JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Puluhan kongco dari sejumlah klenteng dari berbagai daerah di Indonesia, turut memeriahkan ritual Kirab Bwee Gee yang diinisiasi oleh Tempat Ibadah Tri Dharma (T.I.T.D) Hok Hien Bio Kudus, Minggu (1/2/2026). Tradisi tersebut sebagai bentuk ucapan terimakasih kepada Dewa Bumi yakni Hok Tik Cing Sin.
Pantauan di lokasi, sebelum pelepasan peserta Kirab Bwee Gee 2026, lebih dulu dilaksanakan ritual persiapan kirab yang dilaksanakan tempat peribadatan sekitar pukul 06.00 WIB. Kemudian dilanjutkan Kiem Sin/Sen Siang untuk ditempatkan ke Kio masing-masing.
Adapun rute perjalanan kirab sekitar 5 kilometer, mulai dari T.I.T.D Hok Hien Bio menuju Jalan Dr Loekmono Hadi-Jalan Mangga, Jalan Sunan Kudus hingga Alun-alun Kudus. Kemudian menuju Jalan Jenderal Sudirman-Jalan Tanjung-Jalan Pemuda-Jalan A Yani dan finis ke Klenteng Matahari (sebutan T.I.T.D Hok Hien Bio).
Sedang pesertanya, untuk kategori Jutbio diantaranya T.I.TD Hok Hien Bio (Kudus) T.I.TD Hok Ling Bio (Kudus), Tay Seng Bio (Jakarta), Han Tan Kong (Cileungsi Bogor), T.I.TD Hong San Kiong (Gudo), Thio Kong Bio (Jakarta Barat), T.I.TD Sam Poo Sing Bio (Surabaya), dan Zhong Yi Tang (Jakarta Barat) dan Xing Guang Tang (Gresik).
Lalu untuk kategori Jhe-Ui, yakni T.I.TD Giok Hay Bio (Jakarta Utara), Hien Im Kiong (Bogor), Tay Zi Kiong (Malang), Kwan Im Kiong (Bekasi), Teng San Kiong (Bekasi), Kwan Sing Bio (Semarang), Guang Sheng Tang (Gombong) dan Hok Siu Kwan (Semarang).
Penasehat T.I.T.D Hok Hien Bio Kudus, Liong Kuo Tjun (Koh Tjun) mengatakan kirab Bwee Gee ini digelar rutih setiap tahun, dan momen kali ini sebagai bentuk tolak bala bagi bangsa dan negara Indonesia. Disisi lain, sebuah permohonan mendalam agar Indonesia dijauhkan dari berbagai malapetaka, wabah penyakit, hingga bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.
‘’Selain sebagai tolak bala, juga bentuk rasa syukur dan terima kasih kepada Dewa Bumi (Hok Tek Cheng Sin). Melalui prosesi kirab, para Dewa dipercaya turun untuk mengunjungi umatnya dan memberikan berkah secara langsung,’’ ujar Koh Tjun, Minggu siang.
Sambungnya, tahun ini juga menjadi momentum yang sangat krusial. Mengingat catatan sejarah di mana wilayah yang selama 100 tahun lebih aman kini mulai terdampak banjir, ritual kali ini ditekankan pada aspek pembaharuan spiritual dan doa khusus untuk menghadapi ancaman bencana alam yang nyata di depan mata.
Namun demikian, pada kirab tahun ini cukup disayangkan, sebab partisipasi peserta kirab mengalami penurunan sekitar 30 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dari yang biasanya diikuti lebih dari 60 klenteng, kini hanya sekitar 24 klenteng dengan 34 Kiem Sien (patung dewa) yang hadir.
‘’Penurunan ini disebabkan oleh beredarnya berita berlebihan dan hoaks di media sosial (YouTube/Internet) yang menggambarkan seolah-olah Kota Kudus “tenggelam”. Jadi ini merugikan kami dan juga menjatuhkan citra kota di mata nasional,’’ kata dia.
Sambung Koh Tjun, di tengah prosesi ritual, doa khusus juga dipanjatkan untuk para pemimpin bangsa Indonesia. Harapannya, para pemimpin senantiasa diberi kesehatan, perlindungan, serta kemampuan memadai untuk memberikan suri tauladan yang positif bagi rakyat.
‘’Kita yakin penuh, dengan kepemimpinan yang baik dan doa yang tulus, Indonesia akan melesat menjadi salah satu negara yang paling disegani di dunia,’’ pungkasnya. (han/rit)



