JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Pemkab Kudus terus memacu peningkatan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM). Salah satu langkah strategis yang diambil adalah dengan menggelar bimbingan teknis (bimtek) penulisan, bagi ratusan guru sekolah menengah pertama (SMP) negeri dan swasta se-Kabupaten Kudus.
Bunda Literasi Kabupaten Kudus, Endhah Sam’ani Intakoris, menegaskan bahwa guru harus menjadi garda terdepan dalam menumbuhkan minat baca siswa. Selain itu, guru dituntut menjadi teladan nyata sebelum mengajak anak didiknya mencintai buku
‘’Semua guru dilatih untuk menulis. Ketika menulis, pasti mereka harus mau membaca dulu. Minat baca di kalangan guru harus menjadi teladan bagi anak didiknya,’’ ujar Endhah, di sela acara bimtek di SMP 1 Kudus, Rabu (19/8).
Sambungnya, gerakan literasi ini tidak hanya menyasar tenaga pendidik, tetapi juga mendorong aktivasi seluruh lini fasilitas baca. Kata Endhah, tercatat ada 27 SMP negeri dan 28 SMP swasta di Kudus, yang terlibat aktif dalam program ini.
Dengan demikian, Endhah pun berharap pergerakan serentak antara sekolah, taman bacaan, dan perpustakaan desa mampu mendongkrak capaian literasi daerah secara meluas.
‘’Jika semua bergerak bareng, mulai dari SMP, taman bacaan, hingga perpustakaan desa, insyaallah literasi di Kudus akan semakin meningkat,’’ ungkapnya.
Di sisi lain, Kepal Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Provinsi Jawa Tengah, Rahmah Nur Hayati, yang turut hadir menjelaskan bahwa peningkatan IPLM kini menjadi salah satu indikator kinerja utama pemerintah daerah.
‘’Jadi, kolaborasi lintas sektoral antara Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades), serta OPD lainnya terus diperkuat,’’ tuturnya.
Lanjut Rahmah, pemerintah menargetkan kebijakan satu desa satu perpustakaan, serta mewajibkan setiap jenjang sekolah memiliki fasilitas perpustakaan yang representatif. Perpustakaan modern kini dituntut untuk bertransformasi dan tidak lagi sekadar menjadi tempat peminjaman buku konvensional.
‘’Perpustakaan harus menjadi pusat belajar, pusat pemberdayaan, dan pusat kreativitas. Sekolah juga harus mampu mengajak masyarakat sekitar memanfaatkan koleksi yang ada, baik secara langsung maupun lewat platform digital. Dan digitalisasi dan transformasi perpustakaan, kini sudah menjadi suatu keharusan,’’ pungkasnya. (han/rit)









