Musim Paceklik, Produksi Padi di Semarang Melimpah

Kepala Badan Penyuluhan dan pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian / Kepala BPPSDMP Momon Rusmono tampak melakukan panen padi di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Selasa (19/12/2017). FOTO : AHMAD SUUDI/JATENGPOS.CO.ID

JATENGPOD.CO.ID, SEMARANG – Meski sekarang masuk musim paceklik 2017, produksi padi di Kabupaten Semarang tetap melimpah dan cukup untuk memenuhi kebutuhan beras konsumsi masyarakat hingga lima bulan ke depan. Sehingga harga di masyarakat tetap stabil.

Melimpahnya produksi padi di Kabupaten Semarang itu juga ditandai panen raya di Desa Pojoksari Kecamatan Ambarawa yang dikelola Kelompok Tani Ngudi Makmur, Selasa (19/12/2017). Panen raya dilakukan bersama Kementerian Pertanian RI.

Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Semarang Samsul Hidayat mengatakan, di Kabupaten Semarang tanam padi September 2017 menghasilkan panen 230.585 ton pada Desember ini .Sedangkan targetnya adalah 228.659 ton.

Sementara kebutuhan di Kabupaten Semarang hanya 88.000 ton. Sehingga masih surplus, bahkan aman untuk 5 bulan kedepan.

“Tahun ini surplusnya mencapai 41 ribu ton lebih. Ini mengalami peningkatan bila dibanding tahun 2016 yang surplusnya 20 ribu ton,”ungkapnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian / Kepala BPPSDMP Momon  Rusmono mengaku bangga dengan hasil panen di Kabupaten Semarang yang mengalami surplus sangat besar sekali.

“Ini kebutuhan masyarakat berarti sudah terpenuhi. Karena faknya surplus sampai lima bulan kedepan. Artinya kita tidak perlu melakukan impor beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,”katanya.

Dia menjelaskan, terjaminnya produksi padi Kabupaten Semarang ini disebabkan karena Pemerintah Pusat dan Daerah benar-benar terus menjamin bahkan meningkatkan produksi padi.

Misalnya, untuk mengantisipasi dampak paceklik, pemerintah telah menyalurkan bantuan cukup banyak ke petani, seperti pompa air, traktor dan benih berkualias, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, embung dan lainnya.

“Pendampingan dan terjun ke lapangan pun masif dilakukan untuk memantau perkembangan tanaman. Jadi proses produksi berjalan lancar,” jelasnya.

Sementara itu Ketua Kelompok Tani Ngudi Makmur Desa Pojoksari, Kecamatan  Ambarawa, Sariyono menyampaikan terimakasih a5as bantuan dan perhatian pemerintah selama ini.

Di Desa Pojoksari tanaman padi yang ditanam selama ini adalah varitas Sri Makmur, yang merupakan varitas lokal.

Namun demikian, hasilnya sangat memuaskan sekali. Per hektar mampu menghasilkan 9-11 ton padi. Bahkan di tempat-tempat tertentu bisa menghasilkan lebih banyak.

“Kami mohon supaya pemerintah mematenkan varitas Sri Makmur ini.varitas ini tahan hama wereng cokelat, tidah mudah roboh, berasnya juga pulen dan enak,”paparnya.

Perlu diketahui, berdasarkan data Kementan, luas tanam padi secara nasional pada Juli – September 2017 mencapai 1,0 – 1,1 juta  hektar perbulan. Ini berarti naik dua kali lipat dari tahun sebelum ada program Upsus hanya 500 ribu hektar perbulan.

Total panen padi di bulan Desember 2017 ini seluas 1,1 juta hektar dengan hasil mencapai 6 juta ton GKG atau 3 juta ton beras. Produksi ini mampu memenuhi kebutuhan konsumsi beras nasional  2,6 juta ton dan berarti surplus 0,4 juta ton.

Peningkatan luas tanam musim kering Juli -September naik dua kali lipat merupakan solusi permanen dari dampak Program Upsus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Dimana telah menyelesaikan rehabilitasi jaringan irigasi tersier 3,4 juta hektar atau 113%, pembangunan 2.278 unit embung/dam parit/ long storage, perluasan dan optimasi lahan 1,08 juta hektar, pengembangan lahan rawa 367 ribu hektar.

Mekanisasi dengan bantuan alsintan traktor, pompa, rice transplanter, combine harvester 284.436 unit naik 2.175 persen dari tahun 2014. Kemudian, bantuan benih 12,1 juta hektar, pupuk bersubsidi 27,64 juta ton serta asuransi usahatani padi 1,2 juta hektar.(bis/udi)