JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Loekmono Hadi Kudus mulai memperketat pengaturan ruang perawatan, seiring melonjaknya keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) yang kini hampir mendekati 80 persen. Lonjakan ini salah satunya dipicu oleh tren kenaikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), baik pada pelayanan rawat jalan maupun rawat inap.
Plt Direktur RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, dr. Andini Aridewi, mengungkapkan bahwa total keterisian rumah sakit saat ini berada di angka 78 hingga 79 persen secara keseluruhan. Kendati demikian, ia memastikan manajemen rumah sakit tetap melakukan pengaturan taktis agar seluruh masyarakat yang membutuhkan pelayanan medis tetap terakomodasi dengan baik.
‘’BOR kita sudah hampir mendekati 80 persen, tepatnya di kisaran 78 sampai 79 persen. Tetap kita atur karena masing-masing ruang pembangunan itu ada fungsinya sendiri-sendiri. Artinya, kita jaga agar masyarakat yang membutuhkan tetap bisa kita layani,’’ ujar dr. Andini, saat ditemui Rabu (23/9).
Ia menambahkan, angka 79 persen tersebut merupakan akumulasi total. Di lapangan, keterisian ruang perawatan sangat bergantung pada jenis kasus penyakit pasien, sehingga tidak semua ruangan terisi penuh hingga 80 persen.
Terkait peningkatan kasus ISPA, dr. Andini memaparkan bahwa tren kenaikan mulai terlihat sejak bulan Juli dan memuncak pada bulan Agustus hingga September 2026. Berdasarkan data rumah sakit per 18 September 2026, total pasien ISPA yang ditangani telah mencapai 107 kasus.
Secara rinci, pada bulan Juli tercatat ada 30 kasus (5 rawat inap, 25 rawat jalan). Angka ini melonjak di bulan Agustus menjadi 43 kasus (18 rawat inap, 25 rawat jalan). Sementara itu, hanya dalam kurun waktu kurleb dua minggu di bulan September (1–18 September), rumah sakit sudah menangani 34 kasus (10 rawat inap, 24 rawat jalan).
Meskipun terjadi tren kenaikan yang konstan dalam tiga bulan terakhir, dr. Andini menyebutkan bahwa lonjakan kasus ISPA di RSUD secara umum belum dikategorikan sebagai lonjakan yang ekstrem atau signifikan secara masif. Hal ini karena sebagian besar pasien ISPA di area Kudus tersebar di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk poli spesialis dan rumah sakit lain.
‘’Kenaikannya tidak yang sangat signifikan. Secara keseluruhan, pasien di area Kudus masuk ke poli spesialis dan rawat inap. Untuk data riil secara makro di seluruh wilayah, data keseluruhannya ada di Dinas Kesehatan,’’ pungkasnya. (han/rit)




