JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Taman Krida yang berlokasi di pusat Kota Kudus, dinilai memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi pusat edukasi dan destinasi wisata malam yang ikonik. Hal tersebut diungkapkan oleh Yusuf, seorang pelaku usaha dan pengamat wisata, saat menyoroti perlunya penyegaran konsep pengelolaan aset daerah tersebut.
Yusuf memaparkan bahwa dengan luas lahan sekitar 1,2 hektare, Taman Krida sangat ideal dikembangkan menjadi area playground yang mengusung konsep edukasi. Menyusul kebutuhan akan tempat outing class di Kudus saat sekarang sangat tinggi seiring tuntutan kurikulum pendidikan, namun pilihan lokasi yang representatif masih terbatas.
‘’Selama ini sekolah-sekolah harus mencari lokasi yang cukup jauh. Jika Taman Krida dikonsep untuk edukasi, misalnya ada kegiatan cooking class atau pengenalan alam di tengah kota, sekolah-sekolah pasti lebih tertarik karena aksesnya lebih dekat dan efisien,’’ ujar Yusuf, Kamis (22/1).
Tidak hanya menyasar anak-anak di siang hari, Yusuf mengusulkan agar Taman Krida pun “hidup” hingga malam hari, untuk menggaet generasi Z. Ia membayangkan konsep taman lampion yang viral, serupa dengan objek wisata Batu Night Spectacular (BNS) di Malang.
‘’Kita bisa buka sampai jam 10 atau 11 malam. Konsepnya bisa seperti pasar malam permanen dengan wahana permainan seperti saat musim Dandangan, namun dalam skala yang lebih tertata. Masuknya bisa digratiskan, pengunjung hanya bayar saat menikmati wahana,’’ tambahnya.
Dalam pandangannya, Yusuf juga memberikan kritik membangun terkait kondisi Taman Krida saat sekarang. Menurutnya, banyaknya patung hewan yang dibangun di komplek Taman Krida, namun tidak dibarengi dengan keberadaan hewan asli atau perawatan yang maksimal.
‘’Jadi saya usulkan agar dibangun Mini Zoo atau taman burung (Aviary). Konsep ini dinilai bisa bersaing, atau setidaknya setara dengan destinasi wisata seperti Ibarbo di Yogyakarta jika dikelola dengan grand design yang matang,’’ imbuhnya.
Kendati, Yusuf masih mencari Solusi terbaik terkait kantong pakir. Diakui, ketersediaan lahan parkir di komplek Taman Krida saat sekarang kurang luas. Namun, ia menyebut sudah ada komunikasi awal dengan desa tetangga untuk menjalin kerja sama pemanfaatan lahan parkir guna mengatasi potensi kemacetan di area kota.
‘’Intinya adalah grand design. Jika penataannya tepat, Taman Krida bukan sekadar taman kota biasa, tapi pusat ekonomi kreatif dan edukasi yang baru di Kudus,’’ pungkasnya. (han/rit)




