JATENGPOS.CO.ID, JAKARTA- Ketua DPP PDI Perjuangan, Deddy Sitorus, tak terima ketum partai yang juga Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri, terseret namanya di kasus tudingan ijazah palsu Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi).
Hal ini menindaklanjuti pernyataan politikus Partai Demokrat, Andi Arief, yang menyebutkan bahwa Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merasa terganggu dikaitkan dengan isu ijazah palsu hingga dianggap berkolaborasi dengan Megawati.
“Itu kan upaya orang yang merasa tersudut soal ijazah palsu untuk mengalihkan isu, agar seolah-olah dizalimi secara politik. Padahal sangat jelas kelompok dan orang yang meributkan soal ijazah itu adalah kelompok dan orang yang berseberangan dengan yang dituduh memakai ijazah palsu sejak pemilu 2014,” kata Deddy kepada wartawan, dilansir dari detikcom, kemarin.
Deddy menyatakan isu ijazah adalah ranah hukum dan etika, bukan masalah politik. Deddy menilai wajar dan pantas jika Demokrat mengambil langkah hukum terkait tudingan itu.
“Masalah ijazah itu adalah urusan hukum dan etika, bukan masalah politik. Tanggapan saya, sangat wajar dan pantas kalau pihak yang menuduh itu dibawa ke ranah hukum supaya terang benderang dan ada efek jera,” katanya.
Anggota Komisi II DPR RI ini mengatakan bukan kekhasan Megawati untuk bermain belakang dalam politik. Menurut dia, Megawati merupakan sosok ksatria yang tak akan menyerang pihak lain.
“Bukan kelas Ibu Megawati untuk main politik di belakang, jalan politik Bu Mega itu jalan ksatria. Bukan jalan pengecut, meminjam tangan atau mulut orang untuk menyerang pihak lain. Itu tabiat pengecut,” ungkapnya.
Sebelumnya, politikus Partai Demokrat, Andi Arief, menyebutkan SBY merasa terganggu karena dikaitkan dengan isu ijazah palsu Jokowi. SBY, kata Andi Arief, mempertimbangkan langkah hukum terhadap pihak yang menyeret namanya di isu ijazah Jokowi.
Dalam keterangan video, Rabu (31/12/2025), Andi Arief mengaku baru-baru ini bertemu dengan SBY. Andi Arief menyebutkan SBY sama sekali tidak terlibat di isu ijazah Jokowi dan dia terganggu oleh hal itu.
“Saya bertemu Pak SBY beberapa hari lalu, Pak SBY cukup terganggu dengan isu ini karena tidak benar yang disebutkan Pak SBY berada di balik isu ijazah palsu ini atau bahkan disebut Pak SBY berkolaborasi dengan Ibu Megawati dalam mengungkap soal ijazah palsu Pak Jokowi ini,” kata Andi Arief.
Andi Arief mengatakan pihak yang menyeret SBY dalam pusaran isu ini adalah akun-akun anonim di media sosial. Pihaknya sudah tahu afiliasi dari akun anonim tersebut.
“Sangat masif sekali fitnah yang dilakukan oleh akun-akun yang sebagian besar anonim yang kita tahu afiliasinya ke mana, yang membuat berita fitnah seolah-olah Bapak SBY berada di balik isu ijazah palsu Pak Jokowi yang sekarang sedang berseteru antara Pak Jokowi dan Roy Suryo dkk. Ini tentu sangat mengganggu,” katanya.
Isu yang menyeret nama SBY dan Partai Demokrat sejatinya bukan hal baru. Sejak Juli 2025, Demokrat dituding membekingi pihak-pihak yang meragukan keaslian ijazah Jokowi.
Saat itu, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) langsung menepis tudingan tersebut. Ibas menegaskan tidak ada kaitan antara Partai Demokrat dengan isu ijazah palsu Jokowi.
Ibas menyebut narasi yang menuding Demokrat sebagai dalang di balik isu tersebut sebagai fitnah dan berpotensi menyesatkan publik.
“Kami dari Partai Demokrat menanggapi dengan tegas tuduhan bahwa ‘partai biru’ adalah dalang di balik isu ijazah palsu Presiden Joko Widodo. Tuduhan ini adalah fitnah keji, tidak berdasar, dan merupakan bentuk pembunuhan karakter terhadap institusi politik yang sah. Kami menolak keras segala bentuk politisasi kebohongan demi kepentingan sempit,” kata Ibas dalam pernyataannya kepada wartawan, Selasa (29/7/2025).
Ibas juga menegaskan Demokrat tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan isu ijazah palsu tersebut. Wakil Ketua Umum Partai Demokrat ini menyebut Roy Suryo, yang selama ini vokal meragukan keaslian ijazah Jokowi, bukan lagi kader Demokrat sejak 2019. (dtc/muz)

