Pandemi, Penjual Jamu Cacing Diserbu Pembeli

ANTRE: Pembeli antre membeli jamu herbal ekstrak cacing tanah, di Ungaran, Kabupaten Semarang.

JATENGPOS.CO.ID,  UNGARAN – Kondisi pandemi COVID-19 pada satu sisi berdampak serius terhadap laju perekonomian nasional. Tapi tidak jarang hal itu justru membawa berkah bagi sebagian orang.

Satu di antara orang yang mendapat berkah adanya wabah COVID-19 ialah Gunawan (50), warga Jagalan, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.

Gunawan merupakan penjual ramuan herbal berbahan khusus ekstrak cacing tanah.Setiap hari rumahnya ramai didatangi warga untuk membeli jamu cacing.

Sejumlah pembeli percaya cacing tanah selain berfungsi untuk menyuburkan tanah, juga diyakini memiliki beragam khasiat untuk kesehatan.

Gunawan mengatakan, telah berjualan ramuan atau jamu dari ekstrak cacing tanah sekira 2010.

Semula, dia hanya meneruskan usaha mertuanya yang telah lama menjual jamu cacing tersebut.

“Saya generasi kedua dari mertua almarhum Koh Yong yang dahulu berjualan jamu cacing herbal tanpa tambahan bahan kimia.”

“Sehingga konsumen merasa aman,” terangnya, kemarin.

Menurutnya, jamu cacing banyak dikonsumsi orang karena ampuh mengatasi penyakit demam tifoid.

Kemudian, tipes, panas dalam, sariawan, diare, serta gangguan kesehatan lainnya.

Dia menambahkan, awal mula mertuanya berjualan jamu cacing tidak disengaja.

Pada suatu ketika ada tetangga yang mengalami sakit, lalu setelah diberikan ramuan cacing akhirnya sembuh.

“Lalu, lama-lama menjadi seperti ini banyak orang datang untuk membeli sebagai alternatif pengobatan.”

“Dahulu dijual Rp 500 per kemasan, terus naik menjadi Rp 2.500, dan sekarang Rp 10.000,” katanya.

Dia berucap, adanya pandemi COVID-19 ini membuat barang dagangannya banyak diburu warga.

Terlebih, status Kabupaten Semarang menjadi zona merah sebagian orang merasa takut datang ke rumah sakit.

Di luar itu, harganya juga dinilai lebih ekonomis.

Sehingga terjadi lonjakan pembeli yang cukup drastis, bahkan terpaksa konsumen diharuskan melakukan pemesanan terlebih dahulu jika tidak, tidak akan dilayani.

“Kami tidak ingin ada kerumunan.”

“Kami juga wajibkan pembeli yang datang harus memakai masker, menjaga jarak.”

“Selain itu wajib pesan terlebih dahulu agar ramuan disajikan ketika sampai rumah masih hangat,” ujarnya.

Dia bercerita tidak ada rahasia khusus dalam membuat jamu cacing.

Hanya saja, demi menjamin khasiatnya digunakan cacing jenis kalung selanjutnya direbus menggunakan air.

Kemudian, dalam mengkonsumsi jamu cacing itu terdapat anjuran khusus maksimal satu orang, satu bungkus cair.

Jika kondisi parah, dibolehkan dua bungkus untuk diminum sewaktu pagi dan siang hari.

“Kalau anak-anak di bawah usia 10 tahun maksimal pukul 14.00.”

“Jamu cacing tersedia setiap hari mulai pukul 06.00 hingga pukul 15.00.”

“Selain dalam bentuk cair, kami juga menyediakan bentuk kapsul isi empat kapsul seharga Rp 10 ribu untuk dua hari,” imbuhnya, kemarin.

Gunawan menunjukkan jamu herbal cacing kemasan kapsul dan cair, Jumat (25/6/2021).

Gunawan menunjukkan jamu herbal cacing kemasan kapsul dan cair, Jumat (25/6).

Dirinya mengungkapkan, untuk produksi jamu herbal cacing sekali pembuatan menghabiskan 4 kilogram cacing kering yang dibeli dari seorang supliyer langganan.

Selama ini lanjutnya, konsumen masih rata-rata warga Kabupaten Semarang terutama wilayah Kecamatan Ungaran.

Karena, mayoritas lebih banyak membeli kemasan cair sehingga dapat langsung dikonsumsi.

“Beberapa hari ini ramai begini keadaannya.”

“Ya bisa ratusan dalam sehari terjual untuk kemasan cair.”

“Jadi sekarang harus pesan terlebih dahulu melalui WhatsApp,” paparnya.

Seorang pembeli Siti Aminah (35), warga Bergas, Kabupaten Semarang berkata, membeli ramuan cacing untuk menjaga kesehatan.

“Saya rutin mengkonsumsi minimal seminggu sekali.”

“Kalau ini lagi COVID-19 jadi dua kali.”

“Soal rasanya biasa saja karena sudah bentuk sirup.”

‘Awal konsumsi ketika tipes atau sedang kurang enak badan,” jelasnya. (muz/udi)