JATENGPOS.CO.ID, PATI – Puluhan pendidik dari 49 sekolah yang ada di Kabupaten Pati hadir di Pendopo Kabupaten Pati, Selasa (27/1).
Bukan sekadar untuk seremoni, mereka hadir untuk merayakan sebuah ikhtiar panjang dalam menjaga kelestarian bumi melalui bangku sekolah.
Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra hadir untuk memberikan apresiasi langsung kepada 49 sekolah dan madrasah yang berhasil menyandang predikat Sekolah Adiwiyata 2025.
Penghargaan ini terbagi dalam empat jenjang: 1 sekolah meraih Adiwiyata Mandiri, 4 sekolah meraih Adiwiyata tingkat Nasional, 13 sekolah meraih Adiwiyata tingkat Provinsi, dan 31 sekolah meraih Adiwiyata tingkat Kabupaten.
Bagi Chandra, deretan piagam tersebut bukan sekadar pajangan dinding. Ia memandangnya sebagai simbol penguatan karakter bagi generasi mendatang.
“Penghargaan Adiwiyata ini bukanlah titik akhir. Ini adalah tentang bagaimana dunia pendidikan berkomitmen mencetak siswa yang berkarakter, berprestasi, namun tetap mencintai dan menjaga lingkungannya,” tutur Chandra.
Ia pun memberikan catatan khusus mengenai revitalisasi program Adiwiyata melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2025.
Menurutnya, aturan terbaru ini harus dimaknai sebagai upaya menyempurnakan budaya belajar yang ramah lingkungan.
“Intinya bukan pada penghargaannya, tapi bagaimana sekolah-sekolah ini mampu menjaga konsistensi.
Kita ingin lahir kebiasaan-kebiasaan sederhana namun bermakna dari para siswa untuk melindungi alam,” tambahnya sembari mengapresiasi dukungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pati yang telah mengawal proses ini.
Di antara deretan penerima penghargaan, terselip cerita syukur dari SMP IT Ittihadul Muwahidin. Sang Kepala Sekolah, Ananda Wahyu Yatama Putra, tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya saat menerima penghargaan Sekolah Adiwiyata tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Capaian ini terasa kian istimewa karena sekolah yang dipimpinnya menjadi satu-satunya sekolah swasta di Kabupaten Pati yang menembus level provinsi tahun ini, bersanding dengan 12 sekolah negeri lainnya.
“Tentu ini bukan perjalanan yang mudah. Ada kerja keras kolektif dari guru, siswa, hingga instansi terkait di dalamnya,” ungkap Ananda.
Bagi Ananda, predikat ini adalah amanah besar untuk terus membumikan budaya cinta lingkungan di lingkungan sekolah.
Ia bermimpi sekolahnya bisa menjadi sumber inspirasi bagi institusi lain dalam menciptakan ruang belajar yang bersih, sehat, dan nyaman.
“Kami ingin menjadikan pendidikan lingkungan hidup sebagai bagian tak terpisahkan dari keseharian siswa. Tujuannya, membentuk murid yang berakhlak mulia dan bertanggung jawab terhadap semesta,” pungkasnya.(Ida/rit)




