26 C
Semarang
Senin, 2 Februari 2026

Dinkes Pati Imbau Warga Waspada Leptospirosis, Empat Orang Meninggal Dunia

JATENGPOS.CO.ID, PATI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati melaporkan lonjakan kasus penyakit leptospirosis seiring dengan bencana banjir yang melanda wilayah tersebut pada Januari 2026 ini.

Hanya untuk periode Januari 2026 ini saja, tercatat 35 orang dinyatakan terjangkit bakteri yang ditularkan melalui urin hewan ini, di mana empat orang di antaranya meninggal dunia.

Penderitanya didominasi oleh pasien berusia lanjut (lansia).

Penyebaran kasus ditemukan di sejumlah titik, mulai dari Kecamatan Juwana, Jaken, hingga Margoyoso.

Selain itu, kasus serupa juga terdeteksi di wilayah Trangkil, Dukuhseti, Batangan, hingga Wedarijaksa.

Jumlah tersebut sudah lebih dari separuh total kasus sepanjang 2025.

Dinkes Pati mencatat bahwa sepanjang 2025 terdapat 61 kasus leptospirosis dengan 17 orang meninggal dunia.

Kasus terbanyak terjadi pada Februari dan Maret 2025.

Ketua Tim Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Pati, Yanti, mengungkapkan bahwa keterlambatan penanganan menjadi faktor utama penyebab fatalitas.

Menurutnya, gejala leptospirosis sering kali dianggap remeh oleh masyarakat karena menyerupai penyakit biasa.

Baca juga:  Sekolah Harus Tanamkan Kepedulian Lingkungan kepada Peserta Didik

“Yang menjadi masalah ketika datangnya itu terlambat ya, karena masyarakat awam tidak tahu, dinyana-nyana itu biasa aja, dikira penyakit biasa saja,” ujar Yanti.

Gejala yang dialami penderita leptospirosis biasanya berupa demam, sakit kepala, mata merah, nyeri betis, lemas, hingga kulit kekuningan.

Dampak terparahnya adalah gagal ginjal yang bisa berujung pada kematian.

Ia menjelaskan bahwa leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang dibawa melalui kencing atau darah hewan, antara lain tikus, anjing, kucing, babi, kambing, sapi, dan kuda.

Bakteri itu biasanya mencemari tanah dan umum terjadi di wilayah tropis, terutama saat terjadi banjir.

Bakteri ini sangat tangguh dan mampu bertahan hidup di genangan air banjir dalam waktu yang cukup lama.

Jika tidak segera ditangani dengan antibiotik, infeksi ini dapat menyebabkan komplikasi serius pada organ tubuh.

“Kalau terlambat ya itu, jadi gagal ginjal akut sehingga menyebabkan kematian. Sebenarnya leptospirosis itu ditemukan secara dini, diobati secara tata laksana yang bagus, itu bisa mencegah kematian,” tambahnya.

Baca juga:  Waspada! Ditemukan 261 Kasus Positif TBC di Kudus 

Sebagai langkah preventif, Dinkes Pati telah menginstruksikan petugas di seluruh Puskesmas untuk melakukan desinfeksi pada area genangan air pascabanjir. Menariknya, salah satu media yang digunakan adalah deterjen pembersih rumah tangga yang dinilai efektif membasmi bakteri namun tetap aman bagi lingkungan.

“Kami sudah melaksanakan pemberitahuan kepada petugas Puskesmas agar memberikan desinfektan berupa sabun ‘Boom’ (deterjen) ke genangan air pascabanjir, terus apabila rumah itu dipel pakai sabun ‘Boom’. Karena itu salah satu deterjen yang ramah lingkungan dan bisa membunuh bakteri,” jelas Yanti.

Pihak Dinkes mengimbau warga untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam tinggi, sakit kepala, mata merah, atau nyeri betis setelah bersentuhan dengan air banjir. Penggunaan alat pelindung diri (APD) seperti sepatu bot dan sarung tangan, serta menjaga kebersihan makanan, juga menjadi kunci utama agar terhindar dari penyakit mematikan ini.(Ida)


TERKINI

Pemkab Kudus Segera Buka Seleksi Sekda

Kapolres Kudus Pastikan Kirab Bwee Gee Lancar

Rekomendasi

...