Metode pembelajaran sangat banyak sekali di antaranya adalah metode STAD. Metode STAD tersebut sangat cocok untuk pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial dengan materi kekayaan budaya Indonesia, untuk itu peneliti akan mencoba melakukan tindakan perbaikan pembelajaran dalam materi tersebut dengan menggunakan metode STAD.

            Model pembelajaran STAD adalah salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang dilakukan dengan cara membagi peserta didik dalam beberapa kelompok kecil dengan kemampuan akademik yang berbeda-beda agar saling bekerjasama untuk menyelesaikan tujuan pembelajaran (Huda, 2015, hlm. 201). Intinya model STAD ini adalah aplikasi paling sederhana dari pembelajaran kooperatif. Seperti yang diutarakan Slavin (2015, hlm. 143) STAD merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif. STAD merupakan singkatan dari Student Teams Achievement Division yang berarti divisi prestasi tim siswa. Model ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan rekan-rekannya di Universitas John Hopkins. Gagasan utama STAD adalah memacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang diajarkan guru (Slavin dalam Rusman, 2018, hlm. 214).

            Jadi, dengan penerapan metode STAD diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial materi tentang kekayaan budaya Indonesia pada siswa kelas IV.Dengan menggunakan metode STAD mampu membuat siswa menjadi aktif. Hal tersebut karena dalam pembelajaran STAD siswa dibentuk kelompok-kelompok kecil untuk berdiskusi dan tanya jawab sehingga penjelasan dari guru dapat dipahami atau dimengerti. Siswa lebih memahami materi karena terjadi interaksi aktif antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa saat melakukan diskusi dan tanya jawab tersebut.

            Bagian yang sangat penting dalam metode STAD ini adalah siswa diajarkan untuk bekerja dalam kelompok tanpa haus membeda-bedakan sehingga akan tumbuh rasa toleransi yang tinggi dalam jiwa siswa karena dalam tim atau kelompok harus tercipta suatu kerjasama antar siswa yang beragam untuk mencapai kemampuan akademik yang diharapkan. Tim terdiri dari 4-5 orang siswa yang memprioritaskan heterogenitas (keberagaman) kelas dalam prestasi akademik, gender/jenis kelamin, ras atau etnik.

 

Oleh : Budi Susanta Putra,S.Pd.SD

SDN 1 GENENGADAL