29 C
Semarang
Minggu, 8 Maret 2026

Program Pendampingan Gizi Nestlé Indonesia Berdampak Nyata dalam Pencegahan Stunting

JATENGPOS.CO.ID, JAKARTA –  Nestlé Indonesia menutup rangkaian Program Pendampingan Gizi 2025 bersama seluruh mitra lintas sektor, yaitu Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), TP PKK Kabupaten Batang, Guru Besar Pangan dan Gizi IPB Prof. Ali Khomsan, serta Edu Farmers selaku mitra field officer.

Momentum ini kembali menegaskan pentingnya intervensi gizi anak usia dini yang konsisten, terpantau, dan berbasis kolaborasi dalam mendukung pencegahan stunting di Indonesia.

Sejak Juli 2025 hingga Januari 2026, program ini menjangkau 598 keluarga dengan anak berisiko stunting melalui pendampingan 147 kader, serta pembekalan edukasi kepada 520 ibu hamil dan menyusui di Kabupaten Karawang, Batang, dan Pasuruan.

Program ini berhasil menurunkan prevalensi underweight (berat badan kurang) dan severe underweight (berat badan sangat kurang) sebesar 22,5%, disertai perbaikan indikator pertumbuhan anak serta peningkatan pemahaman keluarga terkait pemenuhan energi dan gizi harian.

⁠Plt. Direktur Kemendukbangga/BKKBN Dr. Yuni Hastutiningsih, SKM., M.Kes menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor seperti yang dilakukan oleh PT Nestlé Indonesia merupakan faktor kunci dalam memperkuat upaya pencegahan stunting. “Oleh karena itu, mari kita terus memperkuat sinergi menjaga konsistensi dan memastikan bahwa setiap program yang dijalankan benar-benar memberikan dampak nyata bagi keluarga Indonesia.”

Marketing Manager PT Nestlé Indonesia, Ankur Mittal, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya tercermin dari capaian angka, tetapi dari perubahan perilaku yang berkelanjutan. “Bagi kami, dampak terpenting tidak hanya terlihat dari perbaikan indikator pertumbuhan, tetapi juga dari perubahan perilaku berkelanjutan yang terjadi di tingkat keluarga dan komunitas. Melalui kombinasi pemenuhan energi dan protein yang mudah diakses, edukasi keluarga, serta pemberdayaan kader, kami melihat perubahan positif pada pertumbuhan anak sekaligus praktik gizi keluarga di tingkat rumah tangga.”

Baca juga:  Saatnya Perkuat Ideologi Pancasila untuk Hadapi Tantangan Masa Depan

Sementara itu dari perspektif akademis, Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University, Prof. Ali Khomsan, menjelaskan bahwa pendekatan sederhana yang dilakukan secara konsisten mampu memberikan dampak signifikan. “Hasil pemantauan menunjukkan peningkatan indikator berat dan tinggi badan anak, serta penurunan prevalensi underweight sebesar 22,5%. Ini menegaskan bahwa intervensi berbasis protein hewani yang dipadukan dengan pemenuhan energi harian dan edukasi keluarga, jika dilakukan secara konsisten dan terpantau, dapat memberikan dampak nyata. Berat badan stagnan merupakan indikator awal risiko gangguan pertumbuhan, sehingga pendekatan preventif menjadi sangat penting.”

Di lapangan, peningkatan pemahaman keluarga juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan praktik gizi. Market Nutritionist Lead PT Nestlé Indonesia, Jennifer Handaja, menjelaskan bahwa sebagian keluarga menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan energi dan variasi konsumsi anak secara optimal. “Temuan baseline menunjukkan adanya kesenjangan pada pemenuhan energi dan zat gizi mikro penting seperti zat besi dan kalsium. Karena itu, intervensi difokuskan pada solusi yang realistis dan mudah diterapkan sehari-hari. Melalui edukasi, pendampingan kader, dan monitoring rutin, keluarga menjadi lebih percaya diri dalam memenuhi kebutuhan gizi anak serta menerapkan praktik makan yang lebih baik di rumah.”

Gambaran pelaksanaan program pendampingan gizi juga dipaparkan langsung oleh Ketua TP PKK Kabupaten Batang, Faelasufa, S.IP., M.PP. Beliau menyampaikan pendekatan pendampingan dan edukasi dalam intervensi di tingkat desa merupakan kunci penting dalam keberhasilan program. “Pada program GENTING (Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting) TP PKK tahun kemarin, kami menjadi orang tua asuh bagi 272 anak (di Kabupaten Batang). Kami ukur berat badan mereka sebelum program mulai, kemudian setiap bulan kita juga kerjasama dengan posyandu untuk menarik data berat badan mereka. Alhamdulillah, 98 persen dari anak-anak tersebut berat badannya naik selama kita memberikan intervensi GENTING,” ungkapnya.

Baca juga:  Publik Puas Kinerja Kang Emil Tangani Pandemi Covid-19

Dampak program juga dirasakan langsung oleh keluarga penerima manfaat. Perwakilan Orang Tua Penerima Manfaat Intervensi Gizi dari Nestlé di Pasuruan, Himmatul Ulya, menyampaikan bahwa pendampingan dan edukasi kepada kader dan keluarga membantu pemahaman akan pentingnya gizi seimbang serta pemantauan rutin tumbuh kembang anak setiap harinya.

Program ini dirancang bukan sekadar sebagai intervensi jangka pendek, melainkan sebagai model pendekatan berkelanjutan yang memperkuat kapasitas keluarga, kader, dan komunitas dalam menjaga praktik gizi yang baik di tingkat rumah tangga, sejalan dengan komitmen global Nestlé untuk mendukung 50 juta anak hidup lebih sehat pada 2030.

Selain intervensi kepada anak, program juga memperkuat edukasi keluarga melalui sesi pembelajaran gizi, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), dan keamanan pangan, termasuk jajanan sehat. Dalam pelaksanaannya, karyawan Nestlé Indonesia turut terlibat dalam kegiatan volunteering untuk mendampingi kader posyandu dan keluarga penerima manfaat di lapangan. Keterlibatan ini memperkuat dukungan nyata perusahaan dalam meningkatkan kualitas gizi komunitas lokal.

Sebagai perusahaan “Good food, Good life”, Nestlé Indonesia berkomitmen memanfaatkan potensi makanan untuk meningkatkan kualitas hidup setiap individu, saat ini dan untuk generasi mendatang.

Komitmen ini diwujudkan melalui dukungan berkelanjutan terhadap agenda Pemerintah dalam penurunan dan pencegahan stunting melalui berbagai inisiatif, antara lain DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting), Program 100 Hari Pendampingan Gizi, serta Program Pendampingan Gizi 2025 yang merupakan bagian dari inisiatif global Nestlé Dukung Anak Lebih Sehat (Nestlé for Healthier Kids).

Ke depan, Nestlé Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pendekatan preventif melalui peningkatan kapasitas keluarga dan komunitas agar praktik gizi baik dapat diterapkan lebih dini dan berkelanjutan. (Prast.wd/biz)



TERKINI

Rekomendasi

...