JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus menyiapkan konsep baru yang berbeda untuk merayakan Hari Jadi Kabupaten Kudus Ke-477 tahun ini. Perbedaannya, dengan memadukan nilai historis berdirinya Menara Kudus (Alun-Alun Kulon) dan pusat pemerintahan modern (Alun-Alun Wetan).
Sekda Kudus, Eko Djumartono didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah (Setda) Kabupaten Kudus, Jadmiko Muhardi Setiyanto, menyatakan bahwa rangkaian perayaan kali ini sengaja diselaraskan dengan momentum penemuan manuskrip sejarah yang tertanam di Menara Kudus.
‘’Langkah ini diambil untuk memperkuat identitas budaya sekaligus menyatukan dualisme historis yang ada di masyarakat,’’ ujar Jadmiko, Selasa (30/6).
Dijelaskan Jadmiko, konsep baru Hari Jadi Kudus terletak pada penyelarasan Dua Jantung Sejarah Kudus. Mulai dari memadukan esensi Alun-Alun Kulon (pusat religi/Menara Kudus) dengan Alun-Alun Wetan (pusat administrasi Pemkab).
Selain itu, mengakomodasi peringatan Ta’sis (berdirinya) Menara Kudus serta Hari Jadi resmi Pemkab Kudus dalam satu kesatuan festival. Kemudian seluruh narasi utama kegiatan akan bermula dan berakar dari sejarah berdirinya Menara Kudus.
Sedang agendanya, diantaranya bedah Manuskrip Sejarah berdirinya Kabupaten Kudus. Kegiatan tersebut dikemas dalam Forum Group Discussion (FGD) yang sengaja mengundang sejumlah narasumber, yakni Abdul Jawat Nur, Musadad, dan Inajati Adrisijanti.
Sekilas, Jadmiko menyebut bahwa Hari Jadi Kabupaten Kudus tertulis didalam manuskrip sejarah yang tersimpan di Masjid dan Menara Sunan Kudus. Disana, tertulis hari jadi Kudus jatuh pada 19 Rajab 956 H bertepatan 23 Agustus 1549.
‘’FGD itu nantinya akan menentukan hari jadi Kudus,’’ tuturnya.
Tidak hanya itu, di dalam rangkaian pesta rakyat tersebut, juga akan digelar kenduren massal sebagai penanda dimulainya Hari Jadi Kudus Ke-477 yang rencana akan digelar 23 Agustus 2026 mendatang.
‘’Sedang untuk puncaknya, masih tetap di tanggal 23 September ditandai Apel Hari Jadi,’’ kata Jadmiko.
Selain itu, juga ada pemecahan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) tari Lajur Caping Kalo terbanyak dengan jumlah peserta sekitar 600 penari. ’’Pemecahan rekor MURI ini bekerjasama dengan pihak swasta,’’ pungkasnya. (han/rit)






