JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Sebanyak 1.954 balita di Kabupaten Kudus dilaporkan mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis. Kondisi ini menjadi sorotan serius pemerintah daerah setempat, yang terus berupaya menekan angka kasus tersebut.
Berbagai langkah strategis dilakukan, mulai dari penguatan pola asuh dan pola makan hingga Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Komitmen ini ditegaskan kembali dalam Workshop Hari Gizi Nasional Tahun 2026 yang digelar di Pendapa Kabupaten Kudus.
‘’Hari Gizi Nasional tahun ini kami kemas dengan harapan pola asuh dan pola makan anak semakin diperhatikan. Target besar kita adalah menuju zero stunting,’’ ujar Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, Endhah Sam’ani Intakoris, Rabu (11/2/2026)
Endhah menjelaskan bahwa angka 1.954 balita tersebut sebenarnya menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang sempat menembus angka 2.000 kasus. Meski demikian, pihaknya menegaskan tidak akan berpuas diri sebelum mencapai nol kasus.
PKK Kudus terus melakukan pengkajian mendalam untuk menemukan akar permasalahan stunting yang masih bertahan, meski sosialisasi dan pengawasan dilakukan setiap tahun. Salah satu inovasi yang dijalankan adalah kehadiran Kedai Balita untuk memfasilitasi penyediaan PMT yang bergizi.
‘’Kami bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengentaskan stunting dari akarnya. Ada kasus di mana anak memiliki penyakit penyerta sehingga tidak bisa menyerap nutrisi dengan baik; kondisi seperti ini memerlukan perhatian medis khusus,’’ terangnya.
Selain faktor kesehatan, pola asuh juga menjadi kendala utama. Banyak ditemukan kasus anak yang kurang gizi karena ditinggal orang tua bekerja dan dititipkan kepada nenek atau pengasuh yang kurang memahami standar nutrisi.
‘’Terkadang anak sulit makan, sehingga pengasuh memberikan makanan asal anak kenyang tanpa memperhatikan komposisi karbohidrat, protein, dan vitamin. Inilah yang akan terus kami edukasi ke masyarakat,’’ tambahnya.
Berdasarkan data terbaru, angka stunting di Kabupaten Kudus menunjukkan tren positif. Setelah berhasil melampaui target nasional 14 persen dengan capaian 13 persen pada tahun sebelumnya, Endhah kini menargetkan angka prevalensi turun hingga menjadi 9 persen tahun ini.
‘’Saat ini kasus terbanyak masih didominasi wilayah Kecamatan Dawe dan Undaan. Ini menjadi PR besar kami untuk mengentaskan stunting hingga benar-benar tuntas,’ pungkasnya. (han/rit)






