Pandemi, Investor Pasar Modal Melonjak

7
- WORKSHOP6 Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) / Indonesia Stock Exchange (IDX) Jateng 1, Fanny Rifqi El Fuad, dalam Workshop Wartawan Digital KP BEI Jateng 1 secara daring di Semarang, Kamis (7/10/2021). FOTO : IST/ANING KARINDRA/JATENG POS

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Meski pandemi masih berlangsung, jumlah investor di wilayah Jawa Tengah (Jateng) masih terus mengalami lonjakan. Bahkan, peningkatan jumlah investor sudah berlangsung sejak 5 tahun terakhir.

Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) / Indonesia Stock Exchange (IDX) Jateng 1, Fanny Rifqi El Fuad mengatakan, sejak tahun 2016-2020 jumlah investor tumbuh mencapai 299 persen. Sedangkan pada semester 1/2021 meningkat  55,70 persen.

“Pada tahun 2016 tercatat ada 47.594 investor baru, dan pada tahun 2020 meningkat mencapai 176.694 investor. Sedang pada semester 1/2021, jumlah investor meningkat menjadi 275.117 investor,” katanya, dalam Workshop Wartawan Digital KP BEI Jateng 1 secara daring di Semarang, Kamis (7/10/2021).

Menurut Fanny, pertumbuhan investor tertinggi terjadi di Kota Semarang, Salatiga, Kendal, Demak dan Grobogan. Demikian juga di wilayah karesidenan Pekalongan dan karesidenan Pati.

“Saat ini investor di Jateng masih didominasi anak muda atau kaum milenial yang kini jumlahnya mencapai 116.641 investor dengan rentang usia 18-25 tahun,” ungkap.

Dijelaskan, peningkatan investor dari kalangan generasi muda tersebut tidak lepas dari berbagai kegiatan dan kerjasama dalam meningkatkan literasi pasar modal. Salah satunya, dengan menggandeng perguruan tinggi.

“Kita menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi, untuk membuat program galeri investasi BEI. Selain itu juga mengajak perusahaan sekuritas di wilayah KP BEI Jateng 1, untuk melakukan edukasi terkait literasi pasar modal,” jelas Fanny.

Sementara itu, dalam  lima tahun terakhir, literasi masyarakat akan pasar modal juga terus meningkat. Hal ini terlihat dari peningkatan kepemilikan saham dan trading value, dari dalam negeri yang juga terus bertambah.

“Pada tahun 2015 lalu, kepemilikan saham masih didominasi modal asing yang mencapai 63,79 persen, semetara dalam negeri hanya 36,21 persen. Angka tersebut berubah pada 2020, menjadi 49,21 persen asing dan 50,79 persen lokal,” ujarnya.

Adapun trading value juga meningkat menjadi 68,54 persen dari dalam negeri pada 2020, dibanding pada 2015 di angka 56,79 persen.(aln)