Optimalisasi Penggunaan Bahasa Jawa Krama Berbasis Self Afficacy

Cipto Mulyo, S.Pd.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah meluncurkan program Merdeka Belajar. Merdeka Belajar dibutuhkan di era saat ini, anak-anak tidak lagi harus mengikuti kurikulum yang tersedia, namun bisa menggunakan metode belajar yang paling cocok digunakan. Kemudian, kemerdekaan itu juga berlaku untuk guru di dalam kelas, agar dapat menentukan sendiri apa cara mengajar yang terbaik untuk anak didiknya. Selain itu, guru juga dapat secara merdeka untuk memilih elemen-elemen dari kurikulum yang terbaik. Merdeka Belajar untuk mengembalikan sistem pendidikan nasional kepada esensi undang-undang dengan memberi kebebasan kepada sekolah, guru dan murid untuk bebas berinovasi, bebas untuk belajar dengan mandiri dan kreatif, dimana kebebasan berinovasi ini harus dimulai dari guru sebagai penggerak pendidikan nasional. Kebijakan program Merdeka Belaja” diluncurkan untuk mewujudkan kualitas SDM Indonesia.

Mengoptimalkan penggunaan Bahasa Jawa karma berbasis self afficacy pada siswa di SMP Negeri 4 Bodeh pada kurikulum yang terbaru untuk pembelajaran mata pelajaran Bahasa Jawa. Bahasa Jawa merupakan mata pelajaran muatan lokal yang menjadi penting karena diharapkan bisa tercapai tujuannya. Yaitu melestarikan bahasa ibu dan menjadikannya sebagai pendidikan karakter karena memuat banyak kearifan lokal.

Salah satu factor yang mempengaruhi peran aktif siswa dalam pembelajaran adalah self afficacy. Schunk (dalam Dzulfikar, 2014) dan Jatisunda (2017) menjelaskan bahwa seorang siswa memiliki self afficacy tinggi, mereka akan berusaha keras menunjukkan usahanya untuk berhasil begitupun sebaliknya. Muaranya adalah siswa memiliki kesiapan yang memadai untuk menghadapi berbagai tantangan yang muncul dalam kehidupan nyata. Kadangkala siswa tidak percaya diri dalam menggunakan Bahasa Jawa Krama. Faktornya bermacam-macam, ada yang karena kurang memahami Bahasa Krama, takut salah, gengsi memakai bahasa ibu, atau karena memang tidak tertarik bahkan ada yang mengatakan kuno atau tidak gaul. Nah disinilah peran self afficacy harus dioptimalkan. Berikut adalah contoh kegiatan materi Bahasa Krama: (1) Penyampaian pesan dilakukan melalui Whatsapp (WA), karena dianggap sebagai media yang terjangkau berbagai kalangan. Contoh kalimatnya “Putra-putriku sing tak tresnani, dina iki pak guru kepingin mangertini basa kramamu marang bapak ibumu ing ndalem. Yaiku kepriye anggonmu matur nalika arep mangkat sekolah!”.

“Bapak ibu, dalem badhe pangkat sekolah”. (Bapak ibu, saya mau berangkat kesekolah). Ekspresi bahasa ini akan membawa pengalaman anak ikut berperan serta dalam berpakaian/penampilan. Hal ini juga menjadi media orang tuanya untuk menerapkan basa kramanya kepada orang tuanya. Dari setiap pengirimannya, guru membalas setiap kiriman dengan “Injih Mbak Arum/Mas Bayu (contoh nama siswa) pinter sampun basa krama kaliyan bapak ibu. Terus basa krama njih kaliyan bapak ibu.” yang artinya “Terima kasih mbak/mas sudah berbahasa krama kepada bapak ibu, terus berbahasa krama ya pada bapak ibu). Kegiatan ini merupakan apresiasi guru pada siswa dan menganjurkan untuk basa krama selalu pada orang tuanya. Hal ini bisa dijadikan pembiasaan praktik yang bagus dipandu oleh orang tua untuk menerapkan basa karma. Siswa dalam pengumpulan tugas bisa dengan voice note atau  bisa direkam dengan video,  kemudian dikumpulkan kepada gurunya, bila keduanya tidak dipilih maka bisa dengan melaporkan melalui tulisan.

Demikian salah satu dari pembelajaran jarak jauh mata pelajaran Basa Jawa. Dari capaian pembelajaran terhadap kearifan lokal adalah: diharapkan mampu berbahasa krama yang dapat mencerminkan kegiatan berbahasa yang dilakukan dari pagi hingga malam hari sebelum tidur.

Cipto Mulyo, S.Pd.

SMP Negeri 4 Bodeh