Pak Haji Haryanto Pernah Berharap Rian jadi Ulama

JATENGPOS.CO.ID,  KUDUS – Jauh sebelum terjadi konflik, Pak Haji Haryanto (owner PO.Haryanto Kudus) berharap besar agar anaknya, Rian Mahendra, menjadi ulama. Karena itu, sejak kecil Rian dididik di sekolah Islam. Bahkan pernah dimasukan pondok pesantren.

“Saya sebenarnya pengin sekali Rian itu jadi ulama, supaya bisa mengajak umat kepada kebaikan. Makanya dulu saya masukan pondok pesantren,”kata Pak Haji Haryanto, kepada Jateng Pos yang menemui di rumahnya, 11 Januari 2023.

Namun harapan orang tua itu belum bisa terwujud. Rian yang dididik ala pesantren tidak sampai lulus. Termasuk saat disekolahkan di sekolah Islam Al-Azar saat SMP.

“Rian itu waktu SMP saya masukan Al-Azar, tapi belum sampai lulus keluar. Lalu saya pondokan di Ploso Kediri, tetapi juga keluar pondok sebelum tuntas karena tidak kerasan,”tambah Pak Haji.

Pemilik 200 armada bus itu berharap, dengan jadi ulama, seorang anak akan membuat orang tuanya adem. Sholatnya rajin. Seneng membaca Alquran. Mendakwahkan kebaikan Islam. Sehingga menjadi tabungan kebaikan yang bisa menyelamatkan diri dan orang tuanya di akherat.

“Tapi ya gimana lagi, ternyata anaknya tidak kerasan mondok, padahal anak-anak angkat saya yang saya pondokkan bareng dia pada kerasan sampai lulus, sekarang pada jadi ustad dan hafal Quran,”jelasnya.

Karena tidak kerasan mondok, Rain muda akhirnya mengikuti jejak orang tuanya mengurus armada bus. Usia 19 tahun, Rian sudah membantu ayahnya mengembangkan rute bus Haryanto. Jika ayahnya pada awalnya banyak mengembangkan di Jakarta, Rian ditugasi mengembangkan di Kudus dan Pantura Timur. Dari semula 5 bus, berkembang hingga 200 an armada seperti sekarang. Bahkan Rian dipercaya bapaknya menjadi Direktur Operasional.

Pak Haji Haryanto pun mengakui jejak perjuangan anaknya itu. Bahkan mengakui jika Rian itu anak yang kreatif dan cerdas. Tetapi dalam perkembanganya terbawa arus pergaulan yang kurang baik. Sehingga berujung pada penghentian jabatan oleh bapaknya sendiri.

“Saya akui mas, Rian itu anaknya cerdas. Cuma sayang salah pergaulan. Sehingga yang awalnya gigih, jujur dalam berkerja, akhirnya main ini itu yang ujungnya berdampak pada keuangan. Padahal kalau dia nurut aja sama saya, enak dia hidupnya. Bener loh, kalau dia nurut aja sama saya, jadi orang kaya dia,”imbuh Pak Haji.

Pengusaha muslim taat yang dahinya hitam itu menambahkan, karena dianggap tidak tertib keuangan, sebagai bapak yang sekaligus owner PO Haryanto, akhirnya bersikap. Setelah ditegur berulang kali tidak ada perbaikan, akhirnya diberhentikan.

“Gini lo mas, jika saya ini pimpinan bank misalnya, apakah saya bisa semaunya sendiri bon uang perusahaan kepada anak buah seenaknya. Sementara penggunaanya tidak jelas untuk apa. Untuk yang manfaat atau untuk yang maksiat, kalau untuk beribadah atau umroh dan haji, malah tak kasih dia. Sebagai orang tua saya tidak mau ngasih uang anak untuk jalan yang tidak benar, ikut dosa saya,”tambah anggota TNI yang pensiun dini itu.

Sikap tegasnya itu bukan untuk menyengsarakan anaknya. Tetapi untuk menyelamatkan dari perbuatan tidak baik. Sekaligus menyelamatkan perusahaan tempat bekerja ribuan orang. Tempat menyantuni ribuan anak yatim dan penghafal quran.

Atas peristiwa yang terjadi saat ini, Pak Haji berharap menjadi ujian yang membawa hikmah buat anak dan bapak. Terlebih buat Rian supaya merenung. Siapa tahu bisa mengambil hikmah sehingga menjadi anak yang benar dan taat kepada orang tua.

“Karena tidak ada orang tua yang tega melihat anaknya hancur mas. Tidak ada yang tega melihat anaknya jadi gelandangan. Makanya saya tegas untuk menyelamatkan dari kehidupan yang menjauhi agama. Tegas dengan marah itu beda mas. Dan saya juga tidak bermaksud memutus huhungan anak dengan bapak, tidak ada itu,”katanya lagi.

Karen itu, daripada berkelana tidak jelas, Pak Haji menyarankan Rian untuk pulang saja ke Kudus bersama orang tua dan anak istrinya. Merenung saja perbaiki diri atas kesalahan yang sudah lewat. Bahkan Rian diminta umroh bersama anak istrinya. Bertobat dan berdoa di tanah suci supaya diampuni dosa-dosanya.

“Lebih baik pulang saja cukur gundul, taubatan nasyuha, masuk masjid, sholat rajin, ibadah-ibadah sunah yang rajin, umroh sama anak istri saya biayai semua,”harapnya.

Pak Haji juga berpesan, kalau sudah tobat jangan lagi bermain game dan HP. Gunakan HP seperlunya. Jangan berlebihan untuk bermain di media sosial. Bermain di media nyata saja. Apa lagi main game itu bahaya. Musuhnya komputer orang tidak akan pernah menang.

“Sudah jangan main-main sosmed, omongan orang-orang di sosmed itu tidak benar, yang benar itu ya omongan orang tua. Aku lebih tahu siapa Rian karena anak saya, orang-orang sosmed itu menjerumuskan dan ngompori yang tidak benar,”imbuhnya. (jan)