Bupati Sam’ani Desak PG Rendeng Benahi Cerobong


JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Polusi asap dan debu akibat aktivitas musim giling tebu di Pabrik Gula (PG) Rendeng menuai keluhan serius dari masyarakat sekitar. Menanggapi hal tersebut, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris langsung mengambil langkah tegas dengan memerintahkan jajarannya untuk segera mengatasi masalah lingkungan tersebut.

Bupati Sam’ani menginstruksikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kudus untuk berkoordinasi secara intensif dengan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (PKPLH) serta manajemen PG Rendeng. Fokus utama koordinasi ini adalah melakukan perbaikan dan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi cerobong pabrik agar tidak lagi mencemari pemukiman warga.

‘’Kami memerintahkan Pak Sekda berkoordinasi dengan Dinas PKPLH untuk meminta PG Rendeng segera memperbaiki dan mengevaluasi kondisi cerobongnya,’’ tegas Sam’ani.

Sambung Sam’ani, Pemkab Kudus mengedepankan pendekatan kemitraan (partnership) agar roda ekonomi pabrik tetap berjalan, tanpa mengorbankan kesehatan warga. Sebagai solusi teknis, pihaknya menyarankan agar PG Rendeng meningkatkan sistem penyaringan udara pada cerobong mereka.


Baca juga:  Ojol di Kudus Diajak Jaga Kondusivitas Daerah

‘’Nanti ditambah filternya, mungkin dari satu menjadi dobel. Kedua, dipasang semprotan air untuk menangkap debu-debu biar tidak beterbangan,’’ tambahnya.

Pemkab Kudus pun berharap pihak manajemen PG Rendeng bisa segera melakukan pembenahan fisik tersebut demi kenyamanan bersama.

Sebelumnya, Aktivitas musim giling tebu di Pabrik Gula (PG) Rendeng, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, kembali memicu keluhan masyarakat sekitar. Menyusul debu sisa pembakaran yang terbawa angin, masuk ke permukiman dan terus-menerus mengotori rumah serta kendaraan warga.

Salah satu warga Desa Rendeng, Thoriq, mengungkapkan bahwa gangguan polusi debu ini selalu berulang setiap kali musim giling dimulai. Dampaknya kini mulai mengganggu kesehatan mata warga sekitar.

‘’Setiap musim giling begini, debunya kalau disapu itu lumayan banyak. Kalau kelilipan itu sakit, jadi harus beli obat mata,’’ ujar Toriq saat ditemui di kediamannya.

Baca juga:  Tiga Perdesaan di Kudus Dipacu jadi Desa Wisata

Dia pun menyayangkan belum adanya langkah pencegahan yang efektif dan berharap pihak manajemen segera meningkatkan upaya antisipasi agar operasional pabrik tidak merugikan lingkungan.

Menanggapi keluhan tersebut, Wakil Manager Teknis PG Rendeng, Yuke Adetya, menjelaskan bahwa debu tersebut berasal dari fly ash (abu ringan, red) hasil pembakaran biomassa ampas tebu pada mesin boiler.

Secara teknis, pabrik sebenarnya telah dilengkapi alat Electrostatic Precipitator (ESP) dengan dua filter kompartemen, untuk menangkap abu tersebut. Namun, optimalisasi alat penangkap debu itu saat ini masih terkendala masalah teknis.

‘’Pengaturan arus listrik pada ESP saat ini masih dibatasi karena ada kekhawatiran kondisi trip (anjlok) pada perangkat. Jika arus dinaikkan terlalu tinggi, dikhawatirkan sistem mengalami gangguan yang justru mengganggu operasional,’’ terang Yuke. (han/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...