JATENGPOS.CO.ID, KARANGANYAR – Rumah tradisional Jawa memiliki makna penuh perlambang yang menyimpan filosofi mendalam tentang kehidupan, harmoni, dan religiusitas pemiliknya.
Dalam sebuah pemaparan budaya yang disampaikan Akademisi Kajian Budaya, Universitas Udayana, Denpasar, Dr. Titis Srimuda Pitana, S.T., M.Trop., Arch. dijelaskan bahwa orang Jawa memiliki cara pandang kosmologi yang unik. Kehidupan dimaknai sebagai sakramen, di mana setiap fase—mulai dari kelahiran, membangun rumah, hingga kematian—selalu ditandai dengan ritual sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada alam serta Sang Pencipta. Demikian juga pada bangunan rumah Jawa, ada perbedaan dengan arsitektur modern yang dimulai dari denah lantai.
“Pembangunan rumah Jawa secara tradisional dimulai dari bagian atas, yaitu Pemidangan (pundak). Di sinilah terdapat simbol pengendalian diri yang sangat kuat,” jelasnya dalam diskusi bertajuk membuka budaya, yang digelar di Pendopo Sentono Ndalem Macanan, Kecamatan Kebakramat, Karanganyar, Jumat (6/3).
Menurutnya, Blandar Pemanjang yang menopang atap melambangkan keinginan manusia yang tidak terbatas. Namun, keinginan tersebut harus diseimbangkan dengan Blandar Pengeret.
“Orang Jawa itu selalu introspeksi. Saya punya keinginan (karep), tapi saya juga harus melihat keadaan (kahanan),” ujar dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tersebut.
Jika keinginan tidak bisa diwujudkan, maka tidak boleh dipaksakan agar harmoni tetap terjaga. Disebutkan, puncak dari bangunan ini adalah Molo (berasal dari kata Polo atau otak/pikiran). Bagian ini dianggap sangat sakral karena melambangkan tempat berpikir dan rasionalitas manusia.
Arsitektur Jawa juga merupakan perwujudan keseimbangan antara energi laki-laki (maskulin) dan perempuan (feminim). Watak Maskulin (Vertikal) disimbolkan melalui empat tiang utama yang disebut Saka Guru. Tiang-tiang besar ini melambangkan kegagahan dan filosofi Sedulur Papat Limo Pancer.
Saat seseorang berada di bawah naungan Saka Guru, ia sejatinya berada di pusat jagat, sebuah titik paling sakral untuk mencari kebijakan. Keteguhan hati laki-laki disimbolkan melalui Umpak atau landasan batu yang kokoh.
Watak Feminim (Horizontal) disimbolkan melalui tata ruang yang menyebar ke samping melambangkan sifat perempuan yang mengayomi dan penuh kasih sayang. Bagian horizontal ini biasanya dihiasi dengan ukiran indah (estetika), yang erat sebagai sifat perempuan yang suka berhias diri.
Salah satu bagian paling sakral dalam rumah Jawa adalah Dalem Ageng, yang di dalamnya terdapat tiga kamar (senthong). Yang paling menarik adalah Senthong Tengah. Kamar ini tidak digunakan untuk tidur, melainkan dibiarkan kosong dan rapi sebagai penghormatan kepada Dewi Sri, simbol kemakmuran dan kesuburan.
Penggunaan istilah “Perempuan” pun dipilih karena maknanya yang lebih mulia, yakni “yang diempukan” atau diagungkan, berbeda dengan istilah “Wanita” yang sering diartikan secara sempit sebagai “wani ditata” (berani diatur).
Secara keseluruhan, rumah Jawa mengajarkan bahwa kehadiran manusia di tengah masyarakat haruslah membawa kesejukan, layaknya Dodo Paesi (dada yang dihias) pada bangunan yang melambangkan kalbu yang bersih.
Pada akhirnya, rumah Jawa adalah sebuah doa yang diwujudkan dalam bentuk bangunan. Ia adalah pengingat bagi penghuninya untuk selalu menjaga keseimbangan antara hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam, dan hubungan dengan Tuhan.
Kehadiran Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Asrar, S.E. di tengah diskusi ini memberikan dimensi praktis pada nilai-nilai filosofis yang disampaikan. Sebagai wakil rakyat dari Dapil Karanganyar, Sragen, dan Wonogiri, pemahaman mengenai karakter “Manusia Jawa” yang religius dan penuh simbol menjadi krusial dalam merumuskan kebijakan yang tepat sasaran dan tetap mengakar pada jati diri bangsa.
Diskusi yang juga dipandu oleh Seniman muda Yudha dan disupport penuh okeh Wakil Ketua DPRD Karanganyar Supriyanto ini diakhiri dengan pesan bahwa manusia Jawa yang ideal adalah mereka yang kehadirannya di tengah masyarakat selalu memberikan kesejukan, layaknya bagian Dodo Paesi pada bangunan yang melambangkan hati yang bersih. (yas/rit)








