230 Siswa Gembong Diduga Keracunan Usai Santap MBG


JATENGPOS.CO.ID, PATI — Sebanyak 230 siswa dari dua sekolah di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (8/9). Mereka mengalami sejumlah keluhan kesehatan dan harus mendapatkan penanganan medis pada Rabu (9/9).

Dua sekolah yang terdampak yakni MTsN 3 Pati dan SMPN 1 Gembong. Berdasarkan data sementara dari pihak sekolah, sebanyak 127 siswa MTsN 3 Pati dan 103 siswa SMPN 1 Gembong mengalami keluhan kesehatan.

Suasana tegang terlihat di Puskesmas Gembong, Rabu pagi. Puluhan siswa berseragam batik dan merah kotak-kotak berdatangan menggunakan ambulans ke Unit Gawat Darurat (UGD). Sejumlah siswa tampak menangis sambil memegangi perut karena menahan sakit.

Keluhan yang dialami antara lain mual, muntah, pusing, sakit perut, dan diare. Karena kapasitas Puskesmas Gembong tidak mencukupi, sebagian siswa kemudian dirujuk ke sejumlah fasilitas kesehatan, di antaranya RSUD RAA Soewondo Pati, RS Mitra Bangsa, dan KSH Pati.

Kepala MTsN 3 Pati, Zaenal Arifin, mengatakan sebanyak 127 siswa dari total 565 peserta didik di sekolahnya terdampak. Selain siswa, guru yang turut mengonsumsi makanan MBG juga dilaporkan mengalami keluhan serupa.

“Penanganan di puskesmas, yang ringan-ringan belum terdata. Ada 120 siswa dan 27 guru yang terdata keracunan, dan ini masih proses,” ujar Zaenal.

Ia menjelaskan, makanan MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gembong 1 Ngembes seharusnya diterima siswa sekitar pukul 11.20 WIB. Namun, makanan baru tiba sekitar pukul 12.00 WIB lebih.

“MBG dari SPPG ini datangnya terlambat, sekitar jam 12-an. Anak-anak yang biasanya jadwal makan jam 11.20, sampai jam 12 belum datang,” katanya.

Keterlambatan tersebut membuat para siswa terlebih dahulu melaksanakan salat Dzuhur sebelum makanan dibagikan.

Menu MBG yang disantap siswa berupa nasi bakar ayam suwir, telur ceplok, orek tempe, lalapan, kerupuk udang, dan semangka.

Menurut Zaenal, tidak ada siswa yang mengeluhkan rasa makanan tersebut saat dikonsumsi. Bahkan, sebagian siswa menilai menu yang diberikan enak dan ada yang meminta tambahan.

Baca juga:  Bunda Literasi Kudus Dorong Penulis Angkat Budaya Lokal

“Anak-anak kemarin malah merasakan enak, ada yang sampai nambah. Ada anak yang tidak masuk, jatahnya dimakan temannya,” ungkapnya.

Keluhan kesehatan mulai dirasakan sejumlah siswa beberapa jam setelah mengonsumsi makanan. Zaenal menyebut gejala mulai muncul sekitar pukul 23.00 WIB berupa sakit perut dan diare yang berulang hingga Rabu pagi.

“Mulai jam 23.00 WIB itu mulai sakit perut, kemudian berak ke belakang (diare), dari sering sampai tadi pagi anaknya,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 1 Gembong, Istiana, mengatakan pihak sekolah baru mengetahui adanya keluhan siswa pada Rabu pagi. Awalnya, sejumlah siswa mengeluhkan sakit perut dan berulang kali pergi ke kamar mandi.

“Awal ketahunya malah tadi pagi. Anak-anak banyak yang ke kamar mandi. Kemudian semakin siang semakin banyak,” kata Istiana.

Dari total 443 siswa SMPN 1 Gembong, sebanyak 103 siswa dilaporkan mengalami keluhan. Selain siswa, sekitar 13 guru yang turut mengonsumsi menu MBG juga dilaporkan terdampak.

“Tadi Puskesmas sudah overload, kemudian di RSUD Soewondo Pati, kemudian juga di RS Mitra Bangsa, ada juga di KSH Pati,” jelas Istiana.

Salah seorang siswa SMPN 1 Gembong, Aufa, mengaku tidak merasakan sesuatu yang aneh ketika menyantap makanan tersebut. Namun, setelah pulang sekolah, ia mulai mengalami mual, diare, dan pusing.

“Waktu makan tidak ada yang rasanya aneh, rasanya normal. Tapi habis makan agak mual sedikit. Lalu saat di rumah saya diare dan pusing. Lumayan parah. Sehari kemarin sampai pagi ini saya sampai BAB lima kali dan mencret,” ungkapnya.

Aufa mengatakan kejadian tersebut merupakan kali pertama dirinya mengalami keluhan setelah mengonsumsi menu MBG. Setelah mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Gembong, kondisinya mulai membaik.

Sementara itu, siswi MTsN 3 Pati, Nehisa, juga mengaku mengalami mual, pusing, dan diare setelah menyantap menu MBG.

Baca juga:  143 Nakes di Kabupaten Kudus Terpapar COVID-19

“Kemarin juga ikut makan, rasanya juga enak, menunya nasi bakar. Setelah makan terasa mual dan pusing, terus diare. Itu dirasakan kemarin sore,” tuturnya.

Meski sempat mengalami sejumlah keluhan, kondisi Nehisa mulai membaik setelah mendapatkan penanganan.

Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo, menegaskan penyebab munculnya keluhan kesehatan tersebut belum dapat dipastikan. Dinkes masih menyebutnya sebagai dugaan keracunan makanan yang berkaitan dengan menu MBG.

“Ini dugaan ya, dugaan kermak dari makanan MBG yang disajikan kemarin, tapi sekali lagi ini masih dugaan,” tegas Luky.

Dinkes Pati saat ini melakukan penyelidikan epidemiologis (PE) untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.

“Tim kami sedang melakukan PE atau penyelidikan epidemiologis. Jadi kami belum bisa memastikan dan menyampaikan kepada teman-teman semua terkait dengan penyebabnya seperti apa,” ujarnya.

Selain melakukan PE, petugas juga mengambil sampel makanan yang disajikan melalui SPPG Gembong 1 Ngembes untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.

“Sampel tentunya makanan yang disajikan kemarin semuanya. Kita ambil dari bank sampel yang ada di SPPG,” jelas Luky.

Ia menambahkan, jumlah korban masih dapat berubah karena proses pendataan dan sinkronisasi dengan fasilitas kesehatan masih berlangsung.

“Data kita masih dinamis, jadi kami belum bisa memastikan berapa jumlahnya. Data akan kita update berdasarkan sinkronisasi kami dengan faskes yang ada di Soewondo, Mitra, dan juga KSH,” katanya.

Luky memastikan penanganan terhadap para siswa masih berjalan. Sebagian siswa yang kondisinya membaik bahkan telah diperbolehkan pulang.

“Yang di sekolah masih bisa tertangani, bahkan beberapa sudah ada yang pulang,” ungkapnya.

Untuk sementara, kegiatan pembelajaran di kedua sekolah dihentikan dan para siswa dipulangkan sembari menunggu perkembangan kondisi serta hasil pemeriksaan.

Dinkes Pati memperkirakan hasil penyelidikan epidemiologis dan pemeriksaan laboratorium baru dapat diketahui dalam waktu sekitar satu hingga dua pekan.

“Sekitar satu-dua mingguan kita baru bisa (mengetahui hasilnya),” pungkas Luky.(Ida/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...