30 C
Semarang
Kamis, 5 Maret 2026

Hujan Ekstrem Sebabkan Banjir dan Longsor di Kudus, Belasan Ribu Jiwa Terdampak

JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Kudus sejak Jumat (9/1/2026), memicu gelombang bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah kecamatan. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten setempat, Minggu (11/1) pukul 17.00 WIB, sebanyak 4.668 Kepala Keluarga (KK) dengan 14.143 jiwa dilaporkan terdampak oleh bencana hidrometeorologi ini.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Kudus, Eko Hari Djatmiko melalui Kasi Kegawatdaruratan dan Logistik, Ahmad Munaji, menyebutkan bencana bermula pada Jumat sore, 9 Januari 2025, saat hujan deras disertai angin kencang melanda wilayah hulu Pegunungan Muria sejak pukul 05.00 WIB hingga 18.30 WIB.

‘’Kondisi ini menyebabkan debit air di tiga sungai utama yakni Sungai Gelis, Sungai Piji, dan Sungai Dawe meningkat drastis hingga meluap ke permukiman dan lahan pertanian,’’ ungkapnya.

Kondisi diperparah dengan banyaknya tumpukan sampah yang menyumbat aliran sungai. Intensitas hujan yang luar biasa juga membuat kontur tanah di wilayah lereng pegunungan dan dataran bawah menjadi labil, sehingga tidak mampu lagi menahan resapan air.

Hingga Sabtu pagi pukul 09.00 WIB, Desa/Kecamatan Mejobo masih menjadi wilayah dengan genangan air terdalam. Beberapa desa yang terdampak meliputi Desa Mejobo dengan korban mencapai 600 KK dengan 1.741 jiwa terdampak. Sedang air masuk ke 30 rumah. Ketinggian air mencapai 40 cm.

Baca juga:  Harga Kedelai Impor di Kudus Naik Lagi Jadi Rp9.750 per Kilogram

Lalu Desa Jojo sebanyak 325 KK terdampak dengan genangan setinggi 5-30 cm, Desa Kesambi dan Golantepus terdapat ratusan rumah terendam akibat limpasan Sungai Piji dan Sungai Dawe. Sedangkan pada sektor pertanian, tecatat lebih dari 125 hektar persawahan di Mejobo terendam, mengancam produktivitas petani lokal.

‘’Sementara di wilayah Kecamatan Kota, terdiri Desa Singocandi dan Demangan. Kecamatan Jekulo, Desa Hadipolo, dan Kecamatan Bae Desa Ngembalejo, air dilaporkan telah mulai surut drastis sejak Sabtu dini hari,’’ ungkapnya.

‘’Sedangkan di Desa Singocandi, warga yang sempat mengungsi ke Masjid Al Ikhlas, mulai kembali ke rumah masing-masing setelah kondisi dinyatakan aman,’’ imbuhnya.

Sementara darurat longsor di Lereng Muria, lanjut Munaji, terjadi di 18 titik utama, yakni di wilayah Kecamatan Dawe, Gebog, dan Bae. Rinciannya, di Kecamatan Dawe menjadi wilayah paling kritis, meliputi Desa Japan 24 titik longsor. Jalur Japan menuju batas Pati KM 1 terputus total bagi kendaraan roda empat karena badan jalan amblas.

Baca juga:  Tersebar di Tiga Kecamatan, Dapur SPPG di Kudus Bakal Bertambah

Lalu di Desa Kuwukan, tercatat 20 titik longsor yang berdampak langsung pada 6 unit rumah warga. Selain itu, di Kecamatan Gebog, 14 titik longsor terjadi di Desa Rahtawu dan 4 titik di Desa Menawan (4 titik). Sedangkan penanganan di Desa Menawan dilaporkan baru mencapai 70 persen hingga Sabtu petang.

‘’Longsor ini juga menutup akses Jalan Ternadi-Soco, Jalan Jurang Raya, dan jalan menuju Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus,’’ jelasnya.

Pihaknya menegakan, Pemkab Kudus melalui Dinas PUPR, bersama Desa Tangguh Bencana (Destana) dan para relawan, terus melakukan langkah darurat. Fokus utama saat ini adalah pembersihan sampah di Jembatan Sungai Dawe jalur Kudus-Pati serta pembersihan material lumpur di permukiman.

Untuk penanganan longsor di wilayah pegunungan, petugas telah melakukan penutupan titik longsor menggunakan plastik mika guna mencegah longsor susulan jika hujan kembali turun.

‘’Soal kerugian materil, hingga saat ini masih terus dilakukan penghitungan secara mendalam. Dan kami mengimbau warga untuk tetap waspada, mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi,’’ pungkasnya. (han/rit)



TERKINI

Rekomendasi

...