26 C
Semarang
Selasa, 3 Februari 2026

BGN Hentikan Sementara Operasional SPPG Purwosari 1, Buntut Kasus Keracunan Siswa

JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kudus Kota Purwosari 1, Jawa Tengah, menyusul dugaan Kejadian Menonjol (KM) gangguan pencernaan pada ratusan siswa SMAN 2 Kudus sebagai penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Keputusan tersebut tertuang dalam surat Nomor: 229/D.TWS/01/2026 tentang Pemberhentian Operasional Sementara, yang ditandatangani oleh Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN melalui Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II, Albertus Dony Dewantoro, di Jakarta 29 Januari 2026.

Di dalam surat tersebut, disebutkan alasan penghentian dilakukan untuk kepentingan investigasi, sekaligus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Langkah ini diambil berdasarkan laporan khusus Kepala SPPG Kudus Kota Purwosari 1 tertanggal 29 Januari 2026 terkait dugaan KM akibat konsumsi MBG, serta hasil pertimbangan pimpinan BGN.

Baca juga:  Banjir dan Longsor Melanda Pati, 14 Kecamatan Terdampak

Untuk sementara SPPG Kudus Kota Kudus Purwosari 1 dihentikan operasionalnya sampai mendapatkan hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan dan BPOM, serta dinyatakan sesuai dengan ketentuan Surat Edaran Kepala BGN Nomor 4 Tahun 2025 tentang Percepatan Pengelolaan Keamanan Pangan.

Dandim 0722/Kudus, Letkol Inf Hermawan Setya Budi melalui Pasiter, Kapten Arm Muslikhan, saat dikonfirmasi membenarkan adanya kebijakan pemberhentian sementara operasional SPPG Kudus Kota Kudus Purwosari 1. Keputusan diambil atas KM keracunan di lingkungan SMAN 2 Kudus.

‘’Iya benar dihentikan sementara sampai ada hasil dari laboratorium,’’ ungkap Muslikhan.

Sementara Sekretaris Dinkes Kudus, Nuryanto, menyebutkan hasil uji laboratorium terhadap menu MBG, bahwa proses pemeriksaan sampel makanan masih berlangsung dan membutuhkan waktu.

Baca juga:  Kudus Bakal Lebih Ketat Terapkan Pembatasan Kegiatan Masyarakat

“Untuk sampel yang diperiksa belum keluar, butuh waktu delapan sampai sepuluh hari,” tambahnya.

Terpisah, Kepala SMA Negeri 2 Kudus, Nur Afifuddin, menyampaikan bahwa sejak Jumat lalu sekolah memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa terdampak.

“Sekolah sejak hari Jumat kami lakukan pembelajaran daring. Mulai Senin sudah masuk, tetapi bagi yang masih kurang sehat diperbolehkan daring sampai benar-benar pulih,” ujarnya baru-baru ini.

Terkait distribusi kembali MBG, Nur menyebut pihak sekolah belum menerima pengiriman makanan dari SPPG, lantaran sebagian siswa masih mengalami trauma pascakejadian.

‘’Untuk distribusi MBG kami belum menerima karena anak-anak masih trauma. Kalau pergantian SPPG masih kami pertimbangkan,” imbuhnya. (han/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...