25 C
Semarang
Senin, 13 April 2026

Kudus Waspada Campak, 464 Kasus Terdeteksi




JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mengeluarkan peringatan dini terkait lonjakan kasus gejala campak di kabupaten setempat. Berdasarkan data terbaru, tercatat sebanyak 464 kasus terdeteksi dalam kurun waktu November 2025 hingga Maret 2026.

Kepala DKK Kudus, dr. Abdul Hakam, mengungkapkan bahwa tren kenaikan mulai terlihat tajam sejak akhir tahun 2025. Fenomena menarik ditemukan di lapangan, jika biasanya campak identik dengan anak usia 2-5 tahun, kini virus tersebut juga menyerang kalangan remaja hingga dewasa.

‘’Salah satu penyebabnya adalah kekosongan atau rendahnya paparan vaksinasi pada tahun 2019 lalu. Dampaknya, anak-anak yang sekarang berusia 5-10 tahun menjadi rentan karena kurangnya proteksi imunisasi,’’ ujar dr. Hakam dalam keterangannya, Minggu (12/4).

Baca juga:  Gudang Rokok Ilegal, Ratuan Ribu Batang Rokok Diamankan

Menyikapi situasi ini, dr. Hakam menegaskan bahwa vaksinasi campak adalah kewajiban medis bagi anak usia 9 bulan hingga dua tahun. Beliau juga menyarankan anak usia 5 tahun untuk mendapatkan dosis tambahan guna memperluas cakupan perlindungan.


‘’Jika sampai usia 5 tahun belum divaksinasi, segera datang ke Puskesmas. Tidak ada kata terlambat untuk imunisasi. Ini demi memutus rantai penularan,’’ tandasnya.

Masyarakat diminta mengenali gejala awal berupa demam tinggi pada hari pertama, yang kemudian diikuti munculnya ruam merah di seluruh tubuh. dr. Hakam mengingatkan orang tua untuk menjaga asupan cairan anak guna menghindari dehidrasi. Penanganan yang terlambat pada fase demam tinggi dan dehidrasi berisiko fatal, mulai dari kejang hingga infeksi otak (meningitis).

Baca juga:  Ini Dia Ketua PWI Kudus yang Baru

Meski demikian, hingga saat ini Kudus belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB),’’Kondisi masih terkendali. Belum ada kasus yang masuk ruang ICU atau kategori darurat (emergency),’’ tambahnya.

Sebagai langkah preventif, DKK Kudus telah menginstruksikan seluruh Puskesmas untuk melakukan skrining “jemput bola”. Petugas akan menyisir buku evaluasi pertumbuhan anak di Posyandu guna memastikan setiap balita telah mendapatkan hak vaksinasinya.

‘’Kami juga mengimbau masyarakat proaktif melaporkan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika menemukan gejala serupa pada anggota keluarga,’’ pungkasnya. (han/rit)




TERKINI




Rekomendasi

...