Beranda Lifestyle Pandemi Covid 19, Pariwisata Tetap Harus Hidup

Pandemi Covid 19, Pariwisata Tetap Harus Hidup

15
BANTUAN : Wakil ketua Komisi X Agustina Wilujeng P saat menyerahkan bantuan alat kebersihan untuk wisata Sangiran yang diterima Wabub Sragen Dedy Endriyatno. Foto: ARI SUSANTO /JATENG POS

JATENGPOS.CO.ID, SRAGEN – Dunia pariwisata yang terpuruk harus dihidupkan kembali meski di tengah dampak covid-19. Masyarakat kembali diajak bertamasya untuk menggeliatkan tempat-tempat wisata. Salah satunya  Museum Sangiran, Kalijambe, Sangiran, Sragen yang telah mendunia harus digenjot lagi.

Jangan sampai wisata purbakala kelas dunia ini, tidak  memberikan dampak yang berarti bagi warga di sekitarnya. Apalagi pada masa pandemi Covid-19 ini bagi masyarakat yang bergantung pada pariwisata semakin terpuruk.

Hal itu disampaikan Anggota DPR RI Komisi X Agustina Wilujeng Pramestuti terkait Sangiran sebagai destinasi yang punya sisi edukasi dan sejarah. Adapun langkah yang dilakukan yakni mengembalikan pariwisata yang terdampak pandemi Covid-19.

”Sudah cukup enam bulan kita mengenali dan melawan tantangan pandemi Covid-19. Salah satu yang menggerakkan ekonomi mikro kita dengan menggerakan pariwisata. Kalau wisata digerakan efeknya luas,” tuturnya saat mengunjungi Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS), kemarin.

Belajar selama enam bulan harus mengetahui bagaimana mengakali agar perekonomian tetap tumbuh. Tetapi tubuh tetap sehat dan tidak tertular. Salah satunya dengan gerakan yang di inisiasi komisi X DPR RI dan kementerian. ”Bagaimana menolong mereka yang bermata pencaharian lewat destinasi wisata,” terangnya.

Dia menyampaikan jika di rumah saja harus mulai berubah. Orang-orang sudah mulai berjalan jalan dengan mematuhi protokol Covid-19.

Sebagai salah satu wilayah konservasi, ada beberapa titik yang tidak bisa mengikuti pembangunan. Namun harus dijawab dengan pengembangan di daerah sekitarnya. Sehingga Museum Sangiran dikunjungi serta wilayah sekitarnya menerima manfaat.

”Sekarang yang menerima manfaat itu kota lainnnya Sragen. Sekarang bagaimana pemerintah kabupaten Sragen supaya wisatawan Sangiran bisa tinggal di Sragen. Mungkin dengan homestay,” ujarnya.

Direktur Manajemen Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Harwan Ekon Cahyo Wirasto menyampaikan sesuai instruksi presiden agar ada peningkatan kualitas industri pariwisata. Namun perlu melibatkan masyarakat sekitar atau padat karya. ”Manakala kunjungan wisata mulai datang, destinasi sudah siap,” terangnya

Dia menyampaikan Sangiran menjadi salah satu destinasi pariwisata yang ditetapkan sebagai kawasan strategis pariwisata nasional. Di jawa tengah yang ditetapkan ada empat destinasi. Antara lain Candi Borobudur, Kepulauan Karimunjawa, Pegunungan dieng dan Kawasan Museum Sangiran.

Soal pembukaan destinasi wisata, Harwan menyampaikan diserahkan pada pengelola Destinasi wisata. ”Misalnya Bali dinyatakan buka oleh Gubernur, Banyuwangi dinyatakan buka oleh Bupati. Misal taman nasional tergantung kementerian kehutanan. Demikian juga cagar budaya dibawah kementerian Pendidikan dan Kebudayaan seperti Sangiran diserahkan pada yang berwenang,” ujarnya.

Dia menyampaikan Sangiran di bawah Kemendikbud karena masuk Cagar Budaya. Salah satu fungsinya yakni pariwisata. Dalam pengembangannya butuh sinergi program antar instansi sebagai pemangku kepentingan. ”Kalau dari sisi pariwisata mendukung dalam wewenang promosi dan penataan di luar kawasan ini. Sifatnya menunjang infrastuktur di luar kawasan ini,” bebernya. (ars/bis/rit)