Santri Didorong Kuasai Teknologi dan Wirausaha


JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Santri zaman sekarang didorong tidak hanya fokus menguasai ilmu agama, tetapi juga lihai berwirausaha, adaptif, serta cakap menguasai teknologi modern. Penguatan kompetensi mutakhir tersebut dinilai krusial, agar lulusan pesantren mampu mandiri secara ekonomi sekaligus berkontribusi aktif bagi kemajuan masyarakat.

Pesan tegas itu mengemuka dalam forum Simfoni Inspirasi Hari Santri yang diinisiasi oleh Arus Informasi Santri Nusantara (AISNU) Kudus di Kedai Joglo Maqha, Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus, Selasa (13/10). Kegiatan ini dihadiri lebih dari 200 peserta dari kalangan santri, mahasiswa, hingga warga sekitar.

Pengusaha muda berlatar belakang santri asal Kabupaten Jepara, Jadug Tri Mulyo, menegaskan bahwa latar belakang pesantren sama sekali tidak membatasi ruang gerak seseorang untuk berkarier di berbagai sektor, baik sebagai pengusaha, pendakwah, maupun pemimpin daerah.

Baca juga:  Bantu Warga Dapatkan Sembako Murah, Pemkab Pati Gelar Pasar Murah Jelang Idul Fitri

‘’Santri harus tetap semangat belajar dan tidak anti terhadap hal-hal baru. Jangan menjadi pribadi yang kolot, tetapi harus terbuka terhadap perkembangan zaman,’’ tegas Tri saat menjadi narasumber, Selasa malam.

Secara khusus, ia menyoroti pentingnya penguasaan artificial intelligence (AI) dan teknologi digital. Menurutnya, santri tidak boleh sekadar menjadi konsumen atau pengguna pasif, melainkan harus mendalami dan mengembangkan teknologi demi melahirkan inovasi baru karya anak bangsa.

‘’Kami juga mendorong pemerintah memberikan dukungan kebijakan nyata terhadap produk-produk teknologi lokal,’’ ujarnya.

Sementara Ketua Fatayat NU Jawa Tengah, Tazkiyyatul Muthmainnah, menyoroti penguatan tiga fungsi mendasar pesantren, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

‘’Kewirausahaan perlu diperkuat dalam kurikulum pesantren. Santri harus terus belajar, bekerja keras, adaptif, serta menguasai teknologi, bahasa, dan public speaking. Bekal ini vital di era digital agar tidak mudah dibohongi,’’ tutur Tazkiyyatul.

Baca juga:  Kehadiran Ayah Gamas Bangkitkan Percaya Diri Anak

Selain aspek kemandirian ekonomi, Tazkiyyatul memberikan catatan kritis terkait penciptaan lingkungan pesantren yang aman dan bebas dari tindak kekerasan seksual. Ia menegaskan, tidak ada satu pun ajaran agama yang membenarkan tindakan amoral tersebut.

Ia memaparkan bahwa Fatayat NU melalui Lembaga Konsultasi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (LKP3A) terus aktif memberikan pendampingan hukum dan psikologis bagi korban sejak 2016, termasuk menangani kasus-kasus sensitif di wilayah Jawa Tengah hingga pelaku dijatuhi vonis pidana.

‘’Melalui momentum refleksi 11 tahun Hari Santri ini, penguatan kapasitas intelektual dan ekonomi santri diharapkan berjalan selaras dengan penciptaan ekosistem pesantren yang inklusif, adaptif, dan aman bagi seluruh peserta didik,’’ pungkasnya. (han/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...